Exposenews.id – Bencana kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang hebat melanda wilayah Kecamatan Baruppu, Kabupaten Toraja Utara, Sulawesi Selatan. Peristiwa ini nggak cuma membumihanguskan hamparan vegetasi hijau, melainkan juga merusak secara parah kawasan pemakaman leluhur milik masyarakat Toraja yang amat disakralkan. Bahkan, kobaran api mencekam yang mulanya muncul di kawasan Lombok Rangri, Lembang Baruppu Selatan pada Jumat malam (23/10/2026) tersebut dengan begitu cepat menjalar luas hingga merangsek ke situs pemakaman Burasia, Pongtimban, serta Lombok Rangri.
Akibatnya, kondisi di lapangan benar-benar bikin prihatin karena banyak sekali kerangka jenazah di area Pongtimban dan Lombok Rangri yang rusak tersapu lidah api. Malah, sebagian sisa tulang-belulang jenazah mendadak menghitam legam akibat gosong, sementara sisa kerangka lainnya benar-benar ludes terbakar hingga menyisakan abu.
Tentu saja, musibah hebat ini menjadi pukulan emosional yang amat mendalam bagi warga setempat. Sebab, pekuburan kuno tersebut bukan sekadar area peristirahatan terakhir biasa, melainkan tempat bersemayam leluhur yang menyimpan rekam sejarah panjang serta nilai-nilai tradisi keluarga yang selalu warga wariskan turun-temurun lintas generasi.
Makam Leluhur Berusia Ratusan Tahun Ikut Terbakar Parah!
Berdasarkan keterangan resmi, Kepala Lembang Baruppu Selatan, Gani Arrung, mengungkapkan bahwa titik awal kobaran api pertama kali terlihat membara dari sisi timur kawasan pemakaman, persisnya di lokasi yang warga kenal dengan sebutan Pean pada Jumat malam (23/10/2026).
Kemudian, tiupan angin yang kencang membuat kobaran api dengan cepat menjalar luas menuju kawasan Pongtimban dan Burasia hingga makin mendekati permukiman penduduk setempat. Malah, amukan api terus berlanjut membakar semak belukar sampai hari Sabtu (24/10/2026) dan merusak tiga kawasan pekuburan leluhur sekaligus.
Perlu kamu pahami, Pongtimban sendiri merupakan salah satu situs pemakaman leluhur paling bersejarah bagi masyarakat Baruppu yang diyakini sudah berdiri sejak ratusan tahun lalu. Alhasil, kemunculan kerusakan hebat di area pemakaman keramat ini kian menambah beban duka masyarakat, mengingat tempat tersebut menyimpan nilai budaya serta sejarah yang tak ternilai harganya.
Meskipun demikian, dampak kebakaran di setiap lokasi pekuburan ternyata tergolong berbeda-beda. Misal di Burasia, jilatan api dilaporkan cuma membakar rerumputan di pinggiran area saja dan tak sampai menembus bagian dalam liang. Sebaliknya, amukan api di kawasan Pongtimban dan Lombok Rangri justru merangsek masuk hingga menjangkau seluruh area pekuburan.
Akibat kejadian tragis tersebut, sejumlah kerangka jenazah dilaporkan mengalami kerusakan yang sangat parah. Kendati begitu, pihak pemerintah desa beserta keluarga pemilik makam masih terus bekerja keras mendata jumlah pasti peti jenazah serta liang yang terdampak oleh bencana ini.
Langkah pendataan secara terperinci ini sengaja warga lakukan untuk mengetahui skala kerusakan secara pasti di lapangan. Selain itu, proses ini sangat membantu petugas dan pihak keluarga dalam menangani sisa-sisa jenazah maupun abu yang kena dampak kebakaran hebat tersebut.
Warga Berjuang Memadamkan Api!
Begitu melihat kobaran api menjalar liar, seluruh masyarakat Baruppu langsung bergerak cepat menuju lokasi kejadian untuk memadamkan si jago merah secara bersama-sama. Bahkan, warga secara swadaya membawa ember berisi air dan terus bertarung membendung rembetan api hingga keesokan harinya.
