PONOROGO, Exposenews.id — Waspada! Para ahli meteorologi memprediksi musim hujan di Jawa Timur kali ini bakal berlangsung jauh lebih singkat, yakni hanya sekitar empat bulan penuh dari Desember 2026 hingga Maret 2027 mendatang.

Kendati durasi musim hujan terhitung lumayan pendek ketimbang kondisi normal, masyarakat tetap wajib melipatgandakan kewaspadaan karena potensi guyuran hujan berintensitas sangat tinggi justru berisiko memicu ancaman bencana hidrometeorologi yang cukup mengerikan.
Menanggapi fenomena cuaca tersebut, Kepala Pelaksana BPBD Ponorogo, Masun, secara tegas mengingatkan bahwa institusinya kini mencurahkan perhatian penuh pada tiga varian bencana utama yang siap mengintai wilayahnya sepanjang musim hujan tahun ini.
“Oleh sebab itu, warga Ponorogo setidaknya harus mewaspadai tiga bahaya utama, mulai dari ancaman tanah longsor di daerah perbukitan, bencana banjir di dataran rendah, hingga amukan angin kencang,” cetus Masun saat memberikan keterangan resmi di Kantor BPBD Ponorogo pada Jumat (6/11/2026).
Longsor Mengintai Kawasan Perbukitan: Daerah Ini Paling Rawan!
Dalam upaya mitigasi dini, tim BPBD Ponorogo langsung memetakan tiga wilayah utama, yakni Kecamatan Pulung, Ngrayun, serta Ngebel, sebagai zona merah yang membutuhkan pengawasan ekstra ketat akibat tingginya tingkat kerawanan pergerakan tanah.
Di samping ketiga kawasan perbukitan tersebut, pihak otoritas penanggulangan bencana juga memperluas radar kewaspadaan mereka ke beberapa titik rawan lainnya, meliputi Kecamatan Pudak, Sawoo, hingga wilayah Slahung.
Menurut paparan Masun lebih lanjut, beberapa kawasan pemukiman di Kecamatan Sawoo bahkan terus mengirimkan laporan aktif terkait adanya retakan dan pergerakan tanah yang memprihatinkan, khususnya di wilayah Desa Tumpuk dan Desa Sriti.
“Akibatnya, kami terus menempatkan wilayah Pulung, Ngebel, dan Ngrayun dalam prioritas pantauan tertinggi, terlebih saat ini laporan pergeseran tanah di Desa Tumpuk serta Desa Sriti masih terus mengalir masuk,” jelasnya dengan nada serius.
Mengingat rekam jejaknya yang cukup mengkhawatirkan, sepanjang tahun 2025 lalu Kecamatan Pulung memang sudah tersohor sebagai lokasi langganan yang paling parah terdampak amukan bencana tanah longsor di seluruh Ponorogo.
Sebagai gambaran riil, musibah longsor hebat sempat menghantam Dukuh Popongan di Desa Suru, Kecamatan Sooko pada Mei 2025, di mana guguran material tebing yang amat masif langsung menerjang dan menghancurkan bagian dapur milik warga setempat.
Tak berhenti di situ, petaka serupa juga merusak Dukuh Kerep di Desa Wagir Kidul, Kecamatan Pulung, sementara pada awal Juni 2025, ambrolnya dinding tebing setinggi delapan meter mengguncang Dukuh Pucung, Desa Sendang, Kecamatan Ngrayun.
“Dampak reruntuhan material tebing tersebut membuat bangunan rumah warga rusak parah sehingga para penghuninya terpaksa mengungsi ke tempat aman demi menyelamatkan nyawa,” kenang Masun mengenai rentetan tragedi tersebut.
Banjir Bandang Siap Menerjang Sepanjang Aliran Kali Keyang
Selain ancaman longsor di wilayah tinggi, tim kesiapsiagaan BPBD Ponorogo juga melayangkan sinyal bahaya terhadap potensi banjir bah yang sewaktu-waktu bisa meluap di sepanjang alur Sungai Keyang. Masun menerangkan bahwa pemukiman di sekitar bantaran sungai ini kerap menjadi korban pertama yang terendam air ketika debit sungai mendadak melonjak drastis.
“Oleh karena itu, pihak kami fokus mengawasi daerah hulu seperti Desa Nglumpang, wilayah Mangkung, Mlarak, Jetis, sampai meluas ke kawasan pusat kota Ponorogo,” terang Masun secara mendalam.
Menilik catatan sejarah bencana tahun 2026, Kecamatan Balong menduduki peringkat teratas sebagai wilayah yang paling sering diterjang banjir, disusul laporan berulang dari Kecamatan Bungkal, Jambon, dan Kauman. Bahkan pada 17 Maret 2025, banjir bandang sempat melumpuhkan enam desa sekaligus di Balong, meliputi Bajang, Dadapan, Karangpatihan, Muneng, Purworejo, serta Desa Sedarat.
