Exposenews.id – Kabar mengejutkan mengguncang dunia sepak bola Inggris! Leicester City, klub yang pernah menggebrak Premier League dengan kisah fantastisnya, kini secara resmi memasuki masa transisi kepemilikan. Keluarga Srivaddhanaprabha, melalui perusahaan raksasa King Power International, dengan berani membuka pintu bagi para investor untuk mengambil alih seluruh aset berharga The Foxes.
Berdasarkan bocoran eksklusif dari The Athletic, brosur penjualan bertajuk “Project Lineup” sudah disusun dengan rapi oleh Citigroup, bank investasi global ternama. Dokumen strategis ini pun telah diedarkan secara selektif kepada sejumlah calon pembeli potensial di berbagai belahan dunia. Di dalam berkas tersebut, segala rupa kekayaan Leicester City dipaparkan secara transparan, mulai dari tim putri yang berkembang pesat, akademi sepak bola kelas dunia, ikonik King Power Stadium, pusat latihan super canggih Seagrave, hingga klub afiliasi mereka di Belgia, OH Leuven.
Menurut sumber internal yang mengetahui secara langsung proses negosiasi ini, keluarga Srivaddhanaprabha memasang banderol ambisius sebesar 222 juta poundsterling, atau setara dengan Rp 5,33 triliun untuk keseluruhan paket portofolio. Namun, kabar dari kalangan analis pasar menyebutkan bahwa nilai transaksi aktual kemungkinan besar akan bergerak di kisaran 148 juta poundsterling, atau sekitar Rp 3,55 triliun. Penurunan harga yang signifikan ini jelas dipengaruhi oleh kondisi klub yang baru saja terpuruk ke League One, kasta ketiga persepakbolaan Inggris, serta beban kerugian finansial yang terus menggerogoti kekuatan klub dalam beberapa tahun terakhir.
Wow! Leicester City Ternyata Rugi Sampai Rp 6,5 Triliun, Apa yang Terjadi?
Performa Leicester City benar-benar anjlok drastis selama empat musim terakhir. Data keuangan menunjukkan fakta mencengangkan bahwa klub mengalami kerugian masing-masing sebesar 92,5 juta poundsterling, 89,7 juta poundsterling, 19,4 juta poundsterling, dan 71,1 juta poundsterling. Jika kita konversikan dengan kurs 1 poundsterling = Rp 24.000, maka total akumulasi kerugian ini mencapai angka fantastis sekitar Rp 6,54 triliun. Kerugian besar ini otomatis menjadi pukulan telak bagi stabilitas keuangan klub.
Kondisi di atas lapangan pun tak kalah memprihatinkan. Bayangkan, Leicester yang pada 2016 mampu menjadi juara Premier League dengan kisah yang menginspirasi dunia, kini harus rela bermain di League One setelah tiga kali degradasi berturut-turut. Namun, di balik semua kesulitan itu, paket aset yang dimiliki Leicester City tetap dinilai sangat menarik bagi calon investor. Mengapa? Karena portofolio properti klub pada 2025 disebut bernilai sekitar 204 juta poundsterling atau Rp 4,90 triliun. Rinciannya sangat menggiurkan: King Power Stadium senilai 74 juta poundsterling atau Rp 1,78 triliun, pusat latihan Seagrave yang megah senilai 121 juta poundsterling atau Rp 2,90 triliun, serta Belvoir Drive yang dihargai 9 juta poundsterling atau Rp 216 miliar.
Selain itu, Leicester juga memiliki lahan strategis di sekitar King Power Stadium yang dibeli seharga 11,6 juta poundsterling atau sekitar Rp 278,4 miliar. Awalnya, lahan ini disiapkan untuk proyek perluasan stadion yang ambisius. Namun, proyek besar tersebut terpaksa dihentikan setelah Leicester terdegradasi dari Premier League pada akhir musim 2022-2023. Meskipun demikian, aset tanah ini tetap menjadi nilai tambah yang sangat potensial bagi pembeli.
