JAKARTA, Exposenews.id – Siapa sangka, pemandangan kabel semrawut yang selama ini jadi “hiasan” di langit Jakarta sebentar lagi bakal segera hilang? Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta ternyata tidak main-main. Mereka telah menyiapkan anggaran jumbo, yakni Rp 90 miliar, untuk membangun Sarana Jaringan Utilitas Terpadu (SJUT) di sejumlah ruas jalan. Tujuannya jelas, yakni menata kabel yang selama ini bergelantungan di atas jalan agar bisa dipindahkan ke bawah tanah. Dengan begitu, Ibu Kota pun perlahan berbenah diri.
Anggaran Rp 90 Miliar untuk 10 Ruas Jalan Strategis
Kepala Dinas Bina Marga DKI Jakarta, Suwondo, mengungkapkan bahwa anggaran Rp 90 miliar tersebut bakal dipakai untuk membangun SJUT sepanjang belasan kilometer. “Jadi anggaran kami untuk membangun SJUT ini adalah Rp 90 miliar di 10 ruas jalan, sepanjang 16,9 kilometer,” kata Suwondo saat mendampingi Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung meninjau penataan SJUT di kawasan Tebet, Jakarta Selatan, Kamis (10/9/2026). Pernyataan itu ia sampaikan dengan gamblang, tanpa basa-basi.
Lebih lanjut, Suwondo menyebut bahwa pembangunan SJUT tersebut tersebar di sejumlah ruas jalan di Jakarta. Adapun ruas jalan yang masuk dalam penataan sebagai berikut: MT Haryono, Gatot Subroto, Dr. Supomo, Abdullah Syafei, Saharjo, Pemuda, Otista, Tebet Barat Dalam Raya, Matraman, dan Jatinegara. Jadi, bukan hanya satu atau dua jalan, melainkan sepuluh ruas sekaligus. Tentu saja, ini menjadi langkah besar untuk membuat kota ini lebih rapi.
Dengan pembangunan SJUT, kabel-kabel yang berada di atas jalan akan ditata dan dipindahkan ke bawah tanah. Salah satu lokasi pembangunan SJUT saat ini berada di kawasan Tebet, Jakarta Selatan. Pekerjaan di lokasi tersebut ditargetkan selesai pada Desember 2026. Artinya, dalam waktu dekat, kawasan Tebet bakal menjadi contoh bagaimana kabel-kabel yang semrawut bisa ditata sedemikian rupa.
Rekayasa Lalu Lintas dan Target Lima Tahun Gubernur Pramono
Selama pembangunan berlangsung, Dinas Bina Marga berkoordinasi dengan Dinas Perhubungan (Dishub) DKI Jakarta untuk mengatur lalu lintas di sekitar lokasi pekerjaan. “(Rekayasa lalin) dilakukan. Karena kami selalu berkoordinasi dengan Dishub. Jadi semua kegiatan kami yang ada di badan jalan, kami lakukan rekayasa lalu lintas bersama Dinas Perhubungan,” kata Suwondo. Ia menegaskan bahwa rekayasa lalu lintas menjadi prioritas agar masyarakat tetap nyaman beraktivitas.
Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, mengatakan bahwa penataan kabel tersebut merupakan bagian dari rencana jangka panjang Pemprov DKI. Bahkan, ia menargetkan seluruh kabel yang masih berada di permukaan Jakarta dapat dipindahkan ke bawah tanah dalam waktu lima tahun. “Saya terus terang mem-planning-kan dalam lima tahun semua kabel-kabel yang ada di permukaan itu bisa diturunkan,” kata Pramono. Target ini bukan isapan jempol belaka, melainkan komitmen yang ia canangkan sejak awal.
Menurut Pramono, target tersebut mencakup sekitar 6.500 kilometer kabel yang harus ditangani. Jika kabel-kabel tersebut berhasil diturunkan, Jakarta akan menjadi lebih rapi. “Kalau itu bisa diturunkan, maka wajah Jakarta pasti akan sangat berbeda,” kata dia. Bayangkan saja, 6.500 kilometer kabel yang saat ini menjuntai di udara akan segera menghilang. Tentu saja, pemandangan kota akan jauh lebih enak dipandang.
Peluang Bisnis dan Kolaborasi Pemerintah-Swasta
Terdapat dua jenis kabel yang berada di atas jalan, yakni kabel telekomunikasi dan kabel listrik. Saat ini, kabel telekomunikasi sudah mulai dapat dipindahkan ke bawah tanah. Sementara kabel listrik masih membutuhkan waktu karena perlu persiapan teknis. “Memang yang sekarang ini yang sudah bisa diturunkan adalah kabel-kabel yang berkaitan dengan komunikasi. Sedangkan kabel yang berkaitan dengan listrik masih memerlukan waktu,” ujar Pramono. Jadi, meskipun belum semua bisa diturunkan, setidaknya sudah ada progres yang nyata.
Penataan kabel tidak hanya akan mengandalkan anggaran pemerintah. Pemprov DKI juga akan melibatkan BUMD dan pihak swasta dalam program tersebut. “Maka keterlibatan swasta sangat diperlukan untuk ini secara bersama-sama karena payung hukumnya sudah ada,” kata Pramono. Dengan begitu, kolaborasi antara pemerintah dan swasta menjadi kunci suksesnya program ini.
Penataan kabel juga memiliki peluang bisnis sehingga pihak swasta dapat ikut terlibat dalam pembangunan SJUT di Jakarta. Jadi, bukan hanya soal estetika, tetapi juga soal ekonomi. Maka dari itu, program ini tidak hanya menguntungkan secara visual, tetapi juga membuka lapangan kerja dan investasi baru.
Pada akhirnya, program SJUT ini menjadi bukti bahwa Pemprov DKI Jakarta serius ingin mengubah wajah kota. Dengan anggaran Rp 90 miliar, 10 ruas jalan, dan target 6.500 kilometer kabel, Jakarta menuju kota yang lebih bersih, rapi, dan modern. Masyarakat pun berharap program ini berjalan lancar tanpa hambatan berarti. Sebab, siapa yang tidak ingin melihat Jakarta tanpa kabel semrawut? Semua pasti setuju, kota ini layak tampil lebih cantik.
Dapatkan juga berita teknologi terbaru hanya di newtechclub.com





