KETAPANG, Exposenews.id – Bayangkan harus bernapas di tengah kepulan asap pekat sambil berusaha menyelamatkan tiga orangutan yang ketakutan. Itulah yang dialami tim gabungan saat mengevakuasi primata langka yang terdampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat. Proses penyelamatan dramatis ini memakan waktu sekitar delapan jam penuh!
Hari Jumat (21/8/2026) menjadi momen menegangkan bagi para petugas konservasi. Mereka harus bekerja ekstra keras di perkebunan warga Desa Tanjungpura, Kecamatan Muara Pawan, Ketapang. Yang lebih mengkhawatirkan, kabut asap tebal masih menyelimuti area sekitar karena kebakaran terus berkobar di sejumlah titik. Tim penyelamat terpaksa menggunakan masker dan perlengkapan khusus agar tetap bisa bernapas lega selama misi kemanusiaan ini berlangsung.
Proses Evakuasi yang Menguras Energi dan Emosi
Tim gabungan yang terdiri dari Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Barat Seksi Konservasi Wilayah I Ketapang, Balai Taman Nasional Gunung Palung (TANAGUPA), Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia (YIARI), serta relawan masyarakat sudah tiba di lokasi sejak pukul 07.00 WIB. Mereka langsung menyusun strategi untuk mengamankan ketiga orangutan yang terlihat gelisah di tengah kebun warga.
Demi keselamatan satwa dan petugas, tim pun menggunakan senapan bius sebagai langkah utama. Dokter hewan yang bertugas dengan cermat menghitung dosis anestesi berdasarkan perkiraan berat badan dan kondisi fisik masing-masing orangutan. Namun, siapa sangka ketiga primata ini ternyata sangat lincah dan gesit! Mereka terus bergerak dari satu pohon ke pohon lain, seolah-olah menyadari bahwa ada yang ingin menangkap mereka.
Bayangkan betapa deg-degannya para petugas saat harus mengejar dan membidik orangutan yang terus melompat di tengah asap tebal. Proses pembiusan yang seharusnya bisa lebih cepat justru memakan waktu berjam-jam. Tim harus bersabar dan teliti karena satu kesalahan bidikan bisa membahayakan nyawa satwa langka tersebut. Akhirnya, setelah delapan jam perjuangan melelahkan, ketiganya berhasil dibius dan diamankan dengan selamat.
Ketiga orangutan yang dievakuasi ternyata satu keluarga! Mereka adalah induk bernama Mama Yuni, anaknya yang masih kecil bernama Yuni, dan seekor remaja bernama Pura. Ketiganya terlihat kelelahan dan stres setelah berhari-hari bertahan di kebun warga tanpa akses makanan yang cukup.
Pemeriksaan Medis Sebelum Perjalanan Panjang
Setelah berhasil dievakuasi, tim medis langsung memeriksa kondisi ketiga orangutan secara menyeluruh. Mereka melakukan pengecekan suhu tubuh, detak jantung, pernapasan, serta kondisi fisik secara umum. Tim juga memberikan cairan infus untuk menjaga stabilitas kondisi tubuh ketiga primata tersebut. Langkah ini sangat krusial mengingat mereka sudah berhari-hari kekurangan nutrisi dan terpapar asap kebakaran.
Setelah dinyatakan sehat dan layak dipindahkan, Mama Yuni, Yuni, dan Pura segera dibawa menuju habitat baru mereka di Taman Nasional Gunung Palung. Perjalanan menuju lokasi pelepasliaran memakan waktu sekitar lima jam menggunakan kombinasi transportasi darat dan air. Tim harus melewati medan berat dan kondisi cuaca yang kurang bersahabat untuk mengantarkan ketiga orangutan ke rumah baru mereka.
Mengapa TANAGUPA dipilih sebagai lokasi pelepasliaran? Berdasarkan hasil asesmen tim, kawasan ini dinilai paling aman dan memiliki habitat yang sangat sesuai untuk kelangsungan hidup orangutan. Hutan di sana masih lebat dengan beragam pohon buah yang menjadi sumber makanan favorit orangutan. Selain itu, lokasi ini jauh dari permukiman warga sehingga risiko konflik dengan manusia dapat diminimalkan.
Sesampainya di taman nasional, ketiga orangutan segera dilepasliarkan dengan dukungan penuh dari personel TANAGUPA dan masyarakat setempat. Tim kemudian membawa mereka ke kawasan hutan yang lebih dalam, jauh dari pemukiman penduduk, agar bisa beradaptasi dengan lingkungan alami mereka.
