LHOKSUKON, Exposenews.id – Pembangunan hunian tetap bagi korban banjir di Desa Alue Papeun, Kecamatan Tanah Jambo Aye, Kabupaten Aceh Utara, kini menghadapi kendala yang cukup pelik. Kendala itu bukan soal kekurangan material, bukan pula soal tenaga kerja, melainkan jaringan listrik. Akibatnya, proses penyerahan rumah kepada para penyintas banjir pun ikut tertunda. Exposenews.id menelusuri persoalan ini langsung dari keterangan pelaksana proyek dan sejumlah data lapangan.
Sebanyak 80 dari 130 unit rumah yang dibangun Direktur CV Raya Enginering Aceh, Reza Angkasah, sebenarnya sudah selesai. Namun, seluruh rumah tersebut belum memiliki jaringan listrik. Karena itu, rumah-rumah itu belum dapat segera diserahkan kepada penyintas banjir. Padahal, warga sudah lama menunggu hunian tetap yang layak dan permanen.
Reza mengaku kesal. Hingga kini, ia belum mendapat kepastian kapan PT Perusahaan Listrik Negara (Persero) atau PLN akan membangun jaringan listrik menuju perumahan tersebut. Padahal, usulan pemasangan jaringan listrik telah diajukan sejak tiga bulan lalu. Usulan itu tidak hanya datang dari dirinya, tetapi juga dari Pemerintah Kabupaten Aceh Utara. Akan tetapi, hingga berita ini diturunkan, belum ada kejelasan kapan pekerjaan itu dimulai.
Masih Tunggu Instruksi Kementerian ESDM
Menurut Reza, PLN menyampaikan bahwa pemasangan sambungan listrik masih menunggu instruksi dari Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) RI. Reza menuturkan, ia membangun 130 unit rumah, dan 80 unit di antaranya sudah selesai. Sayangnya, seluruh unit tersebut belum dialiri listrik. Kondisi ini membuat pekerjaan menjadi lambat. Ia menilai seharusnya proyek bisa lebih cepat rampung dan segera diserahkan kepada penyintas banjir yang sudah berbulan-bulan tinggal di hunian sementara.
Rumah-rumah tersebut dibangun dengan bantuan Yayasan Buddha Tzu Chi. Bantuan itu menggantikan rumah warga yang hilang akibat banjir pada 26 November 2025. Banjir besar itu meninggalkan dampak panjang bagi warga Aceh Utara, terutama mereka yang kehilangan tempat tinggal.
Reza menegaskan bahwa ia membangun hunian ini dari bantuan Yayasan Buddha Tzu Chi. Karena itu, ia merasa bertanggung jawab untuk memastikan rumah-rumah tersebut benar-benar bisa dihuni oleh para penyintas.
Reza juga mengatakan, pembangunan hunian tetap dilakukan di tengah kenaikan harga material. Meski demikian, ia berupaya mempercepat pengerjaan agar rumah segera dapat ditempati para penyintas banjir. Ia menyebut dirinya juga korban banjir, sehingga memahami betul sulitnya tinggal di hunian sementara. Karena itu, ia ingin bekerja cepat dan tidak ingin warga menunggu terlalu lama.
8.000 Rumah Dibutuhkan
Berdasarkan data yang dihimpun Exposenews.id, sebanyak 100 hunian tetap telah diserahkan kepada penyintas banjir di Desa Meunasah Bujok, Kecamatan Baktiya, Kabupaten Aceh Utara. Data ini kami peroleh dari keterangan narasumber dan dokumen proyek yang tersedia di lapangan.
Hunian tersebut dibangun dengan bantuan Yayasan Buddha Tzu Chi. Sementara sejumlah rumah lainnya masih dalam tahap pembangunan. Artinya, masih ada pekerjaan besar yang harus diselesaikan.
Secara keseluruhan, sebanyak 8.000 unit rumah dibutuhkan penyintas banjir di Kabupaten Aceh Utara. Yayasan Buddha Tzu Chi membantu pembangunan 500 unit rumah bagi penyintas banjir di Kabupaten Aceh Utara. Jumlah itu tentu belum sebanding dengan kebutuhan yang ada.
Warga Hampir Setahun Tinggal di Hunian Sementara
Sementara itu, Kepala Desa Buket Linteung, Kecamatan Langkahan, Kabupaten Aceh Utara, Mansur, mengatakan desanya membutuhkan 430 unit hunian tetap bagi penyintas banjir. Kebutuhan itu tidak bisa ditunda lagi karena warga sudah terlalu lama berada di hunian sementara.
Saat ini, sebanyak 180 unit rumah sedang dikerjakan oleh Yayasan Buddha Tzu Chi dan tersebar di dua titik. Pekerjaan itu berjalan, tetapi belum cukup untuk menampung semua warga yang membutuhkan.
Mansur menjelaskan bahwa 180 unit dari Yayasan Buddha Tzu Chi sedang dikerjakan dan tersebar di dua titik. Untuk 50 unit lainnya, pihaknya sudah mengajukan ke Kementerian Perumahan dan Kawasan Permukiman, tetapi masih dalam proses pembebasan lahan. Proses itu menjadi salah satu penghambat yang membuat warga harus bersabar lebih lama.
Mansur berharap proses pembebasan lahan untuk pembangunan hunian tetap tidak berlangsung terlalu lama. Sebab, warga masih harus bertahan di hunian sementara yang kondisinya terbatas. Mereka hidup dalam ruang sempit, panas, dan serba kekurangan.
Ia menilai kondisi hunian sementara sangat memprihatinkan. Warga tinggal di tempat yang sempit, panas, dan sudah menderita hampir satu tahun. Ini menjadi pukulan batin tersendiri bagi para penyintas banjir.
Ia berharap pembangunan hunian tetap dapat segera diselesaikan sehingga warga bisa kembali menempati rumah permanen. Menurutnya, jika pekerjaan bisa dipercepat, paling tidak dalam enam bulan ke depan hunian tetap itu rampung. Sebab, sebentar lagi genap satu tahun pascabanjir, tetapi rumah permanen belum juga ada.
Dinas Perumahan Belum Beri Tanggapan
Sementara itu, Kepala Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman Aceh Utara, Muhammad, belum memberikan tanggapan mengenai perkembangan pembangunan hunian tetap korban banjir tersebut.
Dapatkan juga berita teknologi terbaru hanya di newtechclub.com




