Exposenews.id – Setelah berhasil menorehkan segudang kesuksesan gemilang di bangku kepelatihan klub-klub raksasa Eropa, mulai dari Spanyol, Jerman, hingga Inggris, publik sepak bola pun kini mulai memanas dengan satu pertanyaan besar: ke mana selanjutnya Pep Guardiola, pelatih jenius asal Catalunya ini, akan berlabuh? Fokus utama saat ini tertuju pada kawasan Mediterania, yang seolah menjadi magnet kuat bagi sang arsitek taktik berusia 55 tahun tersebut, dan para penggemar tentu dibuat penasaran dengan kelanjutan kisah kariernya yang penuh kejutan.
Berdasarkan laporan terbaru yang dirilis oleh Sky Italia, kabar mengejutkan datang dari Federasi Sepak Bola Italia atau yang lebih akrab disapa FIGC. Mereka diketahui tengah bergerak cepat dan melakukan pendekatan luar biasa intens untuk membujuk Pep Guardiola agar mau memegang kendali atas skuad kebanggaan Negeri Pizza tersebut. Bahkan, langkah mereka tidak main-main, sebab upaya meyakinkan mantan manajer Manchester City itu dilakukan di luar batas geografis Italia, menunjukkan betapa seriusnya niat mereka untuk mendatangkan pelatih top dunia ini.
Yang membuat publik makin terkejut adalah keterlibatan langsung seorang legenda hidup sepak bola Italia, Paolo Maldini, yang kini menjabat sebagai direktur teknis anyar FIGC. Ia tidak tinggal diam, melainkan turun tangan secara frontal dengan menggandeng penasihat khususnya, Leonardo, untuk terbang jauh ke Barcelona. Keduanya dilaporkan menggelar serangkaian pembicaraan intensif yang berlangsung selama tiga hari penuh, sehingga spekulasi mengenai masa depan Guardiola pun semakin memanas dan menjadi perbincangan utama di berbagai kalangan.
Tentu saja, daftar calon pelatih yang diincar FIGC sebenarnya tidak hanya berputar pada satu nama. Beberapa juru taktik lokal seperti Roberto Mancini dan Andrea Pirlo sempat masuk dalam radar mereka sebagai alternatif yang cukup menjanjikan. Namun, menariknya, FIGC kini memberikan prioritas tertinggi kepada Guardiola, dan jika kesepakatan ini benar-benar tercapai, maka ia akan mengukir sejarah baru sebagai pelatih asing kedua yang memimpin timnas Italia setelah era 1960-an. Sebuah langkah revolusioner yang tentu akan mengguncang peta persepakbolaan dunia.
Sebenarnya, kultur dan gaya bermain sepak bola Italia bukanlah hal asing bagi pria yang akrab disapa Pep ini. Ia tidak hanya fasih berbahasa setempat, tetapi juga pernah merasakan kerasnya persaingan Serie A saat masih aktif sebagai pemain. Pada kurun waktu 2001 hingga 2003, ia pernah membela seragam Brescia dan AS Roma, sehingga atmosfer sepak bola Italia sudah mendarah daging dalam dirinya. Hal ini tentu menjadi nilai lebih yang membuatnya mampu beradaptasi dengan cepat jika nantinya resmi menerima tawaran tersebut.
Proyek Jangka Panjang Jadi Kunci Utama Negosiasi
Situasi tim nasional Italia saat ini memang sedang berada dalam masa transisi yang cukup kritis dan membutuhkan kehadiran nakhoda baru yang visioner. Sebelumnya, Gennaro Gattuso telah mengundurkan diri dari jabatannya pada bulan April lalu, menyusul kekalahan menyakitkan melalui adu penalti dari Bosnia-Herzegovina di final play-off Kualifikasi Piala Dunia 2026. Kekalahan pahit ini tidak hanya mencoreng memori manis kemenangan mereka atas Inggris di final Euro 2021, tetapi juga menyebabkan Azzurri gagal tampil di Piala Dunia 2026 di Amerika Utara untuk ketiga kalinya secara beruntun—sebuah noda hitam yang tentu sangat memalukan bagi negara berjuluk empat bintang tersebut.
Banyak pihak awalnya berasumsi bahwa gaji selangit yang biasa diterima Guardiola akan menjadi batu sandungan terbesar dalam upaya FIGC mendekatinya. Namun, laporan terbaru dari Sky Sport justru membantah anggapan tersebut, karena masalah finansial ternyata bukanlah penghalang utama pasca-pertemuan tatap muka yang telah berlangsung. Sebaliknya, sang pelatih fenomenal itu dikabarkan lebih tertarik pada tawaran proyek empat tahun yang serius, sungguh-sungguh, dan komprehensif untuk membangkitkan kembali marwah sepak bola Italia yang sempat meredup. Proyek jangka panjang inilah yang menjadi kunci utama untuk menarik minatnya.
Kedekatan Emosional dengan Skuad Azzurri Jadi Senjata Andalan
Di luar aspek taktik dan strategi, faktor kedekatan personal ternyata menjadi senjata ampuh yang digunakan FIGC dalam proses negosiasi ini. Guardiola diketahui memiliki ikatan emosional yang sangat kuat dengan Carlo Mazzone, pelatihnya semasa ia berseragam Brescia dulu, sehingga hubungan itu menciptakan kenangan manis yang sulit dilupakan. Selain itu, ia juga memiliki hubungan persahabatan yang erat dengan Paolo Maldini, yang kini menjadi ujung tombak FIGC dalam merekrutnya. Kedekatan ini jelas memberikan keuntungan tersendiri bagi pihak federasi.
Salah satu momen yang menunjukkan betapa besarnya rasa hormat Guardiola terhadap Maldini terjadi pada tahun 2009, ketika ia mendedikasikan trofi Liga Champions yang diraihnya bersama Barcelona untuk sang bek legendaris yang kala itu baru saja memutuskan gantung sepatu. Dalam sebuah wawancara pascalaga final yang dikutip dari Football Italia, Guardiola dengan penuh kekaguman menyatakan, “Paolo telah mendapat kekaguman dari seluruh dunia selama 25 tahun, jadi jika ia berubah pikiran dan ingin bermain satu tahun lagi, ia bisa datang dan bergabung dengan kami.” Ia pun menambahkan, “Memenangkan trofi ini di Italia sungguh istimewa bagi saya. Saya persembahkan piala ini untuk Maldini.” Pernyataan tersebut menunjukkan betapa kuatnya ikatan batin di antara keduanya.
Yang menarik, Guardiola bukanlah sosng asing dengan kehidupan di Italia. Ia kerap kembali ke sana untuk menghabiskan waktu liburan, menikmati kuliner khas, dan menjalani rutinitas makan malam bersama mantan rekan-rekan setimnya yang kini juga berprofesi sebagai pelatih. Kebiasaan ini semakin memperkuat ikatan emosionalnya dengan negara tersebut dan membuat proses adaptasi, jika ia benar-benar menerima pinangan, berjalan lebih mulus dari perkiraan banyak orang.
Dapatkan juga berita teknologi terbaru hanya di newtechclub.com
