Exposenews.id – Asosiasi Petani Tebu Rakyat Indonesia (APTRI) mendadak melayangkan desakan keras agar pemerintah Indonesia memblokir rencana penambahan kuota impor gula kristal rafinasi (GKR) sepanjang tahun 2026.
Langkah berani ini langsung mencetuskan perhatian publik sebab produksi gula dalam negeri sedang melonjak tajam dan pasar domestik akhirnya berhasil menyerap hasil panen para petani lokal secara maksimal.

Secara tegas, Ketua Dewan Pimpinan Nasional APTRI, Soemitro Samadikoen, menyatakan bahwa capaian produksi gula tahun ini sebenarnya sudah sangat melimpah untuk menutupi seluruh kebutuhan konsumsi masyarakat, meskipun realisasi totalnya belum menyentuh target ideal pemerintah.
Oleh karena itu, perhitungan angka produksi gula secara nasional saat ini memang masih terus berjalan lantaran seluruh pabrik penggilingan tebu belum menyelesaikan seluruh rangkaian musim giling, sementara pemerintah pun belum mengeluarkan rilis resmi mengenai pasokan final.
“Produksi tahun ini cukup untuk memenuhi kuota kebutuhan. Produksi kita masih cukup memenuhi kebutuhan konsumsi lokal,” tegas Soemitro saat membeberkan fakta lapangan pada Sabtu (7/11/2026).
Sementara itu, berdasarkan data Taksasi Tengah Giling 2026, proyeksi hasil panen gula kristal putih (GKP) nasional diprediksi melesat hingga menembus angka fantastis 3.018.459 ton, di mana capaian spektakuler ini mencatatkan kenaikan pesat sebesar 13,1 persen apabila kita bandingkan dengan realisasi tahun 2025 yang hanya mencapai 2.668.075 ton.
Selanjutnya, lonjakan produksi yang menggiurkan tersebut berjalan searah dengan perluasan lahan tanam serta hasil panen tebu yang kian melimpah, mengingat luas areal kebun tebu pada tahun 2026 ini diperkirakan terus membentang hingga 585.390 hektare dari yang sebelumnya cuma 563.357 hektare pada tahun 2025.
Di samping itu, angka volume panen tebu rakyat juga mengalami penggenjotan masif, di mana total produksi bahan baku manis ini diproyeksikan melonjak pesat dari angka 39.069.968 ton pada 2025 menjadi 40.195.133 ton pada tahun 2026.
Selain mengandalkan ekspansi lahan dan tonase tebu, faktor lonjakan kadar rendemen juga memegang peranan kunci dalam menggenjot output gula nasional, lantaran Taksasi Tengah Giling 2026 berhasil mencatat angka rendemen hingga 7,51 persen, meroket jauh jika dibandingkan dengan angka 6,83 persen pada periode sebelumnya.
Lebih lanjut lagi, fondasi produksi gula nasional yang luar biasa tangguh ini berhasil disokong secara solid oleh kombinasi kerja keras 39 pabrik gula milik BUMN dan 19 pabrik gula swasta, serta melibatkan dedikasi penuh dari 731.705 orang pekebun tebu di seluruh pelosok negeri.
Rekor Fantastis! Harga Lelang Gula Petani Mendadak Meroket Tajam
Dengan nada penuh peringatan, Soemitro menilai lonjakan produksi tebu lokal seharusnya menyadarkan pemerintah agar tidak lagi tergiur menambah kuota impor, sebab masuknya pasokan gula asing secara ugal-ugalan berpotensi besar meremukkan harga jual petani dan menghancurkan skema penyerapan produk lokal.
Oleh sebab itu, beliau menjelaskan bahwa pemicu utama di balik meroketnya performa produksi tahun ini tidak lain adalah membubungnya kembali gairah serta kebiasaan petani dalam menanam tebu, yang mana ekosistem pasar gula pada tahun 2026 ini memang berjalan jauh lebih menyehatkan daripada tahun sebelumnya.
Padahal, jika kita menengok ke belakang pada tahun 2025, para petani tebu sempat menjerit kesusahan akibat gula mereka sama sekali tidak laku di pasaran lantaran lesunya daya serap para pedagang sejak awal musim giling pada Juli 2025.
Alhasil, lantaran situasi kian mencekik, APTRI saat itu terpaksa mengadu dan memohon bantuan darurat kepada Komisi VI DPR RI agar mendorong lembaga Danantara Indonesia turun langsung menyelamatkan nasib gula petani.
