JAKARTA, Exposenews.id – Badai penurunan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS kini membawa ancaman nyata yang siap membakar angka inflasi, melambungkan ongkos produksi pabrik, hingga memangkas daya beli masyarakat secara drastis.
Berdasarkan catatan pasar uang Bloomberg pada penutupan Selasa dua puluh tujuh Oktober dua ribu dua puluh enam, posisi rupiah terperosok hingga menyentuh angka Rp18.156 per dolar AS setelah melorot nol koma dua belas persen dari hari sebelumnya.
Guncangan hebat ini langsung terjadi lantaran kejatuhan nilai rupiah membuat harga barang-barang impor dan pasokan bahan baku industri menjadi jauh lebih mahal.
Bahkan situasi buruk tersebut semakin parah karena lonjakan harga minyak mentah dunia yang terus menggelembung di atas seratus dolar AS per barel menyusul memanasnya konflik geopolitik di kawasan Timur Tengah.
Menanggapi situasi gawat ini, Ekonom Utama Bank Permata Josua Pardede menegaskan bahwa tren perlemahan rupiah secara berkepanjangan akan terus memicu kenaikan inflasi akibat pembengkakan biaya impor energi, pasokan pabrik, barang modal, obat-obatan, hingga barang konsumsi harian.
“Oleh sebab itu, para pengusaha kini menanggung impitan ganda akibat lonjakan harga berbasis dolar AS dan pelemahan nilai tukar mata uang secara bersamaan,” papar Josua pada Senin dua puluh enam Oktober dua ribu dua puluh enam.
Menurut analisis Josua, pada fase awal para pelaku usaha mungkin masih sanggup menahan ledakan biaya produksi dengan cara memangkas margin keuntungan bersih mereka.
Namun demikian, jika tekanan moneter ini terus berlanjut selama berbulan-bulan, maka produsen mau tidak mau bakal menimpakan beban kenaikan biaya tersebut langsung kepada para konsumen.
Oleh karena itu, masyarakat wajib meningkatkan kewaspadaan mengingat tingkat inflasi tahunan pada September dua ribu dua puluh enam sudah merambat naik hingga mencapai angka tiga koma dua puluh delapan persen.
Angka yang mengkhawatirkan tersebut kini sudah sangat mendekati ambang batas atas sasaran inflasi yang telah ditetapkan oleh Bank Indonesia yaitu sebesar tiga koma lima persen.
Selanjutnya, Josua menjelaskan bahwa hantaman dari merosotnya nilai rupiah ini bakal melukai daya beli warga secara tidak merata di lapangan.
Akibatnya, masyarakat berpenghasilan rendah menduduki posisi paling rentan karena hampir seluruh isi dompet mereka tersedot hanya untuk membeli bahan makanan pokok.
Bahkan catatan resmi mengenai pola konsumsi rumah tangga memperlihatkan bahwa kelompok masyarakat miskin mengalokasikan sekitar enam puluh empat koma enam persen anggarannya hanya demi menyambung hidup dengan membeli makanan.
Padahal jika kita membandingkan dengan angka rata-rata nasional, porsi belanja pangan masyarakat Indonesia berada di kisaran empat puluh sembilan koma delapan persen.
Artinya, warga kelas bawah pasti terpukul paling keras saat harga kebutuhan pokok melambung akibat pembengkakan biaya bahan bakar dan ongkos distribusi barang.
“Lantas, risiko terbesar yang membayangi kita bukan sekadar angka inflasi yang menanjak, melainkan hancurnya daya beli nyata warga yang akan merontokkan konsumsi harian, penjualan bisnis, hingga pertumbuhan ekonomi nasional,” tegas Josua.
Maka dari itu, dia mendesak agar langkah penyelamatan rupiah harus berjalan seiring dengan pengetatan harga pangan, kestabilan energi, serta penyaluran bantuan sosial yang jauh lebih akurat.
Biaya Impor dan Beban Fiskal Meningkat
Senada dengan pandangan tersebut, Peneliti CORE Indonesia Yusuf Rendy Manilet mengingatkan bahwa dampak perlemahan mata uang nasional akan menjalar secara bertahap jika goncangan kurs ini dibiarkan memanjang.
Menurut pengamatan Yusuf, efek domino lonjakan harga kini sudah mulai menggerogoti beberapa bahan pangan utama serta komoditas bahan bakar non-subsidi di pasaran.
