Exposenews.id – Dunia hiburan Tanah Air mendadak geger setelah penyanyi muda Betrand Peto resmi menghadapi ujian hukum yang sangat berat. Seorang wanita muda berinisial ANW (26) secara mengejutkan mendatangi Polda Metro Jaya untuk mempolisikan putra angkat Ruben Onsu tersebut atas dugaan tindakan pelecehan seksual. Laporan resmi ini sudah tercatat rapi dalam nomor LP/B/6780/1X/2026/SPK//POLDA METRO JAYA tepat pada Sabtu (12/9/2026), sehingga publik kini menyoroti tajam perkembangan kasus hukum yang menimpa sang artis.
Kronologi Malam Kelam di SCBD: Dari Ruangan VIP Berujung Petaka
Tidak ingin tinggal diam, ANW langsung menggandeng kuasa hukumnya, Nathaniel Hutagaol, untuk membongkar secara gamblang rentetan kejadian mencekam tersebut. Mereka mengulas balik peristiwa kelam yang terjadi pada Sabtu dini hari, 12 September 2026, di salah satu kelab malam eksklusif di kawasan SCBD, Jakarta Selatan. Melalui keterangan resminya, pihak korban membeberkan kronologi awal bagaimana mereka bisa berada di lokasi yang sama dengan sang penyanyi.
ANW menjelaskan bahwa Betrand Peto saat itu memang sengaja menyewa satu ruangan khusus (room) di kelab malam ternama tersebut. Namun, suasana mendadak berubah ketika seorang pelayan (waiter) kelab tiba-tiba menghampiri ANW dan temannya yang berinisial D, lalu meminta mereka berdua untuk masuk dan ikut meramaikan suasana di dalam ruangan sang artis.
Menurut penuturan ANW, malam itu ia sebenarnya hanya ingin bersantai menikmati akhir pekan bersama kawannya. “Jadi pada tanggal 12 dini hari itu, saya datang ke salah satu klub di SCBD sekitar jam 02.00 bersama teman saya D. Kami datang untuk santai dan bertemu teman-teman. Tiba-tiba ada salah satu staf atau waiter klub tersebut yang menghampiri dan menawarkan, ‘Mau enggak meramaikan room-nya si BP?’,” ujar ANW saat mengingat kembali momen awal sebelum tragedi tersebut terjadi.
Merasa tidak ada curiga sama sekali, ANW beserta rekannya D akhirnya menyetujui ajakan sang pelayan dan melangkah masuk ke dalam ruangan VIP Betrand Peto.
Sayangnya, suasana santai tersebut mendadak berubah menjadi kepanikan luar biasa ketika kawan ANW, yaitu D, berpamitan pergi sebentar ke kamar kecil. “Handphone saya saat itu tertinggal di sofa luar ruangan. Saat saya keluar mengambil ponsel lalu kembali ke ruangan, teman saya D sudah tidak ada di tempat duduk karena sedang ke toilet,” ungkap ANW yang mulai merasakan kejanggalan pada situasi malam itu.
Tidak lama setelah ANW kembali ke ruangan tanpa kehadiran D, Betrand Peto mendadak berdiri dan langsung mendesak ANW untuk menyusul keluar ruangan bersama-sama.
Saat mendapati ajakan mendadak tersebut, ANW sama sekali tidak menaruh rasa curiga dan mengira bahwa Betrand berniat baik untuk membantunya mencari posisi keberadaan D yang sedang berada di area toilet.
Niat baik yang membayang di benak ANW mendadak sirna menjadi mimpi buruk begitu mereka mendekati area kamar mandi. “Namun sesampainya di depan pintu toilet, di situlah saya mengalami tindakan pelecehan seksual secara paksa dan disertai kekerasan,” cetus ANW dengan nada trauma saat membeberkan perlakuan kasar yang ia terima di lorong sepi tersebut.
