BANTUL, Exposenews.id — Pesisir selatan Kabupaten Bantul, DI Yogyakarta, kini menghadapi ancaman serius. Gelombang tinggi yang ganas menerjang kawasan tersebut menyebabkan sekitar 55 hektare lahan pertanian terendam air laut. Bayangkan, puluhan hektare sawah dan kebun bawang merah yang seharusnya segera dipanen kini berubah menjadi genangan asin yang mengancam mata pencaharian puluhan petani!

Genangan besar tersebut terjadi setelah gelombang dahsyat membawa material pasir dalam jumlah melimpah, yang kemudian menyumbat total aliran Muara Baros di wilayah Tirtohargo, Kapanewon Kretek. Akibat penyumbatan ini, sirkulasi air dari sungai menuju laut menjadi kacau balau. Alih-alih mengalir normal, air justru meluap dengan deras dan merendam lahan pertanian milik warga yang berada di sekitar kawasan tersebut.
Lurah Tirtohargo, Sugiyanta, dengan nada prihatin menjelaskan kronologi kejadian yang meresahkan ini. Menurutnya, debit air sungai saat ini jauh lebih rendah dibandingkan tekanan air laut yang menerjang akibat gelombang besar. Kondisi ini menciptakan ketidakseimbangan yang fatal. “Gelombang besar terjadi, sehingga muara itu buntu total dan tidak berfungsi sama sekali untuk mengalirkan air dari sungai ke laut. Debit air sungai kita ternyata lebih rendah daripada debit dari laut. Akhirnya, air meluap ke mana-mana, termasuk ke lahan pertanian, sehingga lahan pertanian terendam air laut,” ungkap Sugiyanta dengan nada cemas, Rabu (12/8/2026).
Material Pasir Menutup Total Aliran Muara Baros
Lebih lanjut, Sugiyanta memaparkan bahwa gelombang besar dari laut selatan tidak hanya membawa air, tetapi juga mengangkut material pasir dalam skala masif. Pasir-pasir inilah yang kemudian menumpuk dan menutup rapat aliran Muara Baros. Akibatnya, air dari sungai tidak memiliki jalur untuk mengalir dengan lancar menuju laut. Sungai yang biasanya menjadi jalur pembuangan kini seperti terperangkap di daratan.
Sayangnya, persoalan memilukan ini ternyata bukan kali pertama terjadi di wilayah tersebut. Setiap tahun, tepatnya pada Agustus hingga September, gelombang pasang dikenal kerap membawa pasir dalam jumlah besar dan menyebabkan aliran Muara Baros tersumbat. Fenomena tahunan ini seolah menjadi momok yang selalu menghantui para petani setempat. Mereka sudah sangat familiar dengan ancaman ini, namun tetap saja setiap kejadian membawa dampak yang tak kalah merugikan.
Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kabupaten Bantul, Joko Waluyo, merinci dampak luas yang ditimbulkan oleh musibah ini. Ia menyebutkan bahwa bencana ini melanda dua kalurahan sekaligus. Di Kalurahan Tirtohargo, terdampak 30 hektare lahan padi dan 5 hektare lahan bawang merah. Sedangkan di Kalurahan Srigading, Kapanewon Sanden, 20 hektare lahan padi turut terendam. Totalnya, 55 hektare lahan pertanian kini terancam puso!
“Ini sebenarnya kejadian tahunan dan dipicu oleh penyumbatan di Muara. Ombak laut selatan pasang membawa pasir dan menyumbat air Muara Baros. Sekarang, warga setempat sudah bergerak cepat melakukan pengerjaan secara manual sambil menunggu alat berat,” papar Joko dengan nada penuh harap.
Petani Gotong Royong Membuka Muara Secara Manual
Di tengah keputusasaan, semangat gotong royong justru menyala terang. Sejumlah petani dengan bahu-membahu bergerak cepat untuk mengurangi genangan. Mereka secara manual membuka aliran Muara Baros dengan peralatan seadanya. Upaya heroik ini mereka lakukan sambil menunggu bantuan alat berat dari Balai Besar Wilayah Sungai Serayu Opak (BBWSO).