Sebagai contoh nyata, bahan bakar jenis Dexlite saja sudah mengalami lonjakan harga yang sangat drastis hingga mencapai dua puluh persen dalam durasi satu bulan terakhir.
“Sebab, rupiah yang terus terperosok bakal otomatis mengerek harga komoditas impor penting seperti gandum dan kedelai serta membengkakkan dana pengadaan bahan bakar nasional,” ungkap Yusuf.
Kemudian, kenaikan modal awal tersebut pasti menjalar cepat membakar harga barang jadi di toko-toko serta melambungkan tarif moda transportasi masyarakat.
Di samping itu, kejatuhan kurs rupiah juga berpotensi besar merobek anggaran negara lantaran pembengkakan dana subsidi serta kompensasi sektor energi.
“Apalagi korporasi yang menanggung utang luar negeri dalam dolar bakal menanggung beban cicilan yang melonjak sangat tajam,” tambah Yusuf.
Oleh sebab itu, Yusuf menilai warga kelas menengah ke bawah akan menanggung beban paling berat karena porsi belanja bulanan mereka didominasi oleh urusan perut dan ongkos perjalanan harian.
“Akibatnya, di tengah kondisi ekonomi warga yang belum pulih total, guncangan harga baru ini bisa langsung memadamkan mesin konsumsi rumah tangga,” terang Yusuf.
Memang betul, di sisi lain para pelaku usaha eksportir berpeluang meraup keuntungan besar dari pelemahan rupiah ini karena hasil penjualan dolar mereka berubah menjadi tumpukan rupiah yang lebih banyak.
Meskipun demikian, keuntungan melimpah tersebut ternyata tidak serta-merta bisa dinikmati secara maksimal oleh para pengusaha ekspor.
Pasalnya, banyak industri ekspor nasional yang masih menggantungkan nasibnya pada bahan baku dan mesin impor yang harganya ikut melonjak tinggi saat rupiah terpuruk.
BI dan Pemerintah Perlu Menjaga Stabilitas Rupiah
Mengenai celah kebijakan moneter, Yusuf mengapresiasi langkah tegas Bank Indonesia yang tetap menahan suku bunga acuan di level lima koma tujuh puluh lima persen serta menaikkan suku bunga Deposit Facility hingga lima persen.
Kendati demikian, otoritas moneter wajib mempertahankan ruang penyesuaian suku bunga jika bank sentral Amerika Serikat atau The Fed kembali memberikan sinyal pengetatan moneter yang agresif.
Di sisi lain, strategi memperkuat perisai rupiah juga harus memperhitungkan risiko penyusutan cadangan devisa negara agar tidak tergerus habis.
Lantas, Yusuf menegaskan bahwa peran aktif pemerintah menjadi kunci vital untuk menjaga kepercayaan para investor sekaligus meredam amukan gejolak nilai tukar.
Oleh karena itu, pemerintah harus konsisten mengawal disiplin anggaran, menyampaikan pembiayaan program raksasa secara transparan, serta segera memberesi catatan kritis dari Morgan Stanley Capital International mengenai tata kelola pasar modal kita.
Selain itu, pemangku kebijakan perlu memperketat aturan penempatan Devisa Hasil Ekspor di pasar keuangan dalam negeri agar modal tidak kabur ke luar negeri.
Tak hanya itu, komunikasi publik yang terukur amat dibutuhkan agar tidak memicu kecemasan pasar di tengah ketidakpastian ekonomi global.
Untuk proyeksi hingga pengujung tahun, Yusuf meramal posisi rupiah akan terus tertahan lemah di rentang Rp17.900 sampai Rp18.000 per dolar AS dengan bayang-bayang risiko penurunan berlanjut.
Menurut pengamatannya, arah pergerakan mata uang kita sangat bergantung pada tiga pemicu utama, yaitu keputusan akhir MSCI, kebijakan suku bunga The Fed, serta gejolak harga minyak dunia.
“Apabila ketiga pemicu eksternal tersebut membaik, maka rupiah masih menyimpan peluang emas untuk merangkak naik dan kembali menembus ke bawah Rp18.000 per dolar AS,” pungkas Yusuf.
Dapatkan juga berita teknologi terbaru hanya di newtechclub.com