Maka dari itu, Soemitro menguraikan dinamika pahit di mana para pedagang kerap bertindak aman dengan hanya membeli gula tatkala kalkulasi keuntungan terlihat jelas, sementara di sisi lain, para petani justru harus nekat menanam tebu terlebih dahulu tanpa pernah mengantongi jaminan kepastian harga saat panen tiba.
“Kalau petani enggak. Untung enggak untung, nanam dulu,” ungkap Soemitro saat membeberkan realitas keras yang membayangi nasib para pejuang manis di daerah.
Akibat ketimpangan bisnis tersebut, para petani selalu berada di posisi yang sangat rentan ketika gejolak harga gula mendadak merosot, karena mau tidak mau, mereka terpaksa menjual seluruh batang tebu yang telah terlanjur ditanam meskipun nominal rupiah yang diterima sangat jauh dari harapan.
Namun demikian, angin segar akhirnya berembus kencang pada tahun 2026 tatkala iklim pasar berbalik membaik, sehingga Soemitro mencatat lonjakan permintaan gula yang tinggi sukses mendongkrak harga lelang gula milik petani secara terus-menerus.
Bahkan, fakta yang sangat mengejutkan mengungkapkan bahwa angka lelang gula petani pada musim ini sukses memecahkan rekor tertinggi sepanjang sejarah sejak sistem perdagangan bebas dilepas ke mekanisme pasar pada tahun 1998 silam.
Dengan demikian, meroketnya harga gula lelang tersebut tak hanya mempertebal pundi-pundi keuntungan para petani, melainkan juga membakar semangat mereka untuk tetap merawat dan mempertahankan sisa-sisa tanaman tebu di kebun.
Meskipun demikian, Soemitro menjamin bahwa kenaikan harga gula di tingkat produsen saat ini masih tergolong sangat wajar dan tidak akan memicu kepanikan di kalangan konsumen, mengingat banderol harga gula eceran masih sangat ramah di kantong masyarakat serta berada jauh di bawah harga beras premium.
Bocor Alus Gula Rafinasi 3 Juta Ton! Akankah Dapur Rumah Tangga Terancam?
Di luar urusan produksi panen, APTRI juga melontarkan ancaman bahaya terkait potensi rembesan gula kristal rafinasi (GKR) ke pasar konsumsi masyarakat, padahal gula jenis ini secara regulasi khusus diperuntukkan sebagai pasokan bahan baku industri makanan dan minuman.
Dalam kesempatan itu, Soemitro menegaskan bahwa kelancaran penyerapan gula petani pada tahun 2026 ini sebenarnya sangat dibantu oleh kebijakan pemerintah yang berani memangkas kuota impor GKR dibandingkan periode tahun lalu.
Berdasarkan bocoran data resmi yang diterima APTRI dari Kementerian Perdagangan serta Kementerian Perindustrian, penetapan kuota impor gula rafinasi untuk tahun ini terkunci di kisaran 3 juta ton, yang mana angka ini sedikit lebih hemat daripada kuota impor 2025.
Dengan kata lain, kebijakan penurunan angka kuota impor ini terbukti efektif mempersempit celah masuknya gula rafinasi ke lapak pedagang pasar tradisional, walaupun Soemitro tak menampik bahwa kebocoran halus masih berpotensi terjadi dalam skala kecil yang tidak sampai merusak stabilitas harga.
“Kuotanya sekarang 3 juta lebih sedikit. Sudah cukup. Bahkan dengan metode pengawasan yang betul-betul sangat ketat, insya Allah ini akan membantu,” ujar Soemitro dengan penuh optimisme.
Oleh sebab itu, APTRI secara terbuka mendesak pemerintah agar mematok mati kuota 3 juta ton tersebut dan menolak mentah-mentah segala bentuk tekanan untuk menambah impor GKR demi alasan kenaikan kebutuhan industri.
Guna mendukung hal tersebut, Soemitro mengimbau seluruh pengusaha industri makanan dan minuman beserta para pemangku kepentingan agar memperketat tata kelola rantai pasok gula rafinasi sehingga barang tersebut tidak berbelok arah ke pasar rakyat.
Pada akhirnya, kedisiplinan dalam mengendalikan kuota impor serta ketatnya pengawasan jalur distribusi sangat diperlukan agar sektor industri tetap mendapatkan jaminan pasokan bahan baku yang cukup, sembari memastikan para petani tebu lokal tidak lagi menjadi korban akibat maraknya invasi gula rafinasi di pasar konsumsi.
Dapatkan juga berita teknologi terbaru hanya di newtechclub.com





