LAMPUNG TIMUR, Exposenews.id – Musibah besar tengah melanda kawasan konservasi kebanggaan Lampung Timur! Kebakaran hutan dan lahan yang melanda Taman Nasional Way Kambas (TNWK) semakin tak terkendali. Berdasarkan data terbaru yang dirilis kepolisian, luas area yang sudah menjadi korban keganasan si jago merah mencapai angka yang mencengangkan, yakni 673,4 hektare! Bayangkan, area seluas ribuan lapangan sepak bola itu kini hangus terbakar!
Hingga hari Sabtu (22/8/2026) kemarin, api masih saja berkobar dengan dahsyatnya di kawasan Jati 3, yang berada di wilayah Resort Kuala Penet, tepatnya di SPTN Wilayah III Kuala Penet, Kecamatan Braja Selebah, Lampung Timur. Tak berhenti di situ, kobaran api yang semula berkonsentrasi di titik Jati 3 dilaporkan dengan cepat merambat ke arah Rawa Mbah Sapon, atau yang lebih dikenal dengan sebutan Grid 7 S. Kondisi ini tentu membuat seluruh pihak yang terlibat kian was-was!
Petugas Gabungan Bertahan di Lokasi, Pemadaman Manual Jadi Andalan!
Kombes Pol Yuni Isawandari Yuyun, selaku Kabid Humas Polda Lampung, menyampaikan kabar terkini bahwa puluhan petugas gabungan masih bertahan di lokasi kejadian untuk memadamkan api sekaligus mencegah meluasnya area terbakar. “Kobaran api masih berlangsung hingga saat ini dan belum bisa dipadamkan sepenuhnya. Kami masih melakukan penanganan intensif di lokasi,” ujar Yuni dengan nada tegas.
Bukan perkara mudah bagi petugas di lapangan. Menurut keterangan Yuni, proses pemadaman kali ini menghadapi serangkaian kendala yang sangat serius. Selain ukuran api yang tergolong besar dan tingginya nyala api yang menjulang, hembusan angin kencang turut memperparah situasi. Akibatnya, api dengan mudah melompat ke area lain dan memperluas cakupan kebakaran. “Karena kondisi inilah, kami terpaksa masih mengandalkan metode pemadaman secara manual,” tambah Yuni.
Kendati demikian, Yuni menegaskan bahwa pihak kepolisian bersama seluruh unsur terkait terus melakukan koordinasi untuk memperkuat upaya penanganan. Mereka saat ini tengah mempersiapkan peralatan yang lebih mumpuni guna menjangkau titik-titik api yang sulit diakses. “Kami juga terus menyiapkan dukungan peralatan agar upaya pemadaman bisa lebih maksimal, sekaligus mengantisipasi agar api tidak semakin meluas,” jelasnya.
29 Personel Dikerahkan, Peralatan Serba Terbatas!
Dalam operasi pemadaman di lapangan, sebanyak 29 personel gabungan telah dikerahkan untuk bertempur melawan api. Mereka terdiri dari 14 personel Polhut dan Masyarakat Mitra Polhut (MMP), 10 personel Polsek Braja Selebah, serta 5 personel TNI dari Koramil Way Jepara. Jumlah yang terbilang minim mengingat luasnya area yang terbakar.
Yang lebih memprihatinkan, para petugas hanya mengandalkan peralatan manual seadanya, berupa tangki semprot Alpa dan alat pemukul api dari kayu yang biasa disebut gepyok. Kondisi ini tentu membuat proses pemadaman terasa berat dan tidak mudah. Lokasi titik api yang sulit dijangkau kendaraan roda empat menambah daftar panjang kendala di lapangan. Kabar baiknya, petugas kini tengah mempersiapkan mesin pompa air atau yang dikenal dengan Alkon untuk mendukung operasi pemadaman tahap berikutnya.
Kabar Baik: Gajah Liar Masih Aman!
Di tengah kepanikan akibat meluasnya kebakaran, kabar mengenai nasib satwa liar di kawasan TNWK tentu menjadi perhatian utama banyak pihak. Kepala Balai TNWK, Zaidi, memberikan kabar yang cukup menghibur. Hingga Sabtu siang, belum ada laporan mengenai gajah maupun satwa lainnya yang terdampak langsung oleh kebakaran.
“Belum ada laporan mengenai satwa yang terdampak. Saat ini posisi gajah liar terpantau berada di bagian utara TNWK, jauh dari titik api,” ujar Zaidi dengan lega. Ia juga memastikan bahwa titik kebakaran berada di wilayah Resort Kuala Penet, yang merupakan bagian selatan kawasan TNWK. Dengan kata lain, satwa-satwa dilindungi seperti gajah masih dalam kondisi aman dari ancaman api.
Ancaman Besar bagi Ekosistem Way Kambas!
Kebakaran seluas 673,4 hektare ini bukanlah angka yang bisa dianggap sepele. Kawasan TNWK merupakan salah satu habitat penting bagi berbagai satwa langka, terutama gajah sumatra yang populasinya semakin mengkhawatirkan. Jika api terus meluas, bukan tidak mungkin ekosistem di dalamnya akan terganggu secara permanen. Belum lagi dampak asap yang bisa mengganggu kesehatan masyarakat sekitar dan mengganggu aktivitas penerbangan.
Peran Masyarakat Sangat Dibutuhkan!
Kebakaran hutan seperti ini tak pernah lepas dari faktor manusia. Baik disengaja maupun tidak, kelalaian dalam membuka lahan sering menjadi pemicu utama. Untuk itu, peran serta masyarakat dalam menjaga kawasan konservasi sangatlah krusial. Masyarakat diimbau untuk tidak membuka lahan dengan cara membakar, terutama di musim kemarau seperti sekarang. Satu percikan api saja bisa berakibat fatal, seperti yang terjadi di Way Kambas saat ini.
Upaya Pencegahan Harus Digencarkan!
Kejadian ini menjadi pelajaran berharga bagi semua pihak. Pencegahan harus lebih digalakkan, tidak hanya saat kebakaran sudah terjadi, tetapi jauh sebelumnya. Sosialisasi bahaya kebakaran hutan, pembentukan tim pemadam kebakaran desa, hingga penyediaan peralatan pemadaman yang memadai harus menjadi prioritas ke depan. Jangan sampai tragedi serupa terulang kembali di kemudian hari.
Kita semua berharap api segera padam, kawasan Way Kambas pulih kembali, dan satwa-satwa di dalamnya tetap aman dan terlindungi. Semoga para petugas yang bertugas diberikan kekuatan dan perlindungan. Mari kita jaga bersama hutan kita, karena hutan adalah paru-paru dunia dan rumah bagi ribuan makhluk hidup!
Dapatkan juga berita teknologi terbaru hanya di newtechclub.com




