KUBU RAYA, Exposenews.id – Intrusi air laut memang benar-benar membuat air Sungai Kapuas di Kecamatan Rasau Jaya, Kabupaten Kubu Raya, Kalimantan Barat, berubah jadi asin. Tentu saja, perubahan kondisi air tersebut langsung menghantam usaha perikanan warga. Akibatnya, pembibitan ikan berhenti beroperasi, sementara sejumlah jenis ikan di keramba mengalami kematian massal yang bikin miris.

Nah, dampak tersebut sangat terasa bagi para pengusaha tambak keramba di Desa Rasau Jaya Tiga. Pasalnya, kondisi air sungai yang berubah menjadi payau membuat proses pembibitan ikan tidak dapat berjalan seperti biasanya. Tentu ini menjadi pukulan telak bagi mereka.
Tamar (24), salah seorang pengusaha tambak keramba di tepian Sungai Kapuas, mengatakan air asin menjadi persoalan serius terutama pada fase larva ikan nila. Dia pun mengungkapkan hal tersebut dengan gamblang.
“Kalau air asin kayak gini, ikan nila ini masih aman lah hitungannya, kecuali larva. Kalau larva pasti tidak ada, tidak timbul dia,” ujar Tamar, Kamis (10/9/2026).
Kondisi tersebut membuat aktivitas pembibitan ikan di kawasan tambak berhenti. Hampir seluruh fasilitas pembibitan milik pengusaha di sekitar lokasi juga tidak beroperasi. Jadi, bisa dibilang lumpuh total.
“Kalau pembibitan ada tantangan, hampir semua kayaknya pembibitan itu stop, tidak ada produksi. Kayak yang di sebelah itu kan pembibitan, tidak jalan untuk sekarang,” sambungnya.
Petambak Terpaksa Datangkan Bibit dari Luar Daerah
Berhentinya pembibitan lokal membuat petambak harus mencari pasokan bibit dari daerah lain agar kegiatan budidaya tetap berjalan. Tamar mengaku terakhir mengambil bibit dari Anjungan dan Gunung Ambawang pada bulan sebelumnya. Kondisi tersebut menambah beban petambak karena mereka tidak lagi bisa mengandalkan produksi bibit dari kawasan sendiri.
Tamar juga berharap pemerintah memberikan bantuan kepada petani ikan yang mengalami kendala pasokan bibit. Harapan itu pun dia sampaikan dengan lugas.
“Harapannya untuk pemerintah sih, kalau bisa bantu para petani-petani ikan yang terkendala masalah bibitan. Yang diharapkan sih pasti bibit dari Jawa, karena kemungkinan besar di Jawa itu lebih bagus,” tuturnya.
Ikan Mas, Lele dan Bawal Ikut Terdampak
Selain mengganggu pembibitan, air asin juga berdampak terhadap ikan yang sudah berada di dalam keramba. Ikan mas menjadi salah satu komoditas yang paling terdampak. Berbeda dengan ikan nila dewasa yang disebut masih relatif mampu bertahan, ikan mas sangat rentan terhadap perubahan kadar garam air.
“Kalau untuk ikan mas sangat berpengaruh. Potensi kematian ikan mas itu sangat besar, hampir 90 persen pasti mati kena air asin,” tegas Tamar.
Kematian ikan dalam jumlah besar kemudian terjadi di sejumlah keramba Rasau Jaya. Salah satu kejadian terjadi di tambak milik warga bernama Pak Teddy. Sekitar tiga ton ikan mati setelah terpapar air asin. Sudianto alias Abu, pengelola tambak tersebut, mengatakan ikan mulai menunjukkan perubahan perilaku pada Rabu (9/9/2026) sore.
Sekitar pukul 16.00 WIB, ikan mas terlihat berenang sempoyongan dan lemas di permukaan air. Sekitar lima jam kemudian, tepat pukul 21.00 WIB, ikan-ikan tersebut sudah mengambang dalam kondisi mati. Sungguh pemandangan yang bikin hati perih.
“Ini sekitar tiga tonan lah (yang mati). Itu memang murni karena kena air asin semua,” beber Sudianto, Kamis siang.
Tidak hanya ikan mas, sejumlah komoditas lain di tambak tersebut juga terdampak. “Kalau khusus ikan mas, semua kena (mati). Yang ikan lele, bawal juga kena,” tegas Sudianto.
Petambak Bersihkan Ribuan Bangkai Ikan
Kematian massal membuat petambak harus segera mengevakuasi bangkai ikan dari keramba. Para pekerja mengangkat bangkai ikan secara manual untuk mencegah kondisi tersebut menimbulkan persoalan lingkungan. Mereka juga mengumpulkan bangkai yang telah berserakan di sekitar area tambak.
Togi (27), salah seorang pekerja, mengatakan mereka sempat berupaya menyelamatkan sebagian ikan ketika kematian mulai terjadi. Namun, jumlah ikan yang terdampak dalam waktu bersamaan membuat upaya tersebut tidak mampu menyelamatkan lebih banyak ikan.
“Kalau kemarin sih ada yang sempat kita selamatkan, cuma kita endak mampu ini, mengusahakannya lebih banyak gitu karena serentak massal semua” ucap Togi.
Setelah itu, pekerja memusatkan perhatian pada penanganan bangkai ikan. Mereka menggali parit di area daratan dekat tambak untuk menguburkan sebagian bangkai. Sebagian lainnya dibakar sebagai bagian dari penanganan darurat.
“Mungkin karena melihat situasi kemarin kan banyaknya ikan yang mati gara-gara air asin naik, mungkin hal pertama yang kita lakukan adalah biar tidak mencemarkan lingkungan, ikan yang sudah busuk ini kita timbun di dalam tanah. Sebagian dibakar juga, Ini kita bakar langsung aja sama untuk kubur ya supaya steril,” jelas Togi.
Petambak Menunggu Air Sungai Kembali Normal
Intrusi air laut membuat para petambak menghadapi persoalan berlapis. Mereka tidak hanya kehilangan ikan yang sudah dibudidayakan, tetapi juga kehilangan kemampuan memproduksi bibit di kawasan sendiri. Di sisi lain, pembibitan yang berhenti membuat petambak harus mencari pasokan dari luar daerah untuk menjaga keberlanjutan usaha.
Para petambak kini berharap kondisi air kembali normal. Mereka menantikan hujan agar kadar asin di perairan berangsur berkurang dan kegiatan budidaya dapat kembali berjalan. Kondisi tersebut menjadi tantangan bagi usaha perikanan keramba di Rasau Jaya yang terdampak perubahan kualitas air Sungai Kapuas.
Dapatkan juga berita teknologi terbaru hanya di newtechclub.com





