PASURUAN, Exposenews.id – Bencana kebakaran hutan tiba-tiba melalap kawasan Taman Hutan Raya (Tahura) Raden Soerjo di Gunung Arjuno, tepatnya di perbatasan Desa Jatiarjo, Kecamatan Prigen, dan Desa Cendono, Kecamatan Purwosari, Kabupaten Pasuruan. Tanpa menunggu bantuan alat berat, warga bersama Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Pasuruan langsung turun tangan memadamkan api secara manual!
Kebakaran ini muncul di awal musim kemarau, dan BPBD Pasuruan sudah memantau titik api sejak pertama kali muncul. “Kami mendeteksi kebakaran di sekitar Desa Cendono dan Jatiarjo sejak awal kemarau ini,” tegas Sugeng Hariadi, Kepala BPBD Kabupaten Pasuruan, Rabu (23/7/2025).
Api pertama kali berkobar pada Senin (21/7/2025) dan dengan cepat menjalar ke semak-semak serta pepohonan di lereng curam. Angin kencang memperparah situasi, membuat api semakin sulit dikendalikan. Namun, BPBD dan warga tak menyerah! Mereka langsung melakukan pembasahan untuk mencegah api meluas.
“Relawan warga memadamkan api secara manual dengan metode gebyok (memukul api menggunakan ranting). Alhamdulillah, pagi tadi kami dapat laporan bahwa api sudah padam. Tapi, luas area yang terbakar masih dalam investigasi,” jelas Sugeng.
Kepala Desa Jatiarjo, M Dardiri, mengungkapkan bahwa 20 warga desa langsung bergerak ke lokasi kebakaran. Mereka bahu-membahu melawan kobaran api meski dengan peralatan seadanya. “Warga kamilah yang pertama memadamkan api. Sebanyak 20 relawan langsung naik ke lokasi begitu melihat asap membumbung,” ceritanya.
Saat ini, warga masih tetap siaga karena ancaman kebakaran susulan masih mungkin terjadi. BPBD Pasuruan pun memperketat koordinasi dengan pihak Tahura dan warga setempat. Mereka juga menyiagakan tim gabungan lengkap dengan logistik dan peralatan pendukung.
Detik-Detik Warga dan BPBD Melawan Api
Begitu api terlihat, warga langsung bergerak cepat. Mereka menggunakan ranting dan karung basah untuk memukul api. Meski medannya curam dan angin kencang, semangat mereka tak surut.
BPBD juga turun langsung memimpin operasi pemadaman. Mereka membawa alat pemadam sederhana dan berkoordinasi dengan warga untuk memblokir jalur api. “Kami tak bisa hanya mengandalkan alat berat karena medannya sulit. Jadi, pemadaman manual jadi pilihan utama,” ujar salah satu petugas BPBD.
Mengapa Kebakaran Ini Berbahaya?
Gunung Arjuno memiliki ekosistem yang kaya, jadi kebakaran bisa merusak habitat flora dan fauna. Selain itu, lokasi yang terjal membuat pemadaman semakin sulit. Jika api tidak segera dikendalikan, risiko meluas ke pemukiman warga sangat tinggi!
Apa yang Selanjutnya Dilakukan?
BPBD dan warga terus memantau lokasi untuk memastikan tidak ada bara tersisa. Mereka juga menyiapkan posko darurat jika terjadi kebakaran susulan. “Kami tak mau lengah. Musim kemarau baru mulai, jadi kami harus waspada,” tegas Sugeng.
Dukungan Logistik dan Peralatan Diperlukan
BPBD mengaku masih membutuhkan bantuan peralatan pemadam yang lebih memadai. Mereka berharap pemerintah dan pihak terkait segera memberikan dukungan. “Kami butuh alat yang lebih canggih untuk antisipasi kebakaran di masa depan,” ungkap Sugeng.
Meski dengan peralatan seadanya, warga dan BPBD berhasil mengatasi kebakaran ini. Kolaborasi mereka membuktikan bahwa gotong royong masih menjadi senjata ampuh dalam menghadapi bencana.