Karhutla Memutus Jalur Pergerakan Orangutan
Ternyata, ketiga orangutan ini sudah terpantau berada di perkebunan masyarakat Desa Tanjungpura sejak awal 2026. Tim Orangutan Protection Unit (OPU) YIARI selama ini terus memantau pergerakan mereka karena keberadaan orangutan di kebun warga berpotensi memicu interaksi negatif dengan masyarakat. Warga setempat sebenarnya sudah cukup sabar menghadapi kedatangan tamu tak diundang ini, namun kekhawatiran tetap ada.
Kawasan hutan di sekitar lokasi ternyata sudah terfragmentasi oleh perkebunan milik warga. Orangutan masih bisa bertahan hidup di sisa-sisa fragmen hutan yang tersisa. Namun, bencana datang ketika kebakaran besar melanda pada Juli dan Agustus 2026. Api dengan ganas menghanguskan fragmen hutan yang selama ini menjadi jalur pergerakan mereka untuk mencari makan dan berpindah tempat.
Dampaknya sangat menghancurkan! Karhutla tidak hanya menghilangkan sumber pakan alami mereka, tetapi juga memutus konektivitas menuju kawasan hutan lainnya. Akibatnya, ketiga orangutan terpaksa terdorong masuk semakin jauh ke perkebunan dan mendekati permukiman warga. Mereka seperti terperangkap di pulau kecil di tengah lautan api dan perkebunan.
Silverius Oscar Unggul, Ketua Umum YIARI, mengungkapkan keprihatinan mendalam atas situasi ini. Menurutnya, karhutla dan perubahan tutupan lahan menjadi ancaman serius bagi kelangsungan hidup orangutan di alam liar. “Ketika hutan terbakar dan koridor pergerakan terputus, orangutan kehilangan ruang untuk mencari makan, berlindung, dan berpindah. Pada akhirnya, mereka terdorong masuk ke kebun dan semakin dekat dengan permukiman manusia,” jelas Silverius pada Selasa (25/8/2026) dengan nada prihatin.
Pria yang akrab disapa Silverius ini juga menekankan bahwa penyelamatan saja tidak cukup dilakukan ketika orangutan sudah terjebak di kawasan masyarakat. Pencegahan kerusakan habitat dan kebakaran harus menjadi perhatian utama semua pihak. “Kalau kita hanya menyelamatkan orangutan ketika mereka sudah terjebak di kebun, kita sebenarnya sedang menangani akibat, bukan akar persoalan,” tegasnya dengan lugas.
Ia menambahkan bahwa hilangnya habitat dan terputusnya koridor pergerakan meningkatkan risiko konflik antara orangutan dan masyarakat. Ini bukan sekadar masalah satwa, tapi juga masalah kemanusiaan karena konflik bisa merugikan kedua belah pihak.
Pemantauan Intensif di Habitat Baru
Kepala Balai Taman Nasional Gunung Palung, Prawono Meruanto, berkomitmen untuk terus memantau ketiga orangutan setelah proses pelepasliaran. Tim lapangan akan secara rutin melacak pergerakan mereka, memantau proses adaptasi, serta memastikan mereka bisa bertahan hidup di habitat baru. “Kawasan Taman Nasional Gunung Palung merupakan habitat alami yang aman untuk mendukung kelangsungan hidup orangutan,” ujarnya penuh keyakinan.
Sementara itu, Kepala Balai KSDA Kalimantan Barat, Murlan Dameria Pane, menekankan betapa pentingnya menjaga keutuhan hutan dan kawasan bernilai konservasi tinggi. Ia dengan tegas menyatakan bahwa pencegahan karhutla sangat krusial untuk menjaga keseimbangan ekosistem. “Kita harus bergerak lebih cepat dan lebih serius dalam mencegah kebakaran hutan. Jangan sampai semakin banyak satwa liar kehilangan habitat dan masuk ke permukiman,” pungkas Murlan dengan nada serius.
Kisah penyelamatan Mama Yuni, Yuni, dan Pura menjadi pengingat bagi kita semua bahwa nasib orangutan sangat bergantung pada kelestarian hutan. Saat api dan asap menghancurkan rumah mereka, manusia harus turun tangan menyelamatkan. Namun, yang lebih penting adalah menghentikan kebakaran sebelum terjadi dan menjaga hutan tetap utuh untuk generasi mendatang.
Dapatkan juga berita teknologi terbaru hanya di newtechclub.com





