Exposenews.id – Sungguh sebuah kejatuhan yang spektakuler! Leicester City secara resmi memastikan diri terlempar ke League One setelah hanya bermain imbang 2-2 melawan Hull City pada pekan ke-44 EFL Championship 2025-2026. Akibat hasil ini, nasib The Foxes pun ditentukan di kandang sendiri.
Beralih ke laga penentu nasib tersebut, pertandingan Leicester City kontra Hull City di Stadion King Power pada Rabu (22/4/2026) dini hari WIB sesungguhnya menjadi penentu hidup mati bagi The Foxes. Namun, alih-alih meraih kemenangan, mereka justru harus puas dengan satu angka.
Sebagai dampak langsung dari hasil imbang ini, Leicester City tak kunjung bergerak dari dasar klasemen, tepatnya di peringkat ke-23 dengan koleksi 42 poin. Mereka pun tertinggal tujuh poin dari tim penghuni zona aman terakhir, yaitu Blackburn Rovers yang duduk di peringkat ke-21. Dengan kata lain, pintu keluar dari jurang degradasi sudah tertutup rapat.
Jika ditelusuri lebih jauh, terdegradasinya Leicester City ini sebenarnya terjadi secara beruntun. Sebelumnya, mereka sudah lebih dulu jatuh dari Premier League pada musim lalu. Sekarang, mereka harus menelan pil pahit turun lagi ke kasta ketiga. Mirisnya, tahun ini tepat genap satu dekade setelah mereka merayakan gelar juara Premier League 2015-2016 di bawah asuhan Claudio Ranieri. Bayangkan, dari puncak tertinggi Inggris, kini mereka harus bermain di League One musim depan. Ini adalah kali kedua dalam sejarah 142 tahun klub yang penuh duka ini.
Pelatih Frustrasi, Pengakuan Jujur di Balik Kehancuran Tim
Lantas, apa penyebab utama kejatuhan ini? Pelatih Leicester City, Gary Rowett, dengan jujur mengakui bahwa ruang ganti tim dipenuhi suasana frustrasi akibat kegagalan musim ini. Menurut pandangannya, ketika tim sangat membutuhkan kemenangan untuk mengejar ketertinggalan poin dari para pesaing, Leicester City justru tampil jauh dari ekspektasi. “Saya melihat sendiri jalannya pertandingan, dan sejujurnya, ini cukup menggambarkan situasi kami sepanjang musim,” ujar Rowett dengan nada kesal. “Kami sama sekali tidak mampu mengimbangi urgensi laga ini. Padahal, kami masih menciptakan beberapa momen bagus yang seharusnya berbuah gol,” tambahnya.
Memang, The Foxes berusaha mati-matian mendominasi jalannya pertandingan. Akan tetapi, Rowett menyoroti satu masalah klasik yang terus berulang: penyelesaian akhir yang buruk membuat mereka sangat sulit mencetak gol. “Dari sisi luar, kami terlihat seperti tim yang mau berjuang. Kami menciptakan banyak peluang, tetapi tidak ada satu pun yang mampu kami konversi menjadi gol. Sungguh, saya frustrasi berat dengan pertandingan ini,” tegasnya.
Yang menarik, Rowett dengan tegas menolak menyalahkan hasil laga ini sebagai biang keladi degradasi. Menurutnya, masalah kronis sudah mengakar sejak awal musim, terutama karena buruknya penampilan The Foxes secara konsisten. “Jika bicara gambaran besar, Anda tidak terdegradasi hanya karena tiga atau empat laga terakhir, tetapi karena performa buruk selama satu musim penuh,” jelasnya. “Kami sudah melewatkan banyak peluang emas sejak Oktober lalu. Namun, itu bukanlah keseluruhan cerita. Catatannya, kami hanya mencatatkan lima clean sheet sepanjang musim. Jadi, ini bukan hanya masalah para penyerang yang tumpul. Di sisi lain, kebobolan kami juga sangat memalukan. Anda bisa melihat sendiri kebobolan gol yang buruk itu lagi malam ini,” pungkas Rowett dengan nada pahit.
Ini Level Degradasi yang Belum Pernah Terjadi Sebelumnya
Di sisi lain, kepahitan ini semakin terasa saat para pakar ikut angkat bicara. Pundit Inggris, Andy Hinchcliffe, mengakui bahwa terdegradasinya Leicester City sangat disayangkan dan sulit diterima akal sehat. Bagaimana tidak? Sepuluh tahun lalu, mereka adalah tim terkuat di Inggris. Kini, mereka harus menerima kenyataan pahit terjun bebas ke kasta ketiga. “Coba Anda lihat kembali klub-klub yang terdegradasi sebelumnya. Saya jamin, Anda tidak akan menemukan satu pun klub lain yang memiliki kualitas dan pengalaman selengkap yang dimiliki Leicester,” kata Hinchcliffe dengan nada heran, dikutip langsung dari Sky Sports.
Bagi legenda hidup Everton itu, nasib buruk Leicester City ini benar-benar sebuah anomali. Apalagi, faktanya The Foxes sempat dijagokan sebagai kandidat kuat juara Championship musim ini. Banyak orang pun memfavoritkan mereka untuk promosi instan kembali ke Premier League. “Ini adalah tim yang diunggulkan untuk memenangkan gelar Championship, tetapi malah terdegradasi ke League One. Sungguh, ini adalah kejadian yang belum pernah terjadi sebelumnya dalam sejarah sepak bola Inggris. Musim yang tak seorang pun di dunia ini pernah menduganya,” tegas Hinchcliffe. “Karena itu, semua orang di kubu pemain Leicester harus mulai introspeksi diri secara mendalam. Jujur saja, hasil memalukan ini benar-benar tidak bisa diterima,” pungkasnya dengan tegas.
Dapatkan juga berita teknologi terbaru hanya di newtechclub.com
