Exposenews.id – Berdasarkan laporan yang dirilis Sky Sports, para asosiasi sepak bola Eropa segera menggelar pertemuan darurat secara virtual pekan ini. Pertemuan tersebut bertujuan membahas penolakan bulat terhadap pembentukan perusahaan baru yang diberi nama FIFA Forward Enterprise. Ancaman boikot pun mulai bergulir di antara federasi-federasi Eropa.
FIFA nekat membentuk anak perusahaan dengan nilai fantastis mencapai 20 miliar dolar AS. Lembaga sepak bola dunia itu juga berencana melepas lebih dari 20 persen sahamnya kepada investor eksternal melalui penggalangan dana sebesar 4,2 miliar dolar AS. Keputusan ini langsung memicu kemarahan UEFA yang merasa dikhianati.
Yang membuat situasi semakin runcing, FIFA baru mengonfirmasi rencana tersebut setelah UEFA lebih dulu menyampaikan kekhawatirannya secara terbuka. Sikap FIFA ini dianggap sebagai bentuk pengabaian terhadap mitra terbesarnya sendiri.
UEFA Menggebrak: “Sepak Bola Bukan Dagangan!”
UEFA menilai langkah FIFA sudah melampaui batas yang seharusnya tidak pernah dilanggar oleh lembaga pengelola sepak bola. Dalam pernyataan resmi yang cukup keras, UEFA menegaskan bahwa tata kelola dan jiwa sepak bola bukanlah aset yang bisa diperjualbelikan begitu saja.
“Ini telah melewati batas yang seharusnya tidak pernah dilampaui oleh institusi pengelola sepak bola,” demikian bunyi pernyataan UEFA yang menggetarkan ruang konferensi FIFA.
“UEFA memandang persoalan ini dengan sangat serius. Jiwa dan tata kelola sepak bola bukanlah aset untuk diperdagangkan, terlebih tanpa transparansi mengenai siapa yang akan memperoleh keuntungan finansial. Tidak seorang pun memiliki sepak bola. Itu bukan milik FIFA untuk dijual,” tegas pernyataan tersebut.
Kemarahan UEFA tidak berhenti di situ. Berdasarkan laporan yang beredar, sejumlah federasi Eropa sudah bersedia menggunakan ancaman paling keras berupa boikot Piala Dunia jika Infantino tidak segera membatalkan rencananya. Bayangan Piala Dunia tanpa kehadiran raksasa-raksasa Eropa mulai tampak nyata.
Piala Dunia berikutnya yang dijadwalkan berlangsung adalah Piala Dunia Wanita 2027 di Brasil. Namun, ancaman boikot ini bisa mengguncang seluruh kalender turnamen FIFA ke depannya.
Sejarah Berulang: Saat UEFA Pernah Menang
Ancaman serupa ternyata pernah muncul pada 2021 silam. Saat itu, FIFA mengusulkan penyelenggaraan Piala Dunia setiap dua tahun, sebuah ide yang langsung disambut dengan penolakan sengit dari UEFA.
Presiden UEFA Aleksander Ceferin dengan tegas menyatakan bahwa negara-negara Eropa tidak akan berpartisipasi dalam skema tersebut. Tekanan kuat dari UEFA akhirnya memaksa FIFA membatalkan wacana kontroversial itu. Kini, sejarah sepertinya terulang dengan babak baru yang lebih panas.
Hubungan Merenggang: Konflik Berkepanjangan UEFA vs FIFA
Keretakan hubungan antara UEFA dan FIFA memang terus memburuk dalam beberapa waktu terakhir, bagaikan gunung es yang semakin tampak permukaannya. Setiap insiden memperlebar jurang pemisah di antara kedua institusi sepak bola terbesar di dunia.
Pada Piala Dunia 2026, UEFA melontarkan kecaman pedas terhadap keputusan FIFA yang mencabut hukuman larangan bermain bagi penyerang Amerika Serikat, Folarin Balogun. Keputusan kontroversial ini terjadi setelah adanya permintaan langsung dari Presiden Amerika Serikat Donald Trump, sebuah intervensi politik yang dinilai UEFA telah mencederai independensi FIFA.
Ceferin kemudian mengambil sikap tegas dengan tidak menghadiri final Piala Dunia sebagai bentuk protes keras, meskipun sebelumnya ia hadir pada laga pembuka turnamen. Kehadirannya di awal dan ketidakhadirannya di akhir menjadi sinyal kuat ketidakpuasan UEFA.
Memasuki tahun 2025, ketegangan kembali memuncak ketika UEFA mengkritik Infantino karena dinilai lebih mengutamakan kepentingan politik pribadi. Kritikan ini muncul setelah Infantino datang terlambat ke Kongres FIFA demi mengikuti lawatan Presiden Trump ke kawasan Teluk. UEFA menilai tindakan tersebut tidak pantas bagi seorang pemimpin organisasi sepak bola global.
