UNGARAN, Exposenews.id – Kabar pengeboran panas bumi di kawasan Gunung Ungaran sontak membuat publik penasaran sekaligus cemas. Akhirnya, PT PLN angkat bicara. Bukan untuk menenangkan, justru mereka mengungkap fakta mengejutkan bahwa proyek ambisius ini ternyata masih jauh dari eksekusi nyata!
Masih Jauh dari Eksekusi, PLN Tegaskan Belum Ada Pengeboran
Ferdyan Hijrah Kusuma, selaku Senior Manager Perizinan, Pertanahan dan Komunikasi PLN UIP Jawa Bagian Tengah, dengan tegas menyatakan bahwa rencana pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) Gunung Ungaran saat ini masih terhambat dalam tahap perencanaan dan studi kelayakan. Ia menekankan bahwa hingga saat ini, belum ada satu pun aktivitas konstruksi atau pengeboran yang dilakukan di lokasi.
Menurutnya, pengembangan proyek ini akan berjalan secara bertahap dan sangat bergantung pada hasil kajian komprehensif serta peraturan perundang-undangan yang berlaku. “Proses perencanaan ini kami lakukan dengan sangat hati-hati,” ujar Ferdyan dalam keterangan tertulisnya, Minggu (6/9/2026).
Di dalam proses perencanaan yang panjang tersebut, PLN tidak bergerak sendiri. Mereka justru menggandeng berbagai pihak terkait untuk mengkaji berbagai aspek krusial, mulai dari aspek teknis, keselamatan kerja, hingga dampak lingkungan dan sosial. Bahkan, aspek tata ruang, perizinan, hingga upaya pelestarian cagar budaya juga turut menjadi perhatian serius dalam setiap rapat koordinasi.
Lebih lanjut, ia menyebutkan bahwa masukan dan aspirasi dari masyarakat setempat menjadi bahan bakar utama dalam perencanaan ini. PLN sangat menyadari bahwa proyek sebesar ini tidak boleh mengabaikan suara rakyat yang tinggal di sekitar Gunung Ungaran.
Sumber Air dan Mata Pencaharian Jadi Perhatian Utama
Namun, yang paling membuat publik bertanya-tanya adalah nasib sumber air dan mata pencaharian warga. Menjawab hal ini, PLN pun menegaskan bahwa keberadaan sumber air dan kelangsungan aktivitas masyarakat adalah prioritas utama yang tidak bisa ditawar. Mereka berjanji akan mengkaji secara mendalam potensi dampak terhadap lingkungan sebelum melangkah ke tahap berikutnya. Hasil kajian itulah yang nantinya akan menjadi dasar utama dalam pemenuhan izin lingkungan yang ketat.
Tak hanya soal permukaan, PLN juga mengaku akan menyelidiki kondisi bawah permukaan Gunung Ungaran. “Sebelum menentukan titik sumur, kami akan melakukan penelitian geologi dan geofisika terlebih dahulu. Ini penting untuk memahami struktur batuan, kondisi air bawah tanah, hingga suhu panas bumi,” jelas Ferdyan. Dengan begitu, lokasi dan arah pengeboran bisa ditentukan secara presisi dan aman.
Meredam kekhawatiran yang meluas, Ferdyan dengan lantang menyatakan bahwa lokasi pengeboran sama sekali tidak akan masuk ke kawasan Candi Gedong Songo yang bersejarah. “Jika nanti kegiatan eksplorasi benar-benar berlangsung, penentuan titik pengeboran akan mempertimbangkan hasil kajian teknis, zonasi kawasan, dan aturan perlindungan cagar budaya,” tegasnya.
Menariknya, Ferdyan mengungkapkan fakta bahwa Wilayah Kerja Panas Bumi (WKP) Gunung Ungaran mencakup lahan seluas 29.800 hektar. Namun, ia menegaskan bahwa luas tersebut tidak serta merta berarti seluruh wilayah akan dibangun infrastruktur PLTP. Rencana kapasitas PLTP sebesar 55 MW pun masih bergantung pada hasil kajian dan analisis yang masih berjalan.
PLN pun terus menjalin koordinasi intensif dengan Kementerian ESDM, pemerintah daerah setempat, para ahli geologi, hingga tokoh masyarakat dan pemangku kepentingan lainnya. Semua dilakukan demi memastikan pengembangan PLTP berjalan sesuai aturan dan membawa manfaat, bukan bencana.
Warga dan Bupati Satu Suara, Keresahan Tak Terbendung
Namun, di luar pernyataan resmi PLN itu, keresahan warga justru semakin menjadi-jadi. Bupati Semarang, Ngesti Nugraha, bahkan secara blak-blakan mengakui adanya kepanikan dan kegaduhan di media sosial terkait proyek ini. Menyikapi hal itu, Ngesti dengan tegas meminta PLN untuk menghentikan rencana tersebut demi menciptakan suasana yang adem dan kondusif di masyarakat. “Kalau dari PT PLN itu masih sebatas gambaran-gambaran,” katanya usai rapat koordinasi pada Jumat (4/9/2026).
Sementara itu, Budi, warga Dusun Darum, Desa Candi, Kecamatan Bandungan, mengaku sangat resah. “Kami hanya mendengar kabar pengeboran, tapi tidak ada kejelasan informasi mekanisme dan dampaknya. Itu yang membuat kami khawatir,” ujarnya dengan cemas, Selasa (1/9/2026).
Budi juga mengungkapkan ketakutan terbesar warga. Menurutnya, mayoritas masyarakat sekitar menggantungkan hidup pada sektor pertanian. Mereka takut pengeboran geothermal akan merusak sumber mata air yang menjadi denyut nadi kehidupan mereka. Bagaimana nasib sawah dan ladang jika sumber air mengering? Pertanyaan ini masih menggantung di udara, membuat suasana di kaki Gunung Ungaran semakin mencekam.
Dapatkan juga berita teknologi terbaru hanya di newtechclub.com





