RIYADH, Exposenews.id – Eskalasi konflik di kawasan Teluk kini berada dalam tingkat yang sangat membahayakan setelah Pemerintah Arab Saudi melempar peringatan super tegas bahwasanya mereka bakal mengambil tindakan balasan yang jauh lebih mematikan terhadap milisi Houthi di Yaman. Langkah drastis ini terpaksa diambil oleh pihak Riyadh menyusul serangkaian hujan rudal balistik dan serangan drone bermuatan peledak yang tiba-tiba membombardir area strategis di wilayah selatan kerajaan tersebut.
Selanjutnya, Pasukan Koalisi yang dipimpin oleh Arab Saudi secara resmi mengonfirmasi pada Selasa (15/9/2026) bahwasanya gempuran rudal dan drone Houthi melanda kawasan pemukiman serta fasilitas vital di kota Khamis Mushait, Abha, dan Taif pada sehari sebelumnya. Dampak dari rentetan ledakan dahsyat ini alhasil langsung mencederai sedikitnya 13 orang warga yang berada di lokasi kejadian.
Di sisi lain, faksi Houthi sendiri tanpa ragu langsung mengklaim tanggung jawab atas keberhasilan operasi mereka yang mengerahkan puluhan drone tempur kamikaze dan rudal berdaya ledak tinggi secara masif. Adapun target utama dari aksi bombardir tersebut secara spesifik menyasar Pangkalan Udara King Khalid yang berlokasi strategis di area Khamis Mushait, wilayah selatan Arab Saudi.
Sementara itu, seorang warga lokal yang menetap di Khamis Mushait menyampaikan kesaksian yang amat mengerikan kepada awak media AFP mengenai peristiwa tersebut. Ia menceritakan bagaimana dentuman hebat mengguncang pemukiman mereka saat kobaran api raksasa terus membumbung tinggi menembus langit malam dalam kurun waktu yang teramat lama.
“Jujur saja, kami sekeluarga benar-benar tidak bisa memejamkan mata sedikit pun karena rasa panik dan ketakutan yang mencekam,” tuturnya saat menggambarkan kepanikan warga yang berusaha menyelamatkan diri dari amukan ledakan.
Riyadh Mengamuk! Lebih dari 50 Gempuran Udara Langsung Meluncur Balas Dendam!
Kemudian, militer Arab Saudi tidak tinggal diam dan merespons serangan tersebut dengan langsung meluncurkan lebih dari 50 gempuran udara balasan yang menghancurkan berbagai basis pertahanan Houthi. Selain itu, pihak Houthi juga mengonfirmasi bahwasanya jet tempur Riyadh sebenarnya sudah melancarkan gelombang serangan udara dengan jumlah fantastis yang serupa pada sehari sebelumnya.
Lebih lanjut, pihak Koalisi pimpinan Saudi kembali menggemakan komitmen baja mereka untuk terus membalas setiap aksi provokasi Houthi secara sangat agresif demi mengamankan kedaulatan tanah air kerajaan dari segala ancaman bahaya luar.
Alhasil, akibat eskalasi keamanan yang meningkat drastis ini, otoritas Pertahanan Sipil Saudi sempat menyalakan sirene tanda bahaya serangan udara di enam wilayah vital pada Selasa dini hari, sebelum akhirnya mencabut status darurat tersebut setelah situasi berhasil mereka kendalikan.
Meskipun demikian, Hazem Al-Assad yang menjabat sebagai salah satu tokoh senior di biro politik Houthi justru memberikan respons menantang dengan menegaskan bahwasanya kelompok mereka sama sekali tidak bakal pernah mundur. Ia memastikan milisinya akan terus mengintensifkan rentetan serangan mematikan selama Arab Saudi masih melangsungkan aksi agresi terhadap masyarakat Yaman.
“Oleh karena itu, aksi perlawanan rakyat Yaman akan terus berlanjut dan kian meningkat selama mereka (pihak Arab Saudi) tetap memaksakan agresi militer terhadap rakyat kami,” tegas Al-Assad dengan nada mengancam.
Perang Besar Pecah Lagi! Laut Merah Membara hingga Harga Minyak Dunia Meledak!
