SUMBAWA, Exposenews.id – Malam Sabtu (05/09/2026) berubah menjadi tragedi mencekam di kawasan Tambang Lawang Tua, Kecamatan Lantung, Kabupaten Sumbawa, Nusa Tenggara Barat. Tiga penambang emas ilegal meregang nyawa setelah tertimpa longsoran batu dan tanah yang menghantam mereka tanpa peringatan. Selain itu, lima penambang lainnya berhasil dievakuasi dalam kondisi luka-luka, beberapa di antaranya menderita patah tulang parah.
Dinding Galian Ambruk

Kepala Pelaksana (Kalak) BPBD Kabupaten Sumbawa, Muhammad Nurhidayat, langsung membenarkan kabar duka tersebut ketika dikonfirmasi awak media. Tanpa membuang waktu, ia pun memimpin langsung proses evakuasi yang melibatkan puluhan personelnya serta dibantu warga setempat yang sigap turun tangan.
“Benar, sebanyak tiga orang meninggal dunia dan lima lainnya mengalami luka berat serta luka ringan hingga patah tulang,” ujar Nurhidayat dengan nada prihatin saat ditemui di lokasi kejadian, Minggu (6/9/2026).
Demi menyelamatkan nyawa para korban, petugas langsung mengerahkan lima unit ambulans untuk membawa mereka dari Puskesmas Lantung menuju rumah sakit di Sumbawa. Langkah cepat ini diambil agar para korban bisa segera mendapatkan perawatan medis intensif.
“Semua korban sudah mendapatkan penanganan medis. Sekitar pukul 01.00 Wita dini hari, seluruh korban kami bawa menggunakan unit ambulans. Kami dari BPBD juga ikut mengantar salah satu korban, Farel, 17 tahun, warga Dusun Pelita, Desa Sarading,” jelasnya dengan suara serius.
Kesaksian Pilu Korban Selamat: “Sepupu dan Ipar Saya Tewas”
Farel (17), salah satu korban selamat yang masih beruntung, menceritakan kembali detik-detik mengerikan saat longsoran itu terjadi. Dengan mata berkaca-kaca dan suara tersendat, ia mengungkapkan bagaimana musibah itu merenggut dua orang terdekatnya.
“Sepupu saya tertimbun batu bersama ipar saya dan nyawa mereka tidak bisa tertolong. Sementara kaki saya tertimbun tanah dan pelipis saya terkena batu,” kata Farel sambil tak kuasa menahan tangis.
Berikut daftar korban dalam kejadian tragis tersebut:
Korban tewas: Syaifullah (warga Pelita, Desa Serading), Imansyah (warga Pelita, Desa Serading) dan Syarafuddin (warga Leweng, Desa Mamak).
Korban luka berat/patah tulang: Suryana (warga Langam), Novan Widianto (warga Labangka), Muslimin (warga Kakiang), Samsul (warga Lantung Sepukur), Jihan Ramdhani (warga Lantung Sepukur) dan Farel (warga Pelita, Desa Serading).
Saksi mata bernama Adi, seorang penambang yang turut bekerja di lokasi tersebut, menggambarkan suasana mencekam sekitar pukul 22.00 Wita. Saat itu, mereka sedang bekerja seperti biasa, namun tiba-tiba dinding galian tempat mereka bertahan ambruk seketika tanpa ada tanda-tanda sebelumnya.
“Kejadiannya sangat cepat. Kami sedang bekerja seperti biasa, tiba-tiba tanah dari atas runtuh menimpa rekan-rekan yang berada di bawah,” ujarnya dengan suara bergetar, masih dibayangi ketakutan.
Ia menambahkan, proses evakuasi yang dilakukan dalam keterbatasan peralatan dan penerangan cukup menyulitkan tim di lapangan. Namun berkat kerja sama antara petugas dan warga, seluruh korban akhirnya bisa dievakuasi.
“Yang meninggal di tempat ada dua orang, yaitu Kepala Dusun Leweng dan seorang warga dari Desa Pelita. Satu korban lainnya sempat kami larikan ke Puskesmas Lantung, tapi nyawanya tidak tertolong,” jelasnya dengan nada pilu.
Bahaya Mengintai Setiap Saat: Tambang Ilegal dengan Risiko Tinggi
Aktivitas penambangan di kawasan Lantung memang sudah lama dikenal memiliki risiko tinggi. Berbagai laporan sebelumnya menyebutkan tambang di wilayah ini beroperasi tanpa pengawasan ketat. Kondisi tanah yang labil dan tebing curam yang rawan longsor menjadi ancaman mematikan yang mengintai setiap saat.
Para penambang hanya mengandalkan peralatan sederhana seperti pahat dan linggis, serta minim perlengkapan keselamatan. Mereka pun bekerja tanpa alat pelindung diri yang memadai, sehingga ketika musibah datang, tidak ada yang bisa melindungi mereka.
Bupati Sumbawa, Syarafuddin Jarot, bersama Forkopimda sempat meninjau langsung lokasi tambang di Lantung beberapa waktu lalu untuk memastikan keamanan aktivitas pertambangan rakyat. Namun tampaknya upaya tersebut belum cukup untuk mencegah tragedi kali ini.
Hingga berita ini diturunkan, para korban yang selamat masih menjalani perawatan intensif di rumah sakit. Sementara itu, proses penanganan pascakejadian terus dilakukan oleh pihak terkait, termasuk BPBD dan aparat setempat yang berupaya memastikan tidak ada korban lain yang tertinggal.
Tragedi ini kembali menjadi pengingat keras akan bahaya laten yang mengancam para penambang ilegal di Indonesia. Minimnya pengawasan, kurangnya alat keselamatan, dan kondisi geologis yang ekstrem membuat nyawa mereka terus dipertaruhkan demi sekantong emas. Akankah ini menjadi pelajaran berharga bagi pemerintah dan para penambang? Atau tragedi serupa akan kembali terulang di masa depan? Hanya waktu yang akan menjawab.
Dapatkan juga berita teknologi terbaru hanya di newtechclub.com




