Exposenews.id – Tim nasib apes seperti Wolverhampton Wanderers yang baru saja terdegradasi dari Liga Inggris ternyata justru ketiban durian runtuh. Mereka dilaporkan mengantongi pendapatan hampir lima kali lipat lebih besar dibandingkan sang juara Liga Italia, Inter Milan. Kok bisa? Yuk, simak fakta mencengangkan di balik ketimpangan finansial ini!
GILA! Wolves Degradasi Dapat Rp 2,8 Triliun
Wolverhampton Wanderers benar-benar merasakan nasib nahas setelah mereka resmi terdegradasi dari Liga Inggris. Pada musim 2025-2026, tim ini nyaris sepanjang kompetisi terpuruk di dasar klasemen, tepatnya posisi ke-20. Akan tetapi, siapa sangka jika di balik keterpurukan itu justru tersimpan kejutan besar. Meskipun mereka harus turun kasta, dompet mereka malah bakal terisi lebih tebal dari juara Serie A!
Sempat muncul secercah harapan ketika Rob Edwards mengambil alih kursi pelatih. Di bawah asuhannya, Wolves mulai bangkit dan berhasil menipiskan jarak poin dengan tim di atasnya. Namun, sayangnya usaha mereka belum cukup untuk selamat. Pada akhir musim, mereka hanya terpaut dua angka dari Burnley yang menempati peringkat ke-19. Meski gagal bertahan, kisah Wolves justru berubah menjadi sorotan karena faktor uang yang mengalir deras ke kantong mereka.
Ketimpangan Mencolok: Degradan vs Juara
Ketimpangan finansial mencolok terjadi antara Wolves yang terdegradasi dan Inter Milan yang baru saja meraih gelar juara. Menariknya, tim sekelas Inter yang jadi raja di Italia justru kalah jauh dari segi pendapatan dibanding tim degradan asal Inggris. Fenomena ini sontak mengundang pertanyaan besar: bagaimana mungkin tim yang kalah justru mendapatkan jatah lebih besar daripada pemenang? Jawabannya terletak pada mekanisme pendapatan hak siar dan regulasi unik Liga Inggris.
Mengintip Isi Kantong Wolves: Rp 2,8 Triliun!
Berdasarkan informasi yang dihimpun dari akun Twitter @DeadlineDayLive, Wolves disebut bakal menerima uang sebesar 120 juta poundsterling. Jika dikonversi, nominal fantastis itu setara dengan sekitar Rp 2,8 triliun! Bayangkan, segitu banyaknya uang yang mereka raih meski gagal bertahan di kasta tertinggi. Lantas, dari mana saja sumber pendapatan sebesar itu? Jawabannya, akumulasi dari hak siar televisi dan parachute payment.
Sementara itu, kebijakan parachute payment dirancang oleh operator Liga Inggris sebagai kompensasi finansial yang diberikan kepada tim yang terdegradasi. Aturan ini dibuat dengan tujuan agar klub-klub yang turun kasta tidak langsung mengalami kebangkrutan. Perbedaan pendapatan yang drastis antara Liga Inggris dan kasta kedua pun diantisipasi melalui dana kompensasi tersebut. Dengan kata lain, meski degradasi, mereka tetap diselamatkan oleh kantong tebal dari operator liga.
Juara Serie A Cuma Dapat Receh Rp 598 Miliar?
Kembali ke kubu Inter Milan, kisahnya benar-benar berbanding terbalik. Klub berjuluk Nerazzurri itu sukses meraih gelar juara Liga Italia musim 2025-2026. Mereka berhasil duduk manis di puncak klasemen dan menjaga jarak aman sembilan poin dari Napoli di posisi kedua. Tetapi, ketika bicara soal uang yang masuk, gelar juara tidak serta-merta membuat mereka kaya raya. Kenyataannya, mereka justru mendapat jatah yang lebih kecil dari tim degradasi Inggris.
Sesaat setelah meraih scudetto, Inter Milan ternyata hanya mengantongi 25 juta poundsterling dari hasil posisi klasemen dan distribusi hak siar domestik. Nominal itu jika dirupiahkan hanya sekitar Rp 598 miliar. Wow, sangat kontras dengan Wolves yang mendapatkan Rp 2,8 triliun! Padahal, sebagai juara, Inter seharusnya menjadi tim paling sukses di Italia. Namun, di mata uang, mereka justru kalah telak oleh tim yang sepanjang musim berjuang di papan bawah.
Ironi di Tengah Euforia Juara
Lebih memprihatinkan lagi, tim asuhan Cristian Chivu ini kini harus bersiap kembali berlaga di Liga Champions. Mereka jelas membutuhkan dana segar yang sangat besar untuk bisa bersaing di kompetisi antarbenua tersebut. Sayangnya, dengan pendapatan yang hanya Rp 598 miliar, tekanan finansial justru membayangi sang juara. Lantas, bagaimana mereka akan memenuhi kebutuhan skuad, biaya perjalanan, hingga bonus pemain? Situasi ini jelas sangat ironis.
Perbandingan antara Wolves dan Inter pun seperti langit dan bumi. Di satu sisi, kita melihat tim pesakitan yang terdegradasi justru menikmati limpahan uang hingga triliunan rupiah. Di sisi lain, tim juara sekelas Inter Milan harus puas dengan pendapatan yang jauh lebih kecil. Akun @DeadlineDayLive pun ikut angkat bicara soal ketimpangan ini. Mereka dengan tegas menyebut situasi ini sebagai bukti nyata adanya ketidakadilan finansial dalam sepak bola Eropa.
Dari fakta-fakta tersebut, sebuah kesimpulan pahit akhirnya bisa ditarik oleh para pengamat sepak bola. Sistem finansial liga-liga Eropa saat ini masih didominasi oleh kekuatan ekonomi Liga Inggris. Bahkan, tim degradasi dari Inggris pun bisa mendapatkan lebih banyak uang daripada juara liga top Eropa lainnya. Sungguh paradoks, ketika prestasi tidak lagi menjadi penentu utama besarnya pendapatan. Ironi ini pun harus dihadapi langsung oleh klub-klub elite seperti Inter Milan di tengah euforia kemenangan mereka.
Dapatkan juga berita teknologi terbaru hanya di newtechclub.com
