PEKANBARU, Exposenews.id – Angka penderita Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) di Provinsi Riau sepanjang 2026 masih meroket ke level yang sangat mengkhawatirkan!

Dinas Kesehatan Provinsi Riau baru saja merilis data mengejutkan yang mencatat sedikitnya 237.835 kasus ISPA telah menyerang masyarakat di wilayah tersebut. Tak hanya itu, ratusan kasus pneumonia pada balita ikut menambah daftar panjang tragedi kesehatan yang kini menjadi perhatian serius banyak pihak.
Parahnya lagi, kondisi darurat kesehatan ini semakin memburuk seiring dengan munculnya kembali kabut asap tebal akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) dalam beberapa waktu terakhir. Asap pekat itu bahkan sempat menurunkan drastis kualitas udara di sejumlah wilayah, termasuk di Ibu Kota Provinsi Riau, Kota Pekanbaru.
Langit pekanbaru sempat hitam pekat, ini faktanya
Lantas, seberapa parah sebenarnya kondisi kabut asap yang melanda Pekanbaru?
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Pekanbaru mendeteksi kabut asap dari karhutla mulai menyelimuti wilayah tersebut dan mencatatkan kualitas udara yang sempat menyentuh level berbahaya.
Kepala BMKG Stasiun Pekanbaru, Warjono, mengungkapkan fakta mencengangkan bahwa kondisi terparah terpantau di sekitar Bandara Sultan Syarif Kasim II Pekanbaru. Di lokasi tersebut, indeks partikel halus (PM 2,5) melonjak hingga mencapai 276 mikrogram per meter kubik – angka yang sangat membahayakan kesehatan!
“Tadi pagi terutama di bandara terpantau asap masuk ke wilayah Kota Pekanbaru dan kualitas udaranya terpantau sampai berwarna hitam atau berbahaya. Kemungkinan ini adalah asap yang berasal dari Pelalawan karena di sana banyak titik api,” jelas Warjono di Pekanbaru, Selasa (18/8/2026).
Saking pekatnya, kabut asap tersebut sempat mengubah langit Pekanbaru menjadi gelap dan suram dalam waktu singkat. Namun, Warjono memastikan bahwa kondisi mengerikan itu tidak berlangsung lama. Hanya sekitar pukul 08.00 hingga 09.00 WIB, kualitas udara berada pada titik terburuknya.
Setelah rentang waktu kritis itu, perubahan arah dan kecepatan angin berhasil mengurai sebaran asap sehingga kondisi udara perlahan kembali membaik.
“Akan tetapi, lanjutnya, kondisi asap tersebut tidak berlangsung lama yakni dari pukul 08.00 hingga 09.00 Waktu Indonesia Barat. Hal ini disebabkan oleh angin yang cukup kencang sehingga asapnya dengan cepat memudar,” terangnya lebih lanjut.
Setelah kondisi berangsur membaik, kualitas udara Kota Pekanbaru kembali berada pada level sedang yang ditandai dengan warna biru dan asap tidak lagi terdeteksi secara signifikan di atmosfer.
Gambut membara dan puluhan titik api jadi biang keladi
Lalu, apa sebenarnya yang menjadi biang keladi utama kabut asap mematikan di Riau ini?
BMKG mencatat bahwa kabut asap tidak hanya terjadi di Pekanbaru, tetapi bahkan lebih pekat lagi di Kabupaten Pelalawan yang menjadi episentrum sumber kebakaran.
“Selain Kota Pekanbaru, kondisi asap juga menyelimuti Kabupaten Pelalawan yang lebih pekat karena merupakan sumber asalnya,” ungkap Warjono dengan nada prihatin.
Ia menjelaskan fakta mencengangkan bahwa saat itu terpantau sekitar 75 titik panas menyebar di seluruh wilayah Riau. Konsentrasi terbesar justru berada di Pelalawan yang mencapai sekitar 30 titik api – hampir setengah dari total keseluruhan!
“Hal itu terjadi karena di Riau terpantau 75 titik panas dan paling banyak di Pelalawan sampai 30 titik. Kebakaran masih terjadi di Kerumutan, daerahnya sulit dijangkau dan tanahnya gambut,” ujarnya.
