Berita  

Andrea Pirlo Resmi Ditunjuk FIGC sebagai Pelatih Timnas Italia untuk 4 Tahun ke Depan

Exposenews.id – Federasi Sepak Bola Italia (FIGC) akhirnya mencapai kesepakatan bulat dengan legenda hidup Andrea Pirlo untuk mengambil alih kemudi skuad Gli Azzurri. Kabar mengejutkan ini langsung mengguncang publik sepak bola Negeri Pizza setelah melalui proses negosiasi yang alot dan penuh intrik.

La Repubblica melaporkan pada Jumat (24/7/2026) waktu setempat bahwa Pirlo telah menyetujui kontrak jangka panjang selama empat tahun penuh. Figur ikonik berambut panjang ini resmi dipercaya untuk memimpin masa depan tim nasional Italia, sebuah tanggung jawab besar yang langsung menyedot perhatian seluruh penggemar sepak bola global.

Kehadiran Pirlo di bangku cadangan tentu membawa angin segar yang sangat dinantikan para tifosi Italia. Pasalnya, sosok maestro lini tengah ini bukanlah orang asing dalam urusan meraih kejayaan. Siapa yang bisa melupakan perannya sebagai pahlawan kemenangan Italia di Piala Dunia 2006? Pada turnamen tersebut, Pirlo tampil gemilang dan menjadi otak di balik kesuksesan Gli Azzurri mengangkat trofi bergengsi.

Rekam jejak mentereng Pirlo tidak hanya terbatas di level internasional. Selama kariernya yang cemerlang, ia telah membela klub-klub raksasa Serie A dengan prestasi luar biasa. Mulai dari membela Inter Milan, bersinar bersama AC Milan, hingga mengakhiri petualangan di Juventus dengan koleksi trofi yang melimpah. Pengalaman bermain di klub-klub elite Eropa jelas menjadi modal berharga bagi Pirlo untuk mentransformasi permainan timnas Italia.

Menariknya, sebelum akhirnya menjatuhkan pilihan pada Andrea Pirlo, FIGC sebenarnya lebih dulu membidik dua pelatih kelas dunia lainnya. Mereka secara agresif menawarkan kursi kepelatihan kepada Pep Guardiola dan Carlo Ancelotti. Sayangnya, upaya federasi untuk mendatangkan juru taktik kaliber dunia itu harus kandas di tengah jalan.

Posisi pelatih timnas Italia sendiri memang dibiarkan kosong sejak Gennaro Gattuso memutuskan mundur pada bulan April lalu. Pengunduran diri Gattuso terjadi buntut dari kegagalan tragis Azzurri menembus putaran final turnamen global untuk ketiga kalinya secara beruntun. Prestasi buruk ini jelas menjadi pukulan telak bagi sepak bola Italia yang tengah mencari identitas baru.

Proses Negosiasi Panjang FIGC dengan Ancelotti dan Guardiola

Maldini selaku Direktur Teknik Italia dengan terbuka mengakui bahwa pihaknya melakukan pendekatan serius terhadap Carlo Ancelotti dan Pep Guardiola. “Kami tidak bisa menyembunyikan fakta bahwa kami juga berbicara dengan Carlo Ancelotti sebelum berbicara dengan Pep,” ujar Maldini saat ditemui awak media di Rome, Sabtu (25/7/2026). “Terus terang, rasanya tepat untuk memulai dengan mereka yang kami anggap sebagai yang terbaik di dunia.”

Namun, harapan FIGC untuk menggandeng Ancelotti harus sirna setelah Federasi Sepak Bola Brasil bersikukuh mempertahankan juru taktik kawakan tersebut. Meskipun Brasil secara mengejutkan tersingkir oleh Norwegia pada babak 16 besar Piala Dunia 2026, pihak federasi tetap percaya penuh pada kapasitas Ancelotti. Mereka secara tegas mengonfirmasi bahwa pelatih berpaspor Italia itu akan terus membimbing tim Samba ke depan.

Sementara itu, proses negosiasi dengan Pep Guardiola juga berakhir dengan hasil yang mengecewakan. Isu mengenai permintaan gaji fantastis Guardiola yang mencapai 20 juta euro per tahun menjadi ganjalan utama. Angka tersebut dua kali lipat lebih tinggi dari tawaran maksimal yang bisa diberikan FIGC. Saat dikonfirmasi mengenai rumor yang beredar luas di media Italia tersebut, Maldidi memilih bersikap diplomatis.