Leicester Jual Sejarah dan Masa Depan! Gelar Premier League Hingga Akademi Jadi Andalan
Dalam dokumen Project Lineup, Leicester City dengan percaya diri menonjolkan sejarah gemilang dan kesuksesan masa lalu untuk memikat hati para investor. Keluarga Srivaddhanaprabha dan King Power International membeli Leicester dari Milan Mandaric pada 2010 dengan nilai sekitar 35 juta poundsterling. Sejak akuisisi itu, Leicester menjelma menjadi salah satu klub dengan periode terbaik dalam sejarahnya. Siapa yang bisa melupakan momen magis 2016 ketika The Foxes secara mengejutkan menjuarai Premier League? Kemudian, lima tahun berselang, mereka kembali mengukir prestasi dengan meraih trofi FA Cup pertama kalinya pada 2021.
Brosur penjualan tersebut juga mempromosikan Leicester sebagai salah satu dari hanya lima klub di Inggris yang mampu memenangkan tiga trofi domestik utama sejak tahun 2000. Ini tentu menjadi daya tarik tersendiri yang sulit ditolak oleh calon investor. Lebih lanjut, akademi kategori satu milik Leicester turut menjadi primadona dalam daftar aset yang ditawarkan. Dalam lima tahun terakhir, para pemain lulusan akademi tersebut terbukti telah menghasilkan pemasukan transfer lebih dari 250 juta poundsterling atau sekitar Rp 6 triliun. Ini membuktikan bahwa sistem pembinaan pemain muda Leicester berjalan sangat efektif dan menguntungkan.
OH Leuven juga ikut disorot sebagai bagian dari struktur kepemilikan multi-klub yang dapat memberikan keuntungan kompetitif dalam pengembangan pemain, perekrutan bakat, dan analisis data. Semua keunggulan ini dikemas secara apik untuk meyakinkan para investor bahwa Leicester City bukan sekadar klub yang sedang terpuruk, tetapi juga sebuah proyek besar dengan potensi kebangkitan yang luar biasa.
Resmi Dilego! Keluarga Srivaddhanaprabha Akhirnya Melepas Leicester Setelah 16 Tahun
Kabar penjualan ini menjadi titik balik mengejutkan dari sikap keluarga Srivaddhanaprabha yang sebelumnya sangat berkomitmen. Pada Januari 2026, Chairman Leicester, Aiyawatt Srivaddhanaprabha, masih dengan tegas menegaskan komitmennya terhadap klub dan menyatakan keinginannya untuk melanjutkan visi mendiang ayahnya, Vichai Srivaddhanaprabha. Vichai sendiri meninggal dunia pada 2018 dalam kecelakaan helikopter tragis di luar King Power Stadium yang juga menewaskan empat orang lainnya. Aiyawatt pernah mengatakan bahwa dirinya masih memiliki keterikatan emosional yang sangat kuat dengan Leicester dan ingin memastikan klub berada dalam kondisi prima sebelum meninggalkan kepemilikan.
Namun, keadaan klub yang semakin memburuk dalam beberapa musim terakhir membuat hubungan antara pemilik dan suporter menjadi semakin tegang. Kekecewaan yang awalnya banyak diarahkan kepada Direktur Sepak Bola Jon Rudkin, kemudian meluas kepada seluruh jajaran manajemen klub. Para penggemar merasa manajemen gagal menjaga stabilitas dan prestasi klub. Organisasi kelompok suporter Leicester City, Foxes Trust, bahkan mengeluarkan pernyataan pedih yang menggambarkan kehancuran klub.
“Lima tahun lalu, klub kami adalah tim Premier League mapan dengan skuad, akademi, reputasi, dan fasilitas yang kuat—belum lagi keberhasilan meraih trofi baru-baru ini,” tulis mereka. “Sejak saat itu, kemerosotan klub kami yang mengkhawatirkan, baik di dalam maupun di luar lapangan, telah menjadi sebuah bencana.” Pernyataan ini dengan gamblang menunjukkan betapa beratnya beban yang harus ditanggung oleh para pendukung setia The Foxes.
Kini, dengan proses penjualan yang sudah memasuki babak baru, siapa yang akan menjadi penantang serius untuk mengambil alih Leicester City? Apakah ada investor dengan visi besar yang siap membangkitkan kembali kejayaan klub dari keterpurukan? Semua mata kini tertuju pada langkah selanjutnya dari keluarga Srivaddhanaprabha dan para calon pembeli yang telah menerima brosur Project Lineup. Satu hal yang pasti, sepak bola Inggris akan menyaksikan babak baru dalam sejarah panjang Leicester City yang penuh drama dan kejutan.
Dapatkan juga berita teknologi terbaru hanya di newtechclub.com





