Exposenews.id – Timnas Argentina akhirnya merasakan kebobolan di Piala Dunia 2026, tapi justru kejadian inilah yang menjadi titik balik kebangkitan mereka! Dalam laga penutup fase grup melawan Yordania, skuad asuhan Lionel Scaloni sukses meraih kemenangan meyakinkan 3-1, sekaligus secara tidak sengaja menghapus salah satu “kutukan” paling menakutkan yang menghantui sejarah Piala Dunia selama puluhan tahun.
Sejak peluit pertama dibunyikan di turnamen edisi kali ini, pertahanan Argentina memang tampak seperti benteng baja yang tak tertembus. Pada laga perdana kontra Aljazair, gawang Emiliano Martinez sempat bergetar, namun wasit dengan cepat menganulir gol tersebut sehingga catatan bersih tetap terjaga. Kemudian, perlawanan Austria pun berhasil ditaklukkan dengan skor 2-0 tanpa conceding. Semua pihak mulai berspekulasi bahwa La Albiceleste berpotensi mencatatkan sejarah sebagai juara dengan pertahanan paling sempurna.
Namun, takdir berkata lain. Memasuki babak kedua pertandingan melawan Yordania, Mousa Al-Tamari dengan cemerlang menyambar umpan crossing di tiang jauh setelah kerja sama apik rekan-rekannya. Gol indah itu langsung menghentikan rekor clean sheet Argentina yang telah bertahan selama lebih dari 180 menit pertandingan. Meski skor akhir tetap berpihak pada Argentina dengan kemenangan 3-1, satu gol kebobolan ini justru disambut dengan lega oleh para pengamat dan suporter yang memahami seluk-beluk sejarah turnamen.
Mengapa Kebobolan Justru Disambut Sukacita?
Fenomena unik ini bermula dari fakta sejarah yang tak terbantahkan: sepanjang perhelatan Piala Dunia sejak pertama kali digelar, belum pernah ada satu pun tim yang berhasil keluar sebagai juara dunia setelah melewati seluruh pertandingan fase grup dengan catatan nirbobol. Statistik ini telah bertahan selama puluhan edisi dan menjadi semacam “kutukan” yang menakutkan bagi setiap tim dengan pertahanan impresif di awal turnamen.
Bayangkan betapa tertekannya skuad Argentina sebelum gol Al-Tamari tercipta! Mereka secara tidak sadar sedang berjalan di atas pisau cukur sejarah yang sangat tajam. Setiap menit tanpa kebobolan justru semakin mendekatkan mereka pada catatan negatif yang tak diinginkan. Namun, begitu bola Al-Tamari masuk ke gawang, seluruh beban psikologis itu langsung sirna seketika. Para pemain Argentina di lapangan pun tampak lebih rileks dan percaya diri setelah kejadian tersebut.
Jika kita menengok ke belakang, catatan ini semakin menguat ketika melihat perjalanan Argentina di edisi 2022 silam. Saat menjadi juara di Qatar, gawang mereka justru langsung kebobolan dua kali di laga perdana melawan Arab Saudi dan bahkan harus menelan kekalahan 1-2. Ironisnya, kegagalan di awal turnamen itulah yang justru membangun mental juara dan membawa mereka meraih trofi. Begitu pula saat Argentina menjadi juara pada 1986, mereka kebobolan dua kali di fase grup. Bahkan di edisi 1978 yang dimenangkan sebagai tuan rumah, Argentina harus rela kebobolan tiga gol di babak penyisihan.
Masih Ada Lagi “Kutukan” yang Mengintai
Meski satu kutukan telah berhasil dihindari, perjalanan Argentina di Piala Dunia 2026 masih dihantui oleh statistik lain yang tak kalah mencekam. Tim asuhan Scaloni datang ke turnamen ini dengan status sebagai peringkat pertama ranking FIFA, sebuah posisi yang sebenarnya sangat membanggakan. Namun, sejarah mencatat bahwa belum pernah ada tim yang berhasil menjadi juara dunia dengan status sebagai tim nomor satu dunia saat kompetisi dimulai. Ini menjadi beban psikologis tambahan yang harus mereka pikul.
Fakta menarik lainnya datang dari kubu Perancis yang juga dibayangi oleh rekor serupa. Ousmane Dembele, pemilik Ballon d’Or saat ini, bertekad mematahkan tradisi bahwa tak ada peraih penghargaan individu tertinggi tersebut yang mampu mengakhiri tahun dengan gelar juara Piala Dunia. Semua catatan historis ini menciptakan atmosfer yang makin memanas di turnamen edisi kali ini.
Persiapan Menuju Babak Gugur
Kini, dengan status juara Grup J yang sudah aman di saku, Argentina mulai mengalihkan fokus pada babak 32 besar yang menanti. Kemenangan atas Austria yang memastikan posisi puncak klasemen telah memberi mereka kepercayaan diri ekstra. Namun, satu gol yang bersarang dari Yordania menjadi pengingat berharga bahwa pertahanan mereka tetap memiliki celah yang bisa dieksploitasi oleh lawan-lawan tangguh di fase selanjutnya.
Lionel Scaloni dan staf kepelatihan dipastikan akan mengevaluasi secara mendalam kelemahan yang terpapar saat melawan Yordania. Kerja sama tim yang apik dari skuad asuhan Yordania berhasil menembus barisan pertahanan yang selama ini dianggap sebagai salah satu yang terbaik di dunia. Pelajaran berharga ini akan menjadi modal penting saat menghadapi tim-tim dengan kualitas serangan lebih mematikan di babak gugur.
Para penggemar sepak bola di seluruh dunia pasti akan terus memantau perjalanan Argentina di Piala Dunia 2026. Apakah mereka mampu mematahkan seluruh kutukan sejarah dan menjadi juara dunia untuk ketiga kalinya dalam empat edisi terakhir? Atau justru statistik-statistik tersebut akan kembali terbukti kebenarannya? Pertanyaan-pertanyaan ini hanya akan terjawab melalui pertandingan-pertandingan sengit yang masih akan berlangsung.
Satu hal yang pasti, gol Mousa Al-Tamari dari Yordania telah mengubah nasib Argentina di turnamen ini. Bukan sekadar gol hiburan di laga yang tak menentukan apapun, tetapi sebuah gol yang menyelamatkan mereka dari belenggu sejarah yang mengerikan. Kini, semua mata tertuju pada langkah selanjutnya La Albiceleste di pentas Piala Dunia 2026 yang penuh kejutan dan misteri ini.
Dapatkan juga berita teknologi terbaru hanya di newtechclub.com
