Berita  

Papan Nama Sekolah Roboh di Muna Barat, Siswa Kelas 1 Meninggal Dunia Akibat Tertimpa

MUNA BARAT, Exposenews.id – Hati siapa tak hancur membaca kabar duka ini. Seorang bocah lugu masih duduk di bangku kelas satu, nyawanya melayang usai tertimpa papan nama sekolahnya sendiri. Bupati Muna Barat, La Ode Darwin, langsung menyatakan keprihatinan mendalam atas tragedi yang menimpa siswa SDN 7 Barangka, yang berlokasi di Desa Lapolea, Kecamatan Barangka, Kabupaten Muna Barat, Sulawesi Tenggara. Ia mengaku kaget sekaligus sedih karena kejadian ini merenggut masa depan seorang anak didik.

Siapa sangka, seorang siswa berinisial SL yang baru berusia 7 tahun itu menghembuskan napas terakhir setelah papan nama sekolah berbahan tembok cor ambruk menimpanya pada Kamis (30/4/2026). Selain SL, dua siswa lain ikut menjadi korban, yaitu AA (7) dan AR (9). Keduanya berhasil selamat meski tubuh mereka juga babak belur terkena reruntuhan tembok.

Pemerintah Kabupaten Langsung Ambil Sikap Tegas

Pemerintah Kabupaten Muna Barat tidak tinggal diam. Mereka langsung menganggap insiden nahas ini sebagai alarm bahaya yang wajib dikaji ulang secara serius. Sasarannya jelas: memastikan seluruh gedung dan fasilitas sekolah benar-benar layak pakai. Bupati menegaskan, tidak boleh ada lagi bangunan sekolah yang membahayakan nyawa anak-anak.

Papan Nama Itu Sudah Berdiri Bertahun-Tahun, Usianya Tak Muda Lagi

Menurut penuturan La Ode Darwin, papan nama sekolah yang roboh itu ternyata bukan barang baru. Bangunan tersebut sudah berdiri sejak lama, mungkin puluhan tahun lalu. Karena itu, ia memerintahkan jajarannya untuk menyisir satu per satu seluruh bangunan sekolah di wilayah Muna Barat. Tujuannya sederhana namun krusial: memastikan semuanya masih kuat dan aman.

“Hasil penelusuran di lapangan menunjukkan bahwa papan nama yang roboh itu memang sudah dibangun lama. Makanya, kami bakal memeriksa semua bangunan. Kalau ada yang tidak layak, kami tutup paksa. Tidak akan kami gunakan lagi demi keselamatan anak-anak,” tegas La Ode Darwin dengan nada tegas saat ditemui Jumat (1/5/2026).

Bupati juga langsung menggerakkan Kadis Pendidikan Muna Barat untuk turun ke lapangan. Instruksinya jelas: jangan sampai tragedi serupa terulang lagi. Pemeriksaan bakal mencakup seluruh fasilitas, mulai dari ruang kelas, pagar, hingga struktur bangunan yang dipakai dalam proses belajar mengajar.

“Saya sudah memerintahkan Kepala Dinas Pendidikan untuk mengecek semua sekolah. Fokus utamanya pada kondisi bangunan dan benda-benda yang berpotensi membahayakan siswa, seperti yang terjadi kemarin,” ujar politisi Golkar itu.

Tak hanya itu, Bupati juga sudah menjadwalkan rapat penting bersama semua Kepala SD dan SMP pada Senin (4/5/2026). Dalam rapat itu, mereka akan membahas strategi antisipasi dini serta memastikan standar kelayakan bangunan sekolah benar-benar terpenuhi. Langkah ini diambil agar tidak ada lagi sekolah yang abai terhadap keselamatan siswa.

Begini Kronologi Mencekamnya Saat Papan Nama Itu Roboh

Sementara itu, Kasi Humas Polres Muna, Iptu Muhammad Jufri, menguraikan kronologi kejadian yang membuat bulu kuduk merinding. Semuanya bermula sekitar pukul 10.30 WITA. Saat itu, kegiatan pembelajaran kelas satu baru saja selesai, dan para siswa dipulangkan. Suasana sekolah mulai sepi.

SL dan AA yang masih menunggu jemputan orang tua, memilih duduk-duduk santai di bawah area dekat papan nama sekolah. Mereka mungkin tak menyangka tempat yang biasa mereka gunakan berteduh itu menyimpan bahaya maut.

Tak lama kemudian, sekitar pukul 10.40 WITA, AR datang menghampiri kedua temannya. Tanpa sengaja, ia memegang tiang papan nama sekolah tersebut. Seketika, papan nama raksasa dari tembok cor itu ambruk dengan suara menggelegar. Reruntuhannya langsung menimpa ketiga bocah yang tidak sempat menghindar.

Satu Korban Meninggal di Rumah Sakit, Dua Lainnya Selamat

Mendengar jeritan ketakutan, pihak sekolah dan warga sekitar langsung berhamburan ke lokasi. Mereka bahu-membahu memberikan pertolongan pertama dengan panik namun sigap. SL yang mengalami luka parah di bagian belakang kepalanya, segera digeber ke UGD RSUD Muna Barat yang berada di Desa Lombu Jaya, Kecamatan Sawerigadi.

Namun, nasib berkata lain. Setelah tim medis berusaha mati-matian, akhirnya mereka menggelengkan kepala. Nyawa bocah malang itu tidak bisa diselamatkan. “Iya, nyawanya tidak tertolong,” ujar Iptu Muhammad Jufri dengan nada iba, Jumat (1/5/2026).

Berbeda dengan SL, dua korban lainnya, AA dan AR, hanya mengalami luka-luka. Setelah mendapatkan perawatan medis intensif, kondisi mereka berangsur stabil. Kini mereka sudah dipulangkan ke rumah masing-masing dan masih dalam pemulihan.

Polisi Masih Menyelidiki, Faktor Usia atau Kelalaian?

Kabar terbaru, penyidik Polres Muna terus bekerja. Mereka tengah melakukan pendalaman di lokasi kejadian untuk memastikan penyebab pasti robohnya struktur tembok tersebut. Apakah murni karena faktor usia bangunan yang sudah rapuh dimakan waktu? Atau ada unsur kelalaian lain, seperti perawatan yang tidak pernah dilakukan? Semua masih dalam proses penyelidikan.

“Kami masih mendalami di TKP. Kita ingin tahu pasti penyebabnya, apakah konstruksi lemah atau karena ada faktor lain. Yang jelas, ini jadi pelajaran pahit bagi kita semua,” tukas Iptu Muhammad Jufri.

Tragedi ini menjadi tamparan keras bagi dunia pendidikan di Muna Barat. Satu nyawa anak melayang, dua lainnya cacat sementara. Dan kini, seluruh mata tertuju pada hasil investigasi polisi serta tindakan nyata pemerintah daerah. Semoga kejadian serupa tak terulang di kemudian hari.

Dapatkan juga berita teknologi terbaru hanya di newtechclub.com