“Lebih dari itu, genangan air berarus keras juga sempat mengepung pemukiman di Desa Pengkol dan Desa Kauman di Kecamatan Kauman, serta merendam rumah-rumah warga di Desa Kunti, Kecamatan Bungkal,” tambah Masun menerangkan luapan air tersebut.
Terpaan Angin Kencang Mengancam Wilayah Dataran Terbuka
Tak kalah mengerikan, BPBD Ponorogo turut menyebarkan peringatan dini terkait potensi terpaan angin kencang yang menyasar kawasan bergeografi dataran terbuka. Beberapa lokasi yang kini masuk radar pengawasan ketat antara lain Desa Campursari di Kecamatan Sambit, serta area luas di Kecamatan Sukorejo dan Babadan.
“Pasalnya, wilayah-wilayah yang berkarakteristik datar seperti Sukorejo dan Babadan memang menyimpan potensi sangat besar untuk diterjang amuk angin kencang saat cuaca buruk melanda,” tutur Masun mewanti-wanti warga.
Memang, berdasarkan catatan resmi BPBD, fenomena cuaca ekstrem berupa hujan deras yang datang bersamaan dengan tiupan angin kencang terbukti telah meluluhlantakkan puluhan atap dan bangunan rumah warga sepanjang tahun 2025.
Oleh sebab itu, Masun secara tegas menegaskan bahwa ancaman cuaca ekstrem ini tak boleh dipandang sebelah mata oleh siapa pun, mengingat beberapa insiden amukan angin pada masa lalu sempat memakan korban jiwa.
Langkah Cepat BPBD: Tambah Peralatan Canggih dan Rangkul Relawan
Guna membendung ancaman dari ketiga jenis bencana mematikan tersebut, BPBD Ponorogo langsung mengambil tindakan nyata dengan menggalang kekuatan personel, menyiagakan ribuan relawan, serta memperkuat armada peralatan penanganan darurat di lapangan.
Walaupun belum menambah alokasi personel resmi dari jalur PNS, Masun meyakinkan publik bahwa lembaganya bakal memaksimalkan sinergi dan kolaborasi erat bersama para relawan kemanusiaan yang selama ini menjadi tulang punggung evakuasi bencana.
“Kendati anggaran personel terbatas, kami terus memperkuat koordinasi dengan jaringan relawan lokal. Bahkan alhamdulillah, pada tahun ini kami berhasil membentuk dan meresmikan sekitar tiga Desa Tangguh Bencana (Destana) baru,” ucapnya penuh optimisme.
Di samping memperkuat ketahanan warga berbasis komunitas lewat program Destana, BPBD Ponorogo juga menyuntikkan dana khusus untuk menambah peralatan evakuasi agar proses pembersihan pohon tumbang berjalan lebih cepat. Melalui skema perubahan anggaran tahun ini, pihak BPBD resmi memborong dua unit gergaji mesin (senso) berkapasitas besar dan sedang.
“Sebab sebelumnya kami hanya mengandalkan tujuh unit senso berukuran kecil, sehingga petugas sering kesulitan dan memakan waktu lama saat mengevakuasi batang pohon raksasa. Maka dari itu, kini kami menyediakan senso berukuran besar dan sedang agar proses penanganan di lokasi bencana jauh lebih efektif,” papar Masun menjelaskan terobosan terbarunya.
Rekor Bencana 2026: Tanah Longsor Mendominasi Wilayah Ponorogo
Apabila merujuk pada data rekapitulasi resmi dari Pusat Pengendalian Operasi Penanggulangan Bencana (Pusdalops) BPBD Ponorogo, sepanjang periode tahun 2026 ini saja, wilayah Ponorogo telah dihantam sebanyak 186 kali kejadian bencana alam.
Dari angka yang cukup fantastis tersebut, bencana tanah longsor menempati posisi puncak sebagai musibah paling mendominasi dengan total 100 kejadian, disusul oleh musibah banjir sebanyak 47 kali, serta cuaca ekstrem dan angin kencang sebanyak 29 kejadian.
Selain tiga bencana hidrometeorologi utama tadi, catatan BPBD Ponorogo juga merekam tujuh kasus kebakaran hutan dan lahan (karhutla), dua kali krisis kekeringan parah, serta satu insiden kebakaran gedung dan permukiman warga.
Seluruh hamparan data tersebut membuktikan bahwa ancaman bencana di Ponorogo memang menyebar secara merata dengan karakteristik wilayah yang amat beragam; di mana kawasan perbukitan harus berhadapan dengan bahaya runtuhnya tebing, sedangkan kawasan dataran rendah seperti Balong dan Bungkal menjadi langganan banjir.
Sementara itu, potensi amukan angin kencang terus membayangi warga yang bermukim di dataran terbuka, sehingga menuntut kewaspadaan penuh serta respon cepat dari seluruh lapisan masyarakat Ponorogo dalam menghadapi musim hujan mendatang.
Dapatkan juga berita teknologi terbaru hanya di newtechclub.com




