MAKASSAR, Exposenews.id – Geger! Perompak Somalia berani menyandera kapten kapal asal Gowa, Sulawesi Selatan. Anggota Komisi I DPR RI Fraksi PKB, Syamsu Rizal, langsung merespons keras kasus ini.
Dengan sigap, DPR memastikan bakal mengerahkan segala jurus pamungkas. Mulai dari jalur diplomasi rahasia hingga pendekatan non-negara, semuanya siap dilancarkan demi membebaskan para sandera.
Dengan tegas, Syamsu Rizal mengungkapkan bahwa pihaknya sudah melakukan koordinasi intensif dengan pemerintah. Bukan sekadar basa-basi, mereka langsung memantau perkembangan kasus ini dari jarak nol kilometer.
“Yang pasti, kami sudah memonitor langsung. Bersama direktur perlindungan WNI dan pak menteri, saya komunikasi secara langsung,” ujarnya dengan nada mantap di Hotel Four Points by Sheraton Makassar, Jalan Andi Jemma, Makassar, Minggu (3/5/2026).
Dengan penuh keyakinan, ia menegaskan bahwa upaya pembebasan akan dilakukan secara komprehensif. Tidak ada setitik pun keraguan dalam nada bicaranya.
“Intinya, semua cara akan kita tempuh, secara diplomasi. InsyaAllah, kami juga akan melakukan pendekatan non-state actor. Kesimpulannya, pendekatan kita komprehensif,” jelasnya sambil menekankan setiap kata.
Pria yang akrab disapa Daeng Ical itu pun menyampaikan harapan besarnya. Dengan penuh optimisme, ia berharap seluruh kru kapal yang disandera bisa segera menghirup udara bebas.
Perlu diketahui, ada empat warga negara Indonesia (WNI) yang saat ini masih berada dalam cengkeraman para perompak. Jumlah ini menjadi prioritas utama dalam setiap langkah penyelamatan.
“Mudah-mudahan, 17 orang ini—terutama empat orang WNI—bisa cepat bebas. Kami wajib berusaha maksimal. Alhamdulillah, ada jaminan bahwa mereka para korban ini masih sehat walafiat,” ucapnya dengan nada lega bercampur waswas.
Detik-Detik Mencekam: Serangan Dadakan di Tengah Lautan!
Kasus ini bermula ketika kapal tanker Honour 25 yang dinakhodai Ashari Samadikun (33), pelaut asal Gowa, sedang melaju tenang. Kapal tersebut berlayar dari Oman menuju Somalia sebelum akhirnya dibajak perompak pada 21 April 2026.
Dalam kesaksian yang menggetarkan, Ashari mengungkapkan bahwa kapal mereka sempat dipantau oleh sebuah perahu misterius. Selama beberapa jam, perahu itu hanya mengamati dari kejauhan sebelum akhirnya menyerang.
“Saat itu sekitar jam 10 malam, ada satu boat dari belakang. Jaraknya sekitar tiga mil, cuma mengamati kami,” ungkapnya dalam rekaman video call yang beredar luas.
Dini Hari Mencekam! Tiga Boat Menyerang dari Dua Sisi
Situasi berubah drastis 180 derajat pada dini hari. Tiba-tiba, lebih banyak perahu mendekat dengan kecepatan tinggi. Yang lebih mengerikan, mereka membawa senjata api!
“Pas jam 2, ada tiga boat. Dua di kanan, satu di kiri. Saya fokus ke kanan karena jumlahnya lebih banyak,” katanya dengan suara bergetar saat mengenang kejadian itu.
Dengan cepat, ia menyadari situasi semakin berbahaya setelah mendapat laporan panik dari kru. Jantungnya berdegup kencang saat memastikan sendiri ancaman yang datang.
“Jam dua kru telepon, bilang ada boat di kanan. Saya naik, lihat pakai teropong. Ternyata mereka bawa senjata! Saya langsung pikir, mati kita,” ujar Ashari mengungkapkan kekalutan hatinya.