Memang, pertikaian berdarah antara milisi Houthi dan pasukan pemerintah resmi Yaman yang mengandalkan dukungan penuh Kerajaan Arab Saudi kini kembali berkobar sangat hebat sejak meletusnya kembali perang saudara pada bulan Juli lalu.
Sebelum insiden serangan ini meletus, kelompok Houthi sebenarnya sudah melontarkan pernyataan pembatasan maritim secara ketat terhadap Riyadh serta mulai gencar menargetkan kapal-kapal niaga milik Saudi yang berlayar di lintasan strategis Laut Merah.
Bahkan pada pekan lalu, kelompok bersenjata ini sukses mengambil alih seluruh kawasan pesisir Laut Merah Yaman hingga menguasai penuh Selat Bab El-Mandeb. Kejadian ini tentu menjadi pukulan yang amat telak bagi pasukan pemerintah Yaman, terlebih lagi ketika ketegangan perang antara Amerika Serikat dan Iran sedang mengganggu lalu lintas pelayaran di Selat Hormuz.
Tak berhenti di situ, milisi Houthi juga mengarahkan serangan mereka pada berbagai infrastruktur minyak vital milik Arab Saudi yang notabene merupakan negara eksportir minyak mentah terbesar di seluruh dunia. Alhasil, gempuran masif ini langsung mengguncang kestabilan ekonomi global hingga meroketkan harga minyak dunia menembus angka fantastis 100 dollar AS (sekitar Rp1,7 juta) per barel.
Di samping itu, pertempuran sengit di darat juga terus memakan korban jiwa, di mana gempuran mendadak Houthi di Yaman bagian barat berhasil menewaskan delapan prajurit pasukan pemerintah pada Senin (14/9/2026), sebagaimana dikonfirmasi oleh dua sumber militer terpercaya.
Namun demikian, pasukan pemerintah Yaman pada Minggu (13/9/2026) mengklaim telah merebut kembali beberapa posisi pertahanan strategis dari cengkeraman Houthi di Provinsi Taiz, Yaman barat daya. Selain itu, mereka juga menyatakan bahwasanya bombardir udara yang mereka lancarkan berhasil menumpas sedikitnya 10 anggota milisi Houthi di lapangan.
Di tengah pusaran ketegangan yang semakin memuncak ini, Putra Mahkota Arab Saudi Mohammed bin Salman (MBS) langsung mengundang Komandan Komando Pusat AS (CENTCOM), Laksamana Brad Cooper, untuk menggelar pertemuan tingkat tinggi di Kota Jeddah pada hari Senin demi membahas penanganan krisis terkini di kawasan Teluk.
Ironisnya, fakta di lapangan menunjukkan bahwasanya warga sipil Yaman sudah terpaksa menelan pahitnya kecamuk perang saudara ini selama lebih dari sepuluh tahun terakhir tanpa ada kepastian kapan perdamaian akan terwujud.
Apabila kita menengok kembali ke belakang, kelompok Houthi berhasil merebut ibu kota Yaman, Sanaa, pada 2014 saat perang saudara pertama kali meletus. Perebutan kekuasaan secara paksa ini alhasil mendesak jajaran pemerintah Yaman melarikan diri dan memindahkan basis pemerintahan mereka ke kota Aden yang berada di kawasan selatan.
Selanjutnya, tepat setahun setelah insiden tragis tersebut, Kerajaan Arab Saudi mengambil langkah berani dengan memimpin koalisi militer internasional untuk mengintervensi konflik serta memberikan sokongan penuh bagi pemerintah resmi Yaman.
Namun alih-alih mereda, perang berkepanjangan ini malahan berkembang menjadi salah satu bencana kemanusiaan paling mengerikan dan terburuk yang pernah mencoreng sejarah peradaban modern dunia.
Terlebih lagi, Organisasi Internasional untuk Migrasi (IOM) di bawah naungan PBB melansir data terbaru pada Senin yang menyebutkan bahwasanya gelombang pertempuran terbaru ini telah memaksa sebanyak 93.864 orang warga terpisah dari tanah kelahiran mereka dan mengungsi demi bertahan hidup.
Dapatkan juga berita teknologi terbaru hanya di newtechclub.com