Gani Arrung juga menegaskan kekompakan warga saat memberikan keterangan pada Senin (26/10/2026). Ia membeberkan bahwa seluruh warga Baruppu bahu-membahu bergerak memadamkan api dengan peralatan seadanya demi menyelamatkan tempat sakral tersebut.
Selain perjuangan warga, petugas gabungan dari Manggala Agni, Pemadam Kebakaran, hingga Satpol PP juga turun langsung ke lapangan untuk menaklukkan api. Namun sayangnya, kondisi medan yang terjal serta sulitnya akses menuju titik kebakaran membuat mobil pemadam kebakaran nggak bisa menjangkau lokasi musibah secara langsung.
Oleh karena itu, jajaran pemerintah setempat bersama warga terus menyisir lokasi kebakaran dan membasahi dahan maupun pepohonan yang masih mengeluarkan asap tebal. Upaya penyiraman ini sengaja mereka tingkatkan untuk mencegah timbulnya percikan api baru.
Di tengah proses penanganan musibah yang menguras energi tersebut, warga Baruppu yang sedang merantau di luar daerah sepakat untuk menggalang donasi. Langkah kepedulian ini mereka ambil untuk meringankan beban masyarakat terdampak di kampung halaman.
Penanganan Makam Mengacu pada Aturan Darurat Resmi!
Menyikapi kondisi yang darurat ini, Camat Baruppu, Petrus Pongtasik, langsung mengambil langkah tegas dengan menerbitkan kebijakan khusus penanganan jenazah dan abu jenazah. Ketentuan hukum tersebut tertuang dalam Surat Keputusan Nomor 01/KB/X/2026 tentang Penanganan Darurat Jenazah dan Abu Jenazah akibat Kebakaran di Pekuburan Lombok, Pongtimban, Burasia, dan sekitarnya tertanggal 23 Oktober 2026.
Dalam aturan resmi itu, jenazah yang berhasil diselamatkan wajib dikembalikan ke liang atau patane semula. Sementara itu, jenazah yang ludes terbakar hingga berubah menjadi abu harus segera dibungkus rapi oleh pihak keluarga berdasarkan identitas nama serta jumlah jenazah.
Selanjutnya, apabila identitas sisa jenazah sudah nggak bisa warga kenali lagi, abu jenazah tersebut boleh disatukan, dibungkus secara rapi, lalu dimasukkan kembali ke liang atau patane. Bahkan, pemerintah melarang keras masyarakat untuk memindahkan jenazah maupun abu jenazah ke luar kawasan pemakaman tersebut.
Sebaliknya, jika kondisi liang atau patane sudah rusak parah dan tak layak pakai lagi, warga diperbolehkan menempatkan jenazah atau abu tersebut sementara waktu di liang lain yang masih utuh di dalam kompleks pemakaman yang sama.
Tak cuma mengatur penanganan jenazah, pemerintah daerah bersama masyarakat setempat juga sepakat untuk mendorong penegakan hukum guna mengusut tuntas penyebab kebakaran melalui jalur hukum adat dan hukum negara.
Sementara itu, Kapolres Toraja Utara, AKBP Yoseph Adi Rakhmat Sudrajat, menegaskan bahwa pihak kepolisian sampai saat ini masih bekerja keras melakukan penyelidikan mendalam di lokasi kejadian. Pernyataan tegas ini ia sampaikan langsung pada Senin (26/10/2026).
Akhirnya, hingga saat ini proses pendataan menyeluruh terhadap jumlah makam dan peti jenazah yang terdampak kebakaran terus berjalan intensif. Upaya sistematis ini sangat penting demi memastikan penanganan jenazah serta abu berjalan dengan tepat sesuai aturan darurat yang telah terbit.
Dapatkan juga berita teknologi terbaru hanya di newtechclub.com





