Costacurta Soroti 2 Kelemahan Utama Milan Usai Dipermalukan Atalanta: Fisik dan Mental Loyo

Exposenews.id – Legenda hidup AC Milan, Alessandro Costacurta, tak kuasa menahan kekecewaannya. Usai menyaksikan anak asuh Paulo Fonseca dibantai tamunya sendiri, ia langsung melontarkan kritik pedas kepada Sky Sport. Bagi Rossoneri, malam di San Siro benar-benar berubah menjadi mimpi buruk.

Hasil Liga Italia: AC Milan vs Atalanta Berakhir Tragis

Laga panas Liga Italia antara AC Milan kontra Atalanta baru saja bergulir di Stadion San Siro, Milan, pada Minggu (10/5/2026). Sayangnya, bagi tuan rumah, laga ini berakhir dengan petaka. Alih-alih meraih poin penuh, Milan justru harus menelan pil pahit.

Mimpi Liga Champions Milan Hancur Berantakan

Akibat kekalahan 2-3 dari Atalanta ini, upaya AC Milan untuk mengamankan tiket Liga Champions musim depan mengalami pukulan telak. Bayangkan, mereka sempat tertinggal 0-3 terlebih dulu! Gol-gol mematikan dari Ederson (7′), Davide Zappacosta (29′), dan Giacomo Raspadori (52′) benar-benar membuat publik San Siro terdiam. Wajar jika setelah pertandingan, protes keras dari para penggemar terhadap manajemen klub pun tak terelakkan. Memang, tim tamu mampu memperkecil kedudukan lewat gol-gol larut Strahinja Pavlovic dan penalti Christopher Nkunku. Namun, hasil ini tetap menyakitkan sekaligus mencatatkan rekor buruk: tiga pertandingan beruntun Rossoneri gagal menang di Serie A.

Costacurta: “Ada Sesuatu yang Tragis di Kubu Milan!”

Bagi Costacurta, hasil memalukan ini bukan lah kebetulan. Ia dengan tegas menyebut ada masalah serius di tubuh tim, terutama dalam aspek kebugaran fisik dan mental. “Bukan cuma babak pertama hari ini, ini akumulasi fatal dari lawan Udinese, Juventus, dan Sassuolo,” ujar Costacurta dengan nada geram. Ia menambahkan, “Kami bermain seperti ini dalam empat dari enam pertandingan terakhir!”

Lebih lanjut, legenda yang pernah meraih tujuh scudetto dan lima gelar Liga Champions ini mengungkap fakta mengejutkan. “Para pemain Rossoneri sudah berusaha mati-matian hari ini, tetapi mereka kehilangan banyak kejernihan berpikir dan kesegaran mental,” jelasnya. Puncaknya, ia memberikan vonis paling keras: “Tim ini tiba di momen krusial musim dalam kondisi kehabisan napas!”

Protes Fans Mengarah ke Manajemen: Kisruh Maldini Diungkit

Tak berhenti di situ, Costacurta kemudian menyerempet isu panas yang selama ini membakar emosi fans: protes kepada manajemen. Ia secara gamblang menyinggung keputusan kontroversial terkait pemecatan Paolo Maldini. “Bahkan orang yang tak kenal saya pun tahu bahwa melepas Paolo Maldini adalah sebuah kesalahan besar,” tegasnya.

Menurut Costacurta, banyak keputusan buruk telah dibuat oleh petinggi klub. “Paolo sangat hebat dalam menciptakan atmosfer juara selama bertahun-tahun,” kenangnya. “Saya yakin akan hal itu karena saya tahu betapa besarnya kepeduliannya dalam membangun fondasi ruang ganti. Fondasi yang mampu menumbuhkan energi, positivitas, dan keberanian.” Kini, fondasi itu seolah runtuh, dan hasilnya terlihat jelas di atas lapangan.

Di Canio Memperparah: “Nol Identitas, Nol Antusiasme!”

Sementara itu, pengamat lain, Paolo Di Canio, ikut membeberkan kebobrokan Milan. Eks striker dengan mulut tajam itu dengan sinis menganalisis krisis yang melanda Rossoneri. “Nol identitas, nol antusiasme, nol kepribadian: tiga angka nol yang tidak akan membawa kemana-mana!” ledeknya.

Di Canio menegaskan, semua keburukan itu terlihat sangat jelas hari ini, meskipun para pemain menunjukkan komitmen. “Namun, saya tidak tertipu oleh gol-gol di menit-menit akhir,” ujarnya sinis. “Dalam situasi seperti ini, kualitas dan mentalitas banyak pemain justru semakin terlihat. Sejujurnya, tidak terlalu sulit bermain di depan 70.000 penonton di San Siro jika tak punya hati,” pungkas Di Canio, menancapkan pisau terakhir pada luka Milan.

Runtuhnya Fondasi: Dari Ruang Ganti Berenergi Hingga Nol Kepribadian

Singkatnya, kritik membangun yang dilontarkan oleh Costacurta dan Di Canio secara bersama-sama menyoroti satu hal: AC Milan saat ini ibarat kapal tanpa nahkoda. Akumulasi performa buruk dibiarkan, kebugaran fisik dan mental diabaikan, dan keputusan manajerial seperti pemecatan Paolo Maldini dinilai sebagai pemicu runtuhnya atmosfer positif di ruang ganti. Hasilnya, sebuah tim yang lahir di San Siro justru dipermalukan tamunya sendiri, sementara mimpi Liga Champions berubah menjadi mimpi buruk yang berkepanjangan. Para pemain memang berusaha, tetapi usaha tanpa kejernihan dan fondasi mental hanyalah kesia-siaan belaka.

Dapatkan juga berita teknologi terbaru hanya di newtechclub.com