SERANG, Exposenews.id – Operasi pencarian rombongan jurnalis yang hilang kontak di perairan sekitar Gunung Anak Krakatau kini makin intens. Kantor SAR Banten pun tak tinggal diam. Mereka menyiapkan berbagai strategi jitu, termasuk menerjunkan teknologi canggih drone termal untuk membantu proses pencarian di tengah kondisi alam yang masih belum bersahabat.
Drone Termal Jadi Andalan di Tengah Abu Vulkanik
Kepala operasi SAR menegaskan bahwa upaya pencarian akan terus dilanjutkan secara bertahap. Tentu saja, faktor keselamatan tim di lapangan menjadi pertimbangan utama. Salah satu kendala terbesar adalah sebaran abu vulkanik yang masih cukup tebal. Akibatnya, penggunaan pesawat udara konvensional seperti helikopter pun sangat terbatas.
Lalu, bagaimana strategi pencarian dilakukan di tengah keterbatasan kondisi alam seperti ini? Koordinator Operasi SAR, Rizky Dwianto, menjelaskan bahwa penggunaan jalur udara menggunakan helikopter atau pesawat belum memungkinkan. Oleh karena itu, tim mengandalkan alternatif berupa drone termal yang dinilai lebih fleksibel dalam kondisi visibilitas rendah.
“Paling nanti kita di kapal KN SAR Tetuka sudah kita lengkapi drone. Nanti di Gunung Anak Krakatau mungkin kita akan terbangkan dan kita lakukan pencarian dari udara tapi menggunakan drone thermal,” kata Rizky. Drone termal tersebut ditempatkan di KN SAR Tetuka dan akan diterbangkan untuk mendeteksi suhu tubuh manusia dari udara. Teknologi ini diharapkan dapat membantu menemukan korban di area yang sulit dijangkau secara langsung.
Operasi Malam Dihentikan, Empat Zona Dibagi
Mengapa pencarian sempat dihentikan pada malam hari? Rizky mengungkapkan bahwa pencarian sebelumnya dilakukan hingga sekitar pukul 22.00 WIB. Namun, operasi dihentikan sementara dan kapal bersandar di Pelabuhan Ciwandan, Cilegon, karena kondisi yang tidak memungkinkan. “Sea condition cukup kurang bersahabat, kemudian visibility juga terbatas. Jadi kita docking untuk efektivitas dan keselamatan,” kata dia. Kondisi laut yang tidak bersahabat serta jarak pandang yang terbatas menjadi pertimbangan utama penghentian sementara operasi demi keselamatan personel SAR.
Apa saja kekuatan yang dikerahkan dalam operasi pencarian? Operasi SAR melibatkan berbagai unsur dan armada, baik dari laut maupun darat. Sejumlah alutsista yang digunakan antara lain: KN SAR Tetuka dan RIB 02 Banten dari Basarnas Banten, RIB Lampung dari Basarnas Lampung, KAL Anyer dari Lanal Banten, satu unit ambulans dari FBN Banten, serta KP Sanjaya dan RIB 03 Lampung.
Deputi Operasi Basarnas, Edy Prakoso, menjelaskan bahwa pada hari kedua pencarian, tim dibagi menjadi empat Search and Rescue Unit (SRU) untuk memperluas jangkauan area pencarian. Pembagian tersebut meliputi: SRU 1 menggunakan KN SAR Tetuka menyisir sejauh 68,3 nautical mile (NM), SRU 2 menggunakan KAL Anyer sejauh 69,5 NM, SRU 3 menggunakan RIB 01 Lampung sejauh 67 NM, dan SRU 4 menggunakan RIB 02 Banten untuk menyisir perairan sekitar Pulau Rakata dan Pulau Panjang.
Selain itu, tim juga berkoordinasi dengan berbagai pihak untuk mengantisipasi kemungkinan kapal bersandar di pulau kecil atau dermaga yang tidak terpantau. “Kita juga berkoordinasi dengan pihak terkait, kemungkinan kapal tersebut sandar di pulau-pulau kecil atau dermaga-dermaga yang tidak terpantau,” ujar Rizky. Informasi mengenai kemungkinan keberadaan korban di Pulau Sebesi masih dalam tahap pengecekan dan belum dapat dipastikan.
Delapan Orang Masih Dicari, Kapal Dipastikan Layak Berlayar
Siapa saja yang masih dalam pencarian? Sebanyak delapan orang masih dalam pencarian, terdiri atas tiga kru kapal dan lima jurnalis. Mereka adalah: Warta (55), kapten kapal; Surakman (60), anak buah kapal; Heriyanto (49), pemandu; M. Bagus Khoirunnas (ANTARA); Ari Basuki (Merdeka.com); Yudhis (iNews); Daus (Anadolu); dan Donal (pewarta lepas).
Pemilik kapal, Sandi Wiasa, memastikan bahwa kapal yang digunakan dalam kondisi layak berlayar saat keberangkatan dari Dermaga Pegedongan, Carita, pada Senin (7/9/2026) sekitar pukul 14.00 WIB. “Kapal yang dipergunakan adalah kapal saya, itu berangkat kemarin sekitar jam 14.00 WIB lebih dari Dermaga Pegedongan,” kata Sandi. Ia menegaskan bahwa kapal membawa delapan orang sesuai kapasitas dan kondisi perairan saat itu tergolong normal. “Masih layak. Kapal layak untuk jalan,” ujar dia. Sandi juga memastikan kelengkapan administrasi dan keselamatan kapal. “Untuk kelengkapan, untuk perizinan kita ada, surat-surat kapal kita ada, terus life jacket ada, Pak,” kata dia.
Kapan kapal terakhir diketahui berkomunikasi? Sandi mengaku pertama kali menerima informasi hilangnya kontak kapal dari Kapolsek Carita sekitar pukul 13.00 WIB. Ia tidak menerima kabar tersebut langsung dari nakhoda. Kapal tersebut diketahui memiliki perangkat GPS portabel, namun belum dapat dipastikan apakah alat tersebut dapat digunakan untuk melacak posisi kapal secara akurat. Upaya pencarian juga dilakukan secara mandiri dengan menghubungi jaringan di wilayah Pulau Sebesi. “Ya, saya sudah menghubungi beberapa saudara-saudara kita yang ada di wilayah Sebesi, Lampung. Alhamdulillah sekarang juga sedang berusaha untuk membantu pencarian dengan nelayan-nelayannya,” kata dia.
Sandi menambahkan bahwa perjalanan dari Carita menuju kawasan Krakatau biasanya memakan waktu sekitar dua jam. Ia juga mengungkapkan bahwa pemandu dalam rombongan sempat mengirimkan foto kondisi Gunung Anak Krakatau. “Masih ada dengan guide-nya, Pak,” ujar Sandi. Foto tersebut dikirim sekitar empat jam setelah keberangkatan dan menunjukkan kondisi gunung dengan jelas, dengan posisi kapal diperkirakan lebih dari tiga kilometer dari kawah.
Hingga kini, operasi pencarian masih terus berlangsung dengan mengedepankan keselamatan tim serta memaksimalkan seluruh sumber daya yang tersedia di lapangan.
Dapatkan juga berita teknologi terbaru hanya di newtechclub.com