Sugiyanta mengungkapkan bahwa pihaknya tidak tinggal diam. Koordinasi intensif telah dilakukan dengan Pemerintah Kabupaten Bantul, DPRD DIY, dan BBWSO untuk mempercepat penanganan sumbatan. Semua pihak bergerak cepat demi menyelamatkan lahan pertanian.
“Kami masih menunggu bantuan dari BBWSO untuk menurunkan alat berat. Karena alat berat itu saat ini masih berada di Purworejo. InsyaAllah, nanti sore alat berat bisa dikirim ke sini (Muara Baros),” ungkapnya dengan optimisme yang terjaga.
Sugiyanta menekankan bahwa pembukaan aliran harus segera dilakukan. Jangan sampai genangan air laut berlarut-larut karena akan mengancam keselamatan tanaman di lahan pertanian. Setiap jam sangat berharga bagi nasib ribuan tanaman pangan.
Salah seorang petani yang merasakan langsung dampaknya adalah Ngadiyo (70). Kakek sepuh ini mengaku 220 ubin lahan bawang merah miliknya terendam air laut sejak Selasa (11/8/2026) malam. Ia pun mengeluhkan situasi yang sangat merugikan ini.
“Ini setiap tahun seperti ini. Kalau normal, 20 hari itu sudah panen. Seharusnya minggu ini bawang saya sudah bisa dipanen. Kalau genangan air terus berlangsung sampai tiga hari, bisa berpotensi gagal panen total,” ujar Ngadiyo dengan nada khawatir.
Tanaman Bawang Merah Jadi yang Paling Dikhawatirkan
Joko menjelaskan bahwa tingkat risiko antara tanaman padi dan bawang merah sangat berbeda. Tanaman padi yang saat ini berusia sekitar 30-40 hari ternyata dinilai masih relatif aman. Namun, tanaman bawang merah menjadi perhatian utama karena memiliki kerentanan tinggi terhadap genangan air laut.
“Tanaman padi saya yakin aman. Karena itu tanaman usia sekitar 30-40 hari. Saya khawatir dengan tanaman bawang merah, kalau air laut itu tidak segera surut karena lebih dari tiga hari terendam bisa mengakibatkan gagal panen,” papar Joko dengan kekhawatiran yang mendalam.
Karena itulah, petani dan pemerintah sama-sama berharap aliran Muara Baros segera kembali terbuka. Dengan demikian, air yang menggenangi lahan dapat segera surut dan menyelamatkan tanaman yang masih bisa diselamatkan.
Selain penanganan sementara, Sugiyanta berharap pemerintah pusat dan daerah segera mengambil langkah antisipatif jangka panjang. Ia mengusulkan pembangunan tanggul permanen untuk mencegah persoalan serupa terus berulang setiap tahunnya.
Rencana tanggul tersebut akan dibangun di sepanjang Sungai Winongo Kecil hingga Tempuran dengan panjang sekitar 1.300 meter. Ini menjadi solusi yang dinantikan oleh seluruh petani yang setiap tahun harus berjuang melawan gelombang pasang.
“Kami harap, mudah-mudahan air muara itu dapat teratasi dan kedua baik pemerintah daerah maupun pusat segera membuatkan penanganan banjir seperti tanggul di Sungai Winongo Kecil,” tutur Sugiyanta dengan penuh harapan.
Musibah ini menjadi pengingat bahwa perubahan iklim dan dinamika alam pesisir memerlukan perhatian serius dari semua pihak. Para petani yang telah bekerja keras membanting tulang kini harus menghadapi ancaman gagal panen yang nyata. Semoga bantuan dan penanganan cepat bisa segera dilakukan agar ribuan hektare lahan pertanian di Bantul bisa kembali produktif dan petani bisa tersenyum kembali.
Dapatkan juga berita teknologi terbaru hanya di newtechclub.com