Menurutnya, kondisi lahan gambut di wilayah tersebut menjadi faktor utama yang membuat api lebih sulit dipadamkan. Tanah gambut memiliki karakteristik unik yang mudah menyimpan panas dan mempercepat penyebaran kebakaran di bawah permukaan tanah – sebuah ancaman tersembunyi yang terus membara tanpa terdeteksi secara kasat mata.
Kelompok rentan paling terancam, ini imbauan dari dinas kesehatan
Dampak kabut asap terhadap kesehatan masyarakat pun tak bisa dianggap remeh!
Kondisi kabut asap yang sempat mencapai level berbahaya ini terbukti berkontribusi signifikan terhadap peningkatan risiko gangguan kesehatan, khususnya penyakit pernapasan mematikan seperti ISPA dan pneumonia.
Kelompok rentan seperti anak-anak kecil, balita yang masih polos, lansia yang daya tahan tubuhnya menurun, hingga penderita penyakit pernapasan menjadi pihak yang paling babak belur terdampak akibat paparan partikel halus yang beterbangan di udara.
Data mengejutkan dari Dinas Kesehatan Riau menunjukkan bahwa sepanjang 2026 terdapat 237.835 kasus ISPA dan 629 kasus pneumonia pada balita – angka yang membuat siapa pun bergidik ngeri!
Meskipun jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya, angka ISPA di Riau pada 2025 bahkan mencapai 603.480 kasus dengan 1.312 kasus pneumonia pada balita, penurunan tidak serta merta membuat kita bisa bernapas lega karena jumlahnya tetap mengkhawatirkan.
Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Riau, Zulkifli, menekankan dengan tegas bahwa kondisi udara yang buruk dapat berdampak langsung terhadap kesehatan, terutama pada kelompok rentan yang menjadi prioritas utama perlindungan.
“Untuk kelompok rentan seperti lansia, balita dan masyarakat yang memiliki riwayat penyakit pernapasan, sebaiknya mengurangi aktivitas di luar rumah,” kata Zulkifli dengan nada memperingatkan, Rabu (19/8/2026).
“Kalau memang harus keluar rumah, gunakan masker. Kemudian banyak minum air putih dan konsumsi vitamin untuk meningkatkan daya tahan tubuh,” tambahnya memberikan solusi praktis.
Zulkifli juga mengimbau masyarakat untuk terus memantau informasi kualitas udara melalui aplikasi atau situs resmi BMKG, sehingga bisa mengantisipasi kondisi buruk dengan lebih baik.
Pemerintah daerah pun terus berupaya melakukan pemadaman kebakaran hutan dan lahan, meskipun tantangan di lapangan sangatlah berat mengingat kondisi geografis yang sulit dijangkau dan karakteristik tanah gambut yang mudah terbakar.
Masyarakat diharapkan tidak melakukan pembakaran lahan dengan cara apapun dan segera melaporkan jika melihat adanya titik api di sekitar lingkungan mereka.
Selain itu, pengawasan dan patroli rutin terus dilakukan untuk mencegah meluasnya kebakaran hutan dan lahan yang menjadi sumber utama kabut asap tersebut.
Kerjasama antara pemerintah, TNI, Polri, dan masyarakat sangat diperlukan untuk menanggulangi bencana tahunan yang terus berulang ini.
Para ahli lingkungan menekankan pentingnya pendidikan dan kesadaran masyarakat akan bahaya karhutla yang tidak hanya merusak ekosistem, tetapi juga mengancam nyawa manusia.
Dengan segala upaya yang dilakukan, diharapkan Riau bisa terbebas dari belenggu kabut asap yang setiap tahun datang bergulir dan merenggut kesehatan ribuan warganya.
Sementara itu, masyarakat dihimbau untuk tetap waspada dan menerapkan protokol kesehatan yang dianjurkan, terutama bagi yang memiliki riwayat penyakit pernapasan.
Mari kita jaga bersama lingkungan dan kesehatan kita demi masa depan yang lebih baik dan cerah tanpa asap mematikan!
Dapatkan juga berita teknologi terbaru hanya di newtechclub.com