“Sejujurnya kami tidak dapat memberikan informasi terbaru tentang apa yang terjadi saat ini,” jawab Maldini dengan nada hati-hati saat ditanya mengenai negosiasi dengan Guardiola. Pernyataan singkat ini mengindikasikan bahwa pembicaraan antara kedua belah pihak memang berjalan alot dan akhirnya menemui jalan buntu.

Alasan Pribadi Guardiola Tolak Tawaran FIGC

Selain persoalan finansial yang menjadi kendala utama, terdapat alasan pribadi yang membuat Guardiola enggan menerima tawaran menukangi Italia. Pelatih asal Spanyol itu dikabarkan ingin lebih banyak menghabiskan waktu berkualitas bersama keluarganya di Barcelona. Keputusan ini diambil setelah ia mengakhiri sepuluh tahun era keemasannya bersama Manchester City.

Pencapaian Guardiola bersama The Citizens memang luar biasa gemilang. Selama satu dekade memimpin klub asal Manchester tersebut, ia berhasil mengoleksi enam gelar Premier League dan satu trofi Liga Champions. Kesuksesan spektakuler ini jelas membutuhkan pengorbanan waktu dan tenaga yang luar biasa besar. Kini, Guardiola merasa sudah saatnya untuk beristirahat sejenak dan memprioritaskan kehidupan pribadinya.

Di sisi lain, tanggung jawab besar kini berada di pundak Andrea Pirlo. Tantangan yang dihadapi pelatih berusia 47 tahun ini tidaklah ringan. Ia dituntut untuk segera membangkitkan kejayaan timnas Italia yang kini terpuruk. Publik Italia berharap Pirlo mampu mengulangi kesuksesannya saat menangani Juventus pada musim 2020-21 lalu, di mana ia berhasil mempersembahkan trofi Coppa Italia dan Piala Super Italia.

Revolusi Total Sepak Bola Italia di Bawah Kepemimpinan Pirlo

FIGC sebenarnya memiliki harapan besar terhadap penunjukan pelatih baru ini. Mereka menginginkan adanya revolusi menyeluruh dalam tubuh sepak bola Italia. Maldini bersama penasihatnya Leonardo secara gamblang menekankan pentingnya figur nakhoda baru untuk memimpin proyek teknis jangka panjang yang ambisius.

Revolusi yang direncanakan mencakup perombakan total pada metode pelatihan yang selama ini diterapkan. Selain itu, sistem pengembangan pemain muda yang kian memburuk juga harus segera dibenahi. Kehadiran Pirlo diharapkan mampu menjadi katalis perubahan signifikan bagi sepak bola Italia yang tengah mengalami masa-masa sulit.

Menarik untuk dicermati bahwa Pirlo terpilih mengungguli kandidat kuat lainnya seperti Antonio Conte dan Roberto Mancini. Kedua nama tersebut sebenarnya memiliki pengalaman kepelatihan yang lebih matang dibandingkan Pirlo. Namun, FIGC memilih untuk memberikan kepercayaan kepada generasi baru dengan harapan dapat membawa semangat segar dan pendekatan berbeda.

Tekanan besar tentu menghinggapi Pirlo untuk segera menunjukkan taringnya. Pasalnya, publik Italia sangat haus akan prestasi setelah tiga kali gagal secara berturut-turut menembus putaran final turnamen global. Kondisi ini jelas menjadi cambuk sekaligus beban berat bagi pelatih anyar tersebut.

Misi kebangkitan Gli Azzurri kini sepenuhnya berada di tangan Andrea Pirlo. Seluruh mata tertuju padanya untuk mengembalikan kejayaan sepak bola Italia yang sempat meredup. Dukungan penuh diberikan oleh FIGC melalui Maldini dan Leonardo yang siap mendukung setiap langkah strategis pelatih baru mereka.

Kini, yang menjadi pertanyaan besar adalah mampukah Andrea Pirlo mengulangi kesuksesannya sebagai pemain dan pelatih? Atau justru beban harapan yang terlalu berat akan menghancurkan karier kepelatihannya? Waktu yang akan menjawab seluruh spekulasi ini. Satu hal yang pasti, sepak bola Italia memasuki babak baru yang penuh tantangan dan harapan di bawah kepemimpinan Andrea Pirlo.

Dapatkan juga berita teknologi terbaru hanya di newtechclub.com