TERNATE, Exposenews.id – Bayangkan berada di tengah laut lepas, ombak setinggi rumah menghantam lambung kapal, dan tiba-tiba… mesin mati total. Inilah mimpi buruk yang benar-benar dialami oleh tujuh anak buah kapal (ABK) KM Gandha Nusantara 17. Kapal milik PT Pelni ini tiba-tiba mati mesin di perairan ganas antara Pulau Batang Dua, Kota Ternate, Maluku Utara, pada Minggu (15/3/2026). Situasi semakin mencekam karena ganasnya gelombang langsung membuat kapal bermiring 20 derajat, hampir menyentuh titik kritis sebelum tenggelam.
Kabar darurat ini pertama kali diterima oleh Kantor Pencarian dan Pertolongan (Basarnas) Ternate langsung dari manajemen PT Pelni. Kepala Seksi Operasi dan Siaga Basarnas Ternate, Ferdinando, mengonfirmasi bahwa sinyal bahaya masuk melalui sambungan telepon dari Bapak Rudi Arif, perwakilan PT Pelni Ternate. “Laporan tepatnya kami terima pada hari Minggu, beliau mengabarkan bahwa ada kapal mereka dalam kondisi darurat di tengah laut,” ujar Ferdinando saat dikonfirmasi awak media.
KM Gandha Nusantara 17 memulai pelayarannya dari Bitung menuju Ternate pada Sabtu malam, tepatnya pukul 22.00 WIT. Pelayaran yang diharapkan lancar ini berubah menjadi drama menegangkan hanya sepuluh jam kemudian.
Masalah Mesin di Tengah Perjalanan
Tanpa diduga, sekitar pukul 08.00 WIT, getaran mesin yang biasanya menggelegar tiba-tiba berhenti. Kapal mati mesin di titik paling rawan. Para kru jelas tidak tinggal diam. Mereka segera turun ke ruang mesin, berpeluh keringat mencoba segala cara untuk menghidupkan kembali jantung kapal tersebut. Sayangnya, mesin tetap diam membisu. Teknis di lapangan ternyata lebih rumit dari perkiraan awal, dan perbaikan darurat yang mereka lakukan belum membuahkan hasil.
Di tengah keputusasaan, muncullah secercah harapan. KM Sabuk Nusantara 115, yang kebetulan melintas di sekitar lokasi kejadian, melihat situasi genting tersebut. Mereka sigap mendekat dan berinisiatif menarik kapal karam menuju tempat yang lebih aman. Tapi, laut sedang tidak bersahabat. Alam seolah berkata lain. Ombak menjulang setinggi 2,5 hingga 3 meter menggulung begitu ganas, membuat tali penarik hampir putus dan manuver menjadi mustahil. Upaya penyelamatan secara tarik-menarik pun terpaksa dihentikan demi keselamatan kedua kapal.
“Ketinggian ombak memang menjadi kendala terbesar saat itu. Setiap kali KM Sabuk Nusantara mencoba mendekat, mereka terpental oleh arus. Kondisi ini yang membuat kemiringan kapal semakin parah, mencapai 20 derajat,” jelas Ferdinando menggambarkan betapa ganasnya situasi di lokasi.
Tim SAR Gabungan Meluncur
Menyadari darurat yang tidak bisa ditangani sendiri, Kapten kapal segera mengambil keputusan tepat: mengaktifkan prosedur darurat dan melaporkan kondisi sebenarnya kepada pihak Pelni. Tanpa membuang waktu, Pelni meneruskan informasi ini ke Basarnas. Sekitar pukul 12.15 WIT, titik-titik krisis pun berubah menjadi titik kordinasi penyelamatan.
Tim Rescue Kantor SAR Ternate segera bergerak cepat. Mereka meluncur membelah ombak menggunakan KN SAR 237 Pandudewanata, sebuah kapal cepat yang diandalkan dalam misi-misi berbahaya. Mereka tidak bergerak sendiri. Tim SAR gabungan ini merupakan kekuatan kolaborasi yang solid, terdiri dari personel Basarnas, satuan Polairud Polda Maluku Utara, para petugas tangguh dari KPLP Ternate, perwakilan manajemen PT Pelni, serta KM Sabuk Nusantara 115 yang tetap setia berada di dekat lokasi untuk memantau situasi.
Proses evakuasi jelas tidak mudah. Tim penyelamat harus beradu strategi dengan alam. Gelombang tinggi masih menjadi momok utama yang mengancam keselamatan proses naik-turunnya kru ke kapal penyelamat. Setiap gerakan diperhitungkan dengan cermat oleh para profesional SAR. Mereka tahu, satu kesalahan kecil bisa berakibat fatal.
Hingga berita ini diturunkan, tim SAR gabungan masih terus berjibaku dengan waktu dan ombak. Fokus utama mereka jelas: menyelamatkan nyawa tujuh ABK yang masih setia bertahan di kapal yang miring. Ferdinando menambahkan, koordinasi terus dilakukan untuk memastikan proses evakuasi berjalan lancar dan aman.
“Kami terus memantau pergerakan tim di lapangan. Semoga cuaca sedikit bersahabat agar proses evakuasi bisa segera tuntas dan seluruh ABK bisa dievakuasi dalam keadaan selamat,” pungkas Ferdinando dengan nada penuh harap.
Kisah ini menjadi pengingat betapa dahsyatnya kekuatan alam dan betapa heroiknya perjuangan para penyelamat yang rela membelah badai demi menyelamatkan nyawa sesama. Semua mata kini tertuju pada laut Ternate, berharap kabar baik segera tiba.
Dapatkan juga berita teknologi terbaru hanya di newtechclub.com