Tak butuh waktu lama, perompak mulai menyerang secara brutal. Mereka melepaskan tembakan bertubi-tubi ke arah kapal tanpa ampun.
“Saya masuk kamar, kunci cepat. Tidak lama, langsung ditembaki. Kamarku diberondong peluru dari segala arah,” katanya masih membayangkan betapa dekatnya maut saat itu.
Dengan kekerasan, perompak kemudian naik ke kapal. Mereka dengan brutal menguasai seluruh awak yang ketakutan. Tidak ada yang berani melawan.
“Saya dengar pintu didobrak paksa. Semua kru disuruh keluar, dikumpulkan, disuruh angkat tangan,” sambungnya menggambarkan ketidakberdayaan mereka.
Aksi Nekat Kapten: Menyapa Perompak dengan Salam Damai!
Dalam kondisi yang serba terancam, Ashari menunjukkan nyali luar biasa. Dengan tenang, ia mencoba meredakan ketegangan dengan menyapa langsung para perompak. Langkah ini bisa dibilang nekat namun cerdik.
“Saya bilang, ‘Assalamu’alaikum’. Saya bilang, ‘I am muslim, don’t shoot’. Dia jawab ‘Waalaikumsalam’,” katanya menirukan percakapan yang menentukan itu.
Upaya berani tersebut ternyata membuahkan hasil. Situasi sempat menjadi lebih terkendali, meskipun para perompak tetap menahan seluruh kru. Mereka merampas barang-barang milik korban tanpa kompromi.
“Uang dan barangku diambil, dikumpulkan semua,” ucapnya pasrah.
Kabar Terbaru dari Keluarga: Doa dan Harapan Menggantung!
Kondisi Sandera dan Ancaman yang Membayangi
Kapal Honour 25 diketahui membawa 17 kru dari berbagai negara. Dari jumlah itu, empat di antaranya adalah WNI yang menjadi perhatian utama pemerintah. Hingga kini, seluruh kru masih berada dalam penyanderaan. Belum ada kepastian sedikit pun terkait tuntutan tebusan dari para perompak.
Di kampung halaman di Gowa, keluarga korban terus berdoa tanpa henti. Mereka berharap pemerintah dapat segera membebaskan para sandera. Santi Sanaya, istri Ashari, mengaku pertama kali menerima kabar dari suaminya melalui pesan suara yang memilukan.
“Pertama kali itu, saya dapat informasi dari suamiku tanggal 21 April malam sekitar setengah 8,” tutur Santi dengan suara bergetar.
Ia mengatakan, suaminya sempat mengabarkan kondisi mereka yang tengah diserang bajak laut. Lima menit kemudian, segalanya berubah.
“Saya dapat voice note dari suamiku, katanya diserang bajak laut. Lima menit kemudian, saya coba kontak kembali. Nomornya masih aktif, tapi tidak direspon,” katanya menggambarkan kekhawatiran yang menyiksa.
Meskipun sempat berkomunikasi kembali melalui video call, kondisi para kru tetap berada di bawah ancaman serius. Kebebasan mereka belum kembali, dan bahaya masih mengintai dari berbagai sisi.
“Alhamdulillah, semua sehat. Tapi tetap ada ancaman. Perompaknya bilang, mereka juga terancam diserang dari pihak luar,” ujarnya mengungkapkan situasi yang semakin kompleks.
DPR RI memberikan jaminan penuh. Dengan komitmen kuat, mereka akan terus mengawal kasus ini hingga seluruh korban dapat dibebaskan dengan selamat. Berbagai pendekatan yang ditempuh pemerintah pun akan diawasi ketat. Doa seluruh rakyat Indonesia kini tertuju pada empat WNI yang masih menjadi sandera di perairan Somalia.
Dapatkan juga berita teknologi terbaru hanya di newtechclub.com
