Lebih dari 1,6 Juta Jemaah Haji Lontar Jumrah di Mina, Puncak Ibadah di Tengah Terik Ekstrem

RIYADH, Exposenews.id – Hari ini, lebih dari 1,6 juta jemaah haji dari berbagai penjuru dunia memadati Mina, Arab Saudi, untuk menjalankan ritual lontar jumrah. Prosesi sakral ini bertepatan dengan perayaan Idul Adha yang jatuh pada Jumat (6/6/2025). Sejak fajar menyingsing, para jemaah sudah bersiap melemparkan tujuh batu kecil ke tugu besar simbol setan, mengikuti tradisi yang bermula dari kisah Nabi Ibrahim. Ritual ini tidak hanya sekadar formalitas, tetapi juga melambangkan perlawanan terhadap godaan, sebagaimana Nabi Ibrahim pernah melempar setan yang berusaha menggoyahkan tekadnya untuk menyembelih Ismail.

Antisipasi Cuaca Ekstrem dan Jamaah Ilegal

Pemerintah Arab Saudi tak main-main dalam mengamankan ritual tahun ini. Mereka mengerahkan sejumlah langkah ketat, termasuk mitigasi cuaca panas ekstrem dan pengawasan terhadap jemaah tanpa izin. Arab Saudi mengambil langkah ini untuk mencegah tragedi tahun lalu terulang kembali, saat 1.301 jemaah meninggal dunia—sebagian besar karena kelelahan menghadapi sengatan panas 51,8°C.

“Jemaah ilegal yang tidak memperoleh akomodasi layak atau perlindungan memadai dari cuaca ekstrem mendominasi daftar korban,” tegas pejabat Kementerian Haji Saudi dalam konferensi pers yang AFP laporkan.

Perlu diketahui, kuota haji diatur ketat melalui sistem undian per negara. Namun, tingginya biaya haji resmi membuat banyak orang nekat berangkat tanpa dokumen.

Lembah Mina bukan tanpa sejarah kelam. Pada 2015, lokasi ini menjadi saksi salah satu bencana terburuk dalam haji modern: 2.300 jemaah tewas akibat kepadatan saat lontar jumrah. Sejak itu, Arab Saudi membenahi sistem pengamanan dengan memperlebar jalur dan mengatur arus jemaah. Meski demikian, kerumunan tetap menjadi tantangan, apalagi dengan cuaca yang semakin tak bersahabat.

Haji: Ritual Suci yang Juga Menggerakkan Ekonomi

Di balik nilai spiritualnya, haji adalah mesin ekonomi bagi Arab Saudi. Setiap tahun, kerajaan ini meraup miliaran dolar dari haji dan umrah. Tak hanya itu, peran Raja Saudi sebagai Penjaga Dua Masjid Suci juga semakin dikukuhkan melalui event ini. Bagi dunia Islam, haji adalah simbol persatuan—meski di lapangan, kesenjangan antara jemaah resmi dan ilegal kerap terlihat nyata.

Idul Adha dan Makna Pengorbanan

Idul Adha tahun ini tak hanya dirayakan dengan lontar jumrah, tetapi juga penyembelihan hewan kurban. Kambing, domba, sapi, hingga unta disembelih sebagai bentuk ketakwaan, mengikuti teladan Nabi Ibrahim. Momentum ini mengingatkan umat Islam tentang arti pengorbanan dan ketaatan—nilai yang relevan di tengah tantangan haji modern, mulai dari cuaca ekstrem hingga masalah keamanan.

Upaya Saudi Menjaga Keselamatan Jemaah

Arab Saudi terus berinovasi untuk meminimalisir risiko. Tahun ini, mereka memasang lebih banyak tenda ber-AC, menyediakan titik-titik distribusi air gratis, dan memperketat pengecekan dokumen. Namun, solusi terbaik tetap ada di tangan jemaah sendiri: mematuhi aturan dan menghindari niat berhaji secara ilegal. Sebab, di balik kemegahan ritual ini, keselamatan tetaplah yang utama.

Haji 2025 sekali lagi membuktikan ketangguhan jutaan muslim dalam menjalankan rukun Islam kelima. Di tengah teriknya Mina, di antara batu yang dilemparkan, dan dalam doa-doa yang dipanjatkan, terukir kisah tentang iman, tantangan, dan harapan. Bagi Arab Saudi, ini adalah tanggung jawab besar; bagi jemaah, ini adalah puncak perjalanan spiritual. Dan bagi dunia, haji tetap menjadi fenomena yang memesona—baik secara religius maupun sosial.