Ternyata penderitaan malam itu tidak berhenti pada ANW saja, sebab rekannya berinisial D juga bernasib tragis menjadi korban kekerasan fisik oleh salah satu rekan Betrand. Akibat penganiayaan tersebut, D mengalami luka robek serius pada bagian daun telinganya, sebuah insiden berdarah yang belakangan langsung viral dan memicu kegaduhan besar di media sosial.
Hasil Visum Bicara: Pengacara Ungkap Bukti Lebam dan Kekerasan Fisik
Dalam kesempatan konferensi pers yang sama, sang pengacara, Nathaniel Hutagaol, langsung menunjukkan serangkaian foto bukti nyata yang memperlihatkan tindakan kekerasan fisik dari pihak Betrand terhadap kliennya.
Nathaniel menegaskan bahwa perkara ini sudah melampaui batas pelanggaran kesusilaan biasa karena melibatkan penganiayaan yang nyata. “Kami tegaskan, bukan hanya pelecehan, tetapi ada pemaksaan dan kekerasan fisik. Ini kami tunjukkan bukti-bukti visum,” tegas Nathaniel sembari membentangkan hasil pemeriksaan medis (visum et repertum) resmi dari rumah sakit.
Lebih merindingnya lagi, tim kuasa hukum memamerkan bukti fisik yang merekam jejak kekerasan mendalam di tubuh korban. “Foto memar atau benturan di area wajah atau hidung. Bekas lebam di leher, lengan dan pergelangan tangan yang membiru akibat cengkeraman paksa. Bekas luka cakaran,” tambah Nathaniel yang secara detail memperlihatkan satu per satu bukti foto kerusakan fisik pada tubuh ANW.
Ruben Onsu Buka Suara: Minta Maaf dan Siapkan Klarifikasi Resmi
Menanggapi badai tuduhan yang menghantam sang putra, Ruben Onsu rupanya sudah lebih dulu mengambil langkah cepat dengan mengunggah pernyataan terbuka melalui akun Instagram pribadinya sebelum pelapor menggelar jumpa pers.
Ruben mengawali pernyataannya dengan menyampaikan permohonan maaf yang mendalam atas kegaduhan publik yang timbul akibat berita miring ini. “Pertama-tama, kami memohon maaf atas pemberitaan yang terjadi. Mohon maaf apabila baru pagi ini saya dapat menyampaikan permohonan maaf dan memberikan penjelasan,” tulis Ruben pada hari Minggu untuk meredam simpang siur isu.
Selain itu, pembawa acara kawakan ini berjanji bakal menggali fakta secara obyektif dari semua saksi mata di lokasi kejadian. “Saya juga akan mendengarkan penjelasan dari temannya yang berada di lokasi kejadian, agar saya dapat memahami situasi dan mendapatkan informasi lebih lengkap,” sambung Ruben menegaskan niatnya mencari kebenaran utuh.
Oleh karena itu, Ruben sangat berharap masyarakat tidak terburu-buru menghakimi atau menyudutkan Betrand sebelum seluruh fakta hukum terungkap secara benderang. “Jadi sebelum masalah ini jelas kami berharap kita jangan dulu mengambil kesimpulan atas laporan ini, percayalah kami tidak akan menutup-nutupi apa yang terjadi sebenarnya sesuai bukti-bukti yang ada,” tegas Ruben berkomitmen menjaga transparansi proses penyelidikan.
Sementara itu, kuasa hukum keluarga Ruben Onsu, Minola Sebayang, turut pasang badan dan memberikan pernyataan penyeimbang. Berdasarkan hasil penelusuran internal mereka, tindakan kekerasan dan keributan malam itu murni dilakukan oleh rekan Betrand, sehingga Betrand secara pribadi dituduhkan tidak terlibat langsung dalam aksi pelecehan maupun penganiayaan fisik tersebut.
Sebagai bentuk langkah perlawanan dan klarifikasi resmi atas bola liar yang beredar, pihak Betrand Peto rencananya bakal menggelar konferensi pers berskala besar pada hari ini guna membeberkan fakta versi mereka secara utuh kepada publik.
Dapatkan juga berita teknologi terbaru hanya di newtechclub.com




