SOLO, Exposenews.id – Suasana Pasar Jongke yang terletak di Kecamatan Laweyan, Solo, Jawa Tengah, kini terasa sumpek bukan karena hiruk-pikuk pembeli, melainkan karena puluhan los dan kios yang dibiarkan terlantar tanpa penghuni. Pengelola pasar pun angkat bicara mengenai fakta memilukan ini.
Berdiri megah setelah diresmikan langsung oleh Presiden Jokowi pada 27 Juli 2024 silam, Pasar Jongke seharusnya menjadi denyut nadi perekonomian rakyat. Namun, kenyataan di lapangan justru bertolak belakang. Banyak los dan kios yang tadinya diharapkan ramai dikunjungi, kini malah sunyi senyap bagai pasar kubur.
Lurah Pasar Jongke, Ali Muhlison, dengan terus terang mengakui bahwa fenomena los kosong ini sudah terjadi sejak masa perpindahan pedagang dari pasar darurat hingga ke pasar baru yang telah direnovasi dengan anggaran miliaran rupiah. “Memang kenyataan pahit yang harus kami akui, banyak sekali los yang sejak awal penempatan dari pasar darurat tidak pernah diurus oleh pemiliknya. Bahkan, ketika pasar baru ini diresmikan pun, mereka tetap mangkir dan tidak mengurus losnya,” ujar Ali dengan nada prihatin ketika dikonfirmasi melalui sambungan telepon pada Rabu (2/9/2026).
Ali mengaku bingung dan tidak mengetahui secara pasti apa alasan kuat para pedagang memilih untuk meninggalkan los mereka begitu saja. “Kami pun tidak bisa menebak-nebak alasannya, karena sampai saat ini mereka tidak pernah menunjukkan batang hidungnya ke kantor pengelola. Mereka benar-benar hilang tanpa kabar,” tambahnya dengan nada heran.
79 los di lantai dua menganggur, pedagang memilih hilang?
Jika berbicara angka, kondisi ini sungguh memprihatinkan. Ali menyebutkan secara spesifik bahwa terdapat sekitar 79 los di lantai dua Pasar Jongke yang hingga detik ini benar-benar kosong melompong tanpa aktivitas pedagang. “Kalau kita bicara yang murni kosong tanpa penghuni, itu ada 79 los di lantai 2. Tidak ada seorang pedagang pun yang berjualan di sana,” tegasnya.
Yang lebih mengherankan lagi, Ali mengungkapkan bahwa di sisi lain, masih ada pedagang yang memegang Surat Hak Penempatan (SHP) tetapi tetap bersikeras tidak menempati kios atau los mereka. Meskipun begitu, pihak pengelola tidak dapat memastikan berapa pasti jumlah pedagang nakal yang melakukan hal ini. Padahal, Pasar Jongke memiliki kapasitas total 1.140 los dan 193 kios yang seharusnya menjadi lahan subur bagi perputaran uang.
“Sejak awal pengambilan SHP sementara di pasar darurat, banyak yang tidak mengambil. Kemudian, ketika pasar baru selesai dibangun dan proses penempatan dimulai, mereka kembali tidak mengambil. Kami kehilangan jejak mereka,” ungkap Ali dengan ekspresi frustrasi.
Bahkan, lebih parah lagi, ada sebagian pedagang yang dulunya sempat menempati los tetapi kemudian memilih berhenti berjualan tanpa memberikan keterangan apa pun. “Kondisinya sangat variatif. Ada yang benar-benar kosong, ada yang hanya sesekali buka, ada pula yang sudah tidak jualan sama sekali. Kita tidak tahu persis apa masalah mereka,” sambungnya.
Pemkot Solo siap gempur pedagang bandel, retribusi mandeg!
Melihat kondisi yang semakin tidak karuan ini, Pemerintah Kota (Pemkot) Solo kini mulai menunjukkan taringnya. Mereka berencana melakukan penertiban besar-besaran terhadap pedagang yang tidak membayar retribusi dan yang memiliki SHP namun tidak menempati kios selama lebih dari enam bulan.
Kepala Dinas Perdagangan (Disdag) Solo, Arif Handoko, menyatakan bahwa pihaknya sudah memiliki data lengkap mengenai pedagang yang bermasalah di 43 pasar tradisional yang tersebar di Solo. “Kami saat ini sudah mendata semua pasar, semua kios, dan semua los. Kami tahu persis siapa saja yang memegang SHP tetapi tidak berjualan, serta siapa yang berjualan tetapi tidak pernah membayar retribusi. Mereka akan kami tertibkan,” kata Arif dengan ketegasan saat dihubungi melalui telepon di Solo, Selasa (1/9/2026).
Arif menambahkan bahwa tindakan tegas ini tidak main-main. Pedagang yang ketahuan tidak membayar retribusi atau tidak menempati los dalam waktu lama akan segera ditindak sesuai aturan. “Mayoritas dari mereka memiliki SHP tetapi sudah tidak berjualan dalam kurun waktu lebih dari 6 bulan. Ada juga yang masih berjualan tetapi nakal dalam membayar retribusi. Ini tidak bisa kami biarkan begitu saja,” pungkasnya.
Kosong diambil alih! Pasar Jongke siap disulap jadi sarang ekonomi kreatif
Tidak hanya berhenti pada penertiban, Pemkot Solo melalui Disdag juga memiliki rencana jangka panjang yang lebih ambisius untuk mengatasi masalah ini. Arif menyinggung bahwa ada wacana penataan ulang di Pasar Jongke, khususnya untuk memanfaatkan los dan kios yang selama ini menganggur.
Rencananya, kios-kios kosong tersebut akan dialihfungsikan dan diberikan kepada pelaku usaha ekonomi kreatif (ekraf) sebagai tempat berkreasi dan berbisnis. “Kami sedang dalam proses menyiapkan pelaku usaha ekonomi kreatif yang akan menempati lantai dua Pasar Jongke. Ini sesuai arahan dari Mas Wali. Kami akan mengubah wajah Pasar Jongke menjadi lebih dinamis,” ungkap Arif dengan antusias.
Alih-alih dibiarkan menjadi sarang debu dan kesunyian, langkah ini diharapkan mampu menyuntikkan energi baru ke Pasar Jongke. Dengan menggandeng para pelaku ekraf, pasar ini tidak hanya menjadi tempat transaksi jual-beli tradisional, tetapi juga pusat inovasi dan kreativitas anak muda Solo.
Namun, langkah ini juga menyiratkan pesan keras bagi para pedagang lama: jika mereka tidak mau memanfaatkan hak mereka, maka pemerintah tidak akan ragu untuk memberikan kesempatan itu kepada pihak lain yang lebih bersemangat dan berpotensi. Pasar Jongke harus hidup, dan tidak ada ruang bagi mereka yang hanya ingin memiliki hak tanpa kewajiban.
Dengan segala dinamika yang terjadi, publik kini menanti gebrakan nyata dari Pemkot Solo. Akankah penertiban ini berjalan lancar? Ataukah akan muncul resistensi dari pedagang yang selama ini ‘menghilang’? Satu yang pasti, Pasar Jongke sedang berada di ujung tanduk perubahan besar.
Dapatkan juga berita teknologi terbaru hanya di newtechclub.com