Kabar Buruk: Investor dari Lingkaran Trump
Rencana FIFA Forward Enterprise semakin memunculkan sorotan tajam karena kelompok investor utama yang diusulkan adalah Thrive Eternal, sebuah perusahaan yang dipimpin Josh Kushner. Fakta bahwa Josh merupakan saudara dari Jared Kushner, menantu Donald Trump, langsung memicu kecurigaan di kalangan pengamat sepak bola.
Sebelumnya, Sky News juga melaporkan bahwa Infantino sempat mempromosikan gagasan mata uang kripto FIFA dalam sebuah acara yang diselenggarakan oleh perusahaan keluarga Trump, World Liberty Financial. Keterlibatan tokoh-tokoh dari lingkaran Trump dalam rencana bisnis FIFA semakin membuat UEFA khawatir akan adanya agenda politik di balik keputusan komersial ini.
Pembelaan Infantino: “Ini Demi Demokratisasi Sepak Bola”
Menghadapi gelombang kritik, Gianni Infantino dengan cepat membantah anggapan bahwa langkah tersebut semata-mata bersifat komersial. Presiden FIFA itu mencoba meyakinkan publik bahwa ada tujuan mulia di balik rencana kontroversialnya.
Menurut Infantino, pembentukan FIFA Forward Enterprise bertujuan meningkatkan nilai bisnis sepak bola sehingga lebih banyak dana dapat didistribusikan kepada 211 asosiasi anggota FIFA. Ia berargumen bahwa skema ini akan membawa manfaat besar bagi federasi-federasi kecil di seluruh dunia.
Dalam skema yang diusulkan, setiap federasi nasional akan menerima dana hingga 20 juta dolar AS untuk periode 2027-2030. Jumlah ini meningkat signifikan dari sebelumnya yang hanya 8 juta dolar AS. Dana tersebut dapat digunakan untuk pembangunan infrastruktur, pengembangan pelatih, tim nasional, kompetisi, hingga pembinaan sepak bola akar rumput.
“Tahap pertumbuhan berikutnya membutuhkan struktur baru, di mana sisi komersial sepak bola dijalankan sebagai bisnis yang fokus dan nilai yang dihasilkannya dapat dibagikan secara lebih luas ke seluruh dunia,” kata Infantino dalam upayanya meredakan ketegangan.
“Setiap asosiasi anggota FIFA harus memiliki kesempatan memperoleh bagian yang adil dari pendanaan untuk menentukan masa depannya sendiri. Ini tentang demokratisasi sepak bola di seluruh dunia,” tambahnya dengan nada meyakinkan.
Kekuatan Tawar UEFA: Meski Minoritas, Namun Mayoritas Nilai
Meskipun UEFA hanya memiliki 55 dari 211 anggota FIFA, posisi tawar federasi Eropa ini tetap sangat kuat dan tidak bisa diabaikan begitu saja. Negara-negara Eropa merupakan kontributor utama terhadap daya tarik dan nilai komersial Piala Dunia.
Fakta bahwa Spanyol menyandang status sebagai juara bertahan Piala Dunia putra dan putri semakin memperkuat posisi tawar Eropa. Tanpa partisipasi tim-tim elite Eropa, Piala Dunia akan kehilangan pesona dan nilai komersialnya yang selama ini menjadi daya tarik utama turnamen tersebut.
Piala Dunia tanpa bintang-bintang Eropa seperti Kylian Mbappe, Jude Bellingham, atau Rodri akan terasa hambar bagi pecinta sepak bola di seluruh dunia. UEFA tampaknya sadar betul akan kekuatan ini dan siap menggunakannya sebagai senjata pamungkas.
Masa Depan Sepak Bola di Persimpangan Jalan
Konflik antara FIFA dan UEFA kini mencapai titik kritis yang bisa mengubah lanskap sepak bola global selamanya. Keputusan FIFA untuk membuka pintu bagi investor swasta dianggap UEFA sebagai langkah berbahaya yang bisa mengancam integritas olahraga paling populer di dunia.
Para pengamat sepak bola khawatir bahwa langkah ini akan membuka pintu bagi kepentingan komersial yang bisa menggerus nilai-nilai luhur sepak bola. Jika investor swasta memiliki saham dalam perusahaan komersial FIFA, apakah mereka akan mendikte kebijakan-kebijakan demi keuntungan finansial semata?
Pertemuan darurat UEFA pekan ini akan menjadi penentu arah konflik ini. Akankah ancaman boikot benar-benar direalisasikan? Atau akankah kedua belah pihak menemukan jalan tengah yang bisa menyelamatkan sepak bola dari perpecahan terbesar dalam sejarahnya?
Satu hal yang pasti: Gianni Infantino tidak akan menyerah begitu saja pada rencana besarnya, sementara UEFA dipastikan tidak akan tinggal diam melihat sepak bola dijadikan komoditas. Pertarungan antara dua raksasa ini masih panjang dan dunia sepak bola bersiap menyaksikan babak selanjutnya.
Dapatkan juga berita teknologi terbaru hanya di newtechclub.com
