SIDOARJO, Exposenews.id – Pemandangan mencekam menyelimuti Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur, ketika ratusan santri tiba-tiba ambruk dan harus dilarikan ke rumah sakit. Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Sidoarjo mencatat angka yang mencengangkan: tidak kurang dari 293 santri kini menjalani perawatan intensif dan observasi medis di delapan rumah sakit berbeda secara serentak! Kejadian ini sontak mengguncang masyarakat dan memicu pertanyaan besar tentang keamanan makanan yang dikonsumsi para santri.
Kepala Dinkes Angkat Bicara: Observasi Masih Berlangsung
Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Sidoarjo, dr. Lakhsmie Herawati Yuwantina, dengan sigap menggerakkan seluruh jajaran tenaga kesehatan untuk memberikan penanganan terbaik. dr. Lakhsmie menegaskan bahwa tim medis saat ini masih bekerja keras melakukan observasi ketat terhadap para santri guna memantau perkembangan kondisi kesehatan mereka secara menyeluruh. “Ya tentunya butuh perawatan, untuk observasi ya, diobservasi dulu. Karena saya masih belum lihat ke sana,” ujar Lakhsmie dengan nada serius saat ditemui awak media pada Selasa (1/9/2026). Meski belum sempat meninjau langsung ke lokasi, dr. Lakhsmie terus memantau perkembangan dari pusat komando Dinkes.
Berdasarkan data terakhir yang berhasil dihimpun Dinkes Kabupaten Sidoarjo, jumlah santri yang membutuhkan penanganan medis darurat mencapai angka fantastis 293 orang. “Terakhir 293,” ungkapnya dengan tegas, memastikan bahwa tidak ada tambahan kasus baru yang tercatat hingga saat ini. Angka ini tentu menjadi perhatian serius bagi pemerintah daerah dan instansi terkait, mengingat skala kejadian yang cukup masif ini terjadi di lingkungan pondok pesantren.
Delapan Rumah Sakit Siaga Penuh Terima Lonjakan Pasien
Ratusan santri tersebut akhirnya tersebar di delapan rumah sakit strategis yang berada di wilayah Sidoarjo. Sejumlah rumah sakit yang dengan sigap menerima lonjakan pasien antara lain RSUD Notopuro, RS Islam Siti Hajar, RS Bhayangkara Pusdik Porong, RS Delta Surya, dan RSU Aisyiyah Siti Fatimah. “Ada delapan. Delapan rumah sakit,” ujarnya kembali menegaskan. “Notopuro, Siti Hajar, RS Bhayangkara Pusdik Porong, Delta Surya, kemudian Fatimah, dan ada beberapa rumah sakit lain,” katanya lagi, menyebutkan beberapa fasilitas kesehatan yang turut kebanjiran pasien santri.
dr. Lakhsmie pun mengungkapkan bahwa Dinkes Sidoarjo hingga kini masih terus mengumpulkan informasi dan data terbaru mengenai kondisi para santri yang menjalani perawatan di sejumlah fasilitas kesehatan tersebut. “293. Iya, tersebar di delapan rumah sakit,” ungkapnya sekali lagi untuk memastikan keakuratan data. Tenaga medis di setiap rumah sakit pun langsung bergerak cepat, memberikan perawatan terbaik sesuai dengan kondisi masing-masing pasien. Beberapa santri terpaksa harus menjalani perawatan intensif, sementara lainnya hanya membutuhkan observasi singkat sebelum akhirnya dipulangkan.
Kronologi Mencekam: Usai Ashar Keluhan Muncul, Maghrib Ratusan Dilarikan ke RS
Insiden dugaan keracunan MBG di Ponpes Manba’ul Hikam Sidoarjo ini ternyata bermula dari keluhan yang dialami para santri secara mendadak setelah melaksanakan shalat Ashar. Awalnya, beberapa santri mengeluhkan kepala pusing yang hebat dan perut terasa mual yang tak tertahankan. Namun, tak lama berselang, puluhan bahkan ratusan santri lainnya mulai merasakan gejala serupa yang semakin mengkhawatirkan. Kemudian, setelah Maghrib tiba, situasi berubah menjadi darurat ketika ratusan santri dilarikan ke rumah sakit secara bergelombang. Pemandangan mobil ambulan yang mondar-mandir membawa para santri ke berbagai rumah sakit pun menjadi pemandangan yang mencekam malam itu.
Menarik untuk dicermati, berdasarkan informasi yang berhasil dihimpun, menu MBG yang disajikan ke sekolah sore tadi ternyata terdiri dari nasi putih, telur orak arik, tempe bumbu bali, tumis buncit baby corn, dan apel sebagai hidangan penutup. Pertanyaan kritis kemudian muncul: apakah menu yang tampak sederhana ini menjadi biang keladi dari musibah yang menimpa ratusan santri tersebut? Hingga saat ini, pihak terkait masih melakukan penyelidikan mendalam untuk memastikan asal-usul makanan yang disantap para korban.
Namun, yang menjadi teka-teki terbesar adalah belum diketahui secara pasti menu MBG yang disantap tersebut berasal dari dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) atau justru diproduksi oleh dapur pondok pesantren sendiri. Ketidakjelasan ini pun menambah spekulasi dan kekhawatiran di kalangan orang tua santri yang tengah cemas menunggu kabar terkini tentang kondisi anak-anak mereka. Dinkes Sidoarjo pun berjanji akan segera mengungkap hasil investigasi secara transparan kepada publik.
Di tengah situasi genting ini, dr. Lakhsmie berusaha menenangkan masyarakat dengan memastikan bahwa seluruh santri mendapatkan perawatan optimal. “Kami tidak akan tinggal diam. Ini adalah prioritas kami saat ini,” tegasnya dengan penuh keyakinan. Pemerintah Kabupaten Sidoarjo pun segera berkoordinasi dengan berbagai pihak untuk menangani dampak insiden ini secara komprehensif.
Masyarakat pun diimbau untuk tetap tenang namun waspada, serta tidak mudah menyebarkan informasi yang belum terverifikasi kebenarannya. Dinkes Sidoarjo akan terus memperbarui informasi perkembangan terkini melalui kanal-kanal resmi mereka. Kejadian ini menjadi pengingat betapa pentingnya pengawasan ketat terhadap keamanan pangan, terutama di lingkungan pendidikan yang menampung ratusan anak-anak.
Kasus dugaan keracunan massal ini tentu menyimpan banyak pelajaran berharga bagi semua pihak, baik penyelenggara makanan, pengelola pondok pesantren, maupun pemerintah daerah. Evaluasi menyeluruh terhadap prosedur penyajian makanan, kebersihan dapur, hingga kualitas bahan baku harus segera dilakukan untuk mencegah terulangnya kejadian serupa di masa mendatang. Semoga para santri segera pulih dan dapat kembali beraktivitas seperti sedia kala.
Dapatkan juga berita teknologi terbaru hanya di newtechclub.com




