MALANG, Exposenews.id – Warga Jawa Timur mendadak geger setelah menyaksikan kondisi tinggi permukaan air di Bendungan Sutami, Desa Karangkates, Kecamatan Sumberpucung, Kabupaten Malang, yang ternyata mengalami kemerosotan luar biasa drastis dalam kurun waktu beberapa pekan belakangan ini.
Dampak buruknya, fenomena penyusutan air ini langsung melempar cadangan air waduk vital—yang selama ini menjadi jantung utama dari seluruh sistem pengelolaan Daerah Aliran Sungai (DAS) Brantas—ke dalam situasi yang sangat mengkhawatirkan dan terancam lumpuh.
Berdasarkan data pantauan paling gres pada Kamis (22/10/2026), tim ahli mengonfirmasi bahwa elevasi air di Raksasa Karangkates ini cuma menyisakan angka 259,49 meter di atas permukaan laut (mdpl), padahal jika kita menengok balik ke puncak musim hujan pada rentang April hingga Mei 2026 lalu, posisinya masih sanggup bertengger gagah di level 272,5 mdpl, yang berarti air sudah amblas sedalam lebih dari 13 meter!
Lumpur Menyembul dan Cadangan Air Masuk Status Merah
Secara resmi, pihak Direktorat Pengelolaan Sumber Daya Air Brantas I Perum Jasa Tirta (PJT) I mendapati kenyataan pahit bahwa stok air baku di Bendungan Sutami saat ini sudah secara sah menyentuh status siaga merah alias kritis dari kacamata teknis alokasi pasokan air regional.
Kalaupun Anda berkunjung langsung ke lokasi, keprihatinan ini makin terpampang nyata karena Anda bisa melihat hamparan dasar waduk yang sebelumnya tenggelam, kini malah menyembul ke permukaan menampilkan lautan lumpur sedimen yang mengering akibat volume air yang terus tergerus habis.
Menanggapi krisis kekeringan ini, Kepala Subdirektorat Pengelolaan Sumber Daya Air Brantas I PJT I, Arif Satriya, menyampaikan keprihatinannya secara langsung dalam wawancara khusus pada Kamis (22/10/2026) siang, dengan menegaskan bahwa alokasi cadangan air di bendungan raksasa tersebut memang sudah berada di titik batas aman.
Meskipun Arif tidak secara gamblang merincikan berapa sisa volume meter kubik air yang tersisa di dalam perut waduk detik ini, catatan historis PJT I menunjukkan bahwa saat elevasi waduk berada di angka 267 mdpl pada 9 September 2026 saja, volume air tercatat tinggal 106,5 juta meter kubik, yang menandakan bahwa waduk telah kehilangan tak kurang dari 75 juta meter kubik air jika kita membandingkannya dengan kondisi puncak.
Sungguh mencengangkan, hanya dalam rentang waktu yang sangat singkat yaitu sekitar 42 hari sejak awal September 2026 tersebut, tinggi permukaan air Bendungan Sutami tercatat merosot tajam hingga 8 meter, bergerak merosot tanpa henti dari posisi 267 mdpl menuju level mengkhawatirkan di 259 mdpl.
Terjangan El Nino Godzilla Bikin Target Penurunan Jebol
Padahal, jika mengacu pada rancangan skenario awal dan simulasi pengelolaan yang dibuat tim teknologis, para ahli sejatinya memproyeksikan bahwa penurunan elevasi ke batas 260 mdpl baru akan terjadi pada fase awal atau setidaknya pertengahan bulan November 2026 mendatang.
Namun sayangnya, kenyataan di lapangan justru bergerak jauh lebih cepat menembus batas prediksi, di mana batas kritis 260 mdpl tersebut justru runtuh dan terlewati secara prematur padahal bulan Oktober sendiri belum sempat berakhir.
“Bahkan, kita semua harus menyaksikan fakta mengejutkan bahwa target elevasi 260 mdpl yang seharusnya baru tersentuh di bulan November nanti, ternyata sudah jebol dan terlewati hari ini juga,” terang Arif dengan nada penuh kewaspadaan.
Menurut penjelasan mendalam dari Arif, percepatan penyusutan air waduk yang berjalan membabi buta dan menghancurkan kalkulasi awal ini dipicu langsung oleh terjangan musim kemarau panjang yang kian parah akibat hantaman fenomena cuaca ekstrem El Nino Godzilla.
Lebih lanjut, ia menguraikan bahwa bencana ini melanda tidak hanya lantaran mundurnya jadwal kedatangan musim hujan semata, melainkan juga akibat serbuan cuaca panas terik luar biasa yang memicu penguapan masif secara simultan di saat debit air yang masuk dari anak sungai terus mengecil drastis.
Skenario Pertahanan Darurat Sebelum Hujan Datang
Menyikapi situasi yang kian menggentingkan ini, jajaran PJT I tidak tinggal diam dan langsung menggembleng serangkaian strategi darurat guna menahan laju pengurasan pasokan air di Waduk Sutami agar tidak memicu krisis yang lebih luas bagi jutaan warga.
Melalui koordinasi ketat, PJT I kini mengerahkan seluruh sumber daya untuk memagari elevasi air agar tidak sampai jebol menembus batas bawah 256 mdpl, sembari bertahan menanti datangnya guyuran hujan berintensitas ringan hingga sedang yang diprediksi baru akan membasahi bumi pada pertengahan November atau awal Desember 2026 nanti.
Bendungan utama sistem Sungai Brantas
Perlu Anda pahami, Bendungan Sutami bukan sekadar waduk biasa, melainkan benteng dan tulang punggung utama dalam keseluruhan ekosistem pengelolaan air di sepanjang aliran Sungai Brantas yang berfungsi mengantongi limpahan air hujan untuk memulihkan dahaga wilayah Jawa Timur saat kemarau mencekik.
Pasokan air yang tersimpan di dalam mega struktur ini memegang peranan luar biasa vital karena menyokong hajat hidup orang banyak, mulai dari memutar turbin Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA), mengalirkan air bersih ke rumah-rumah melalui PDAM, menggerakkan roda industri air minum, hingga mengairi ribuan hektar sawah petani.
Maka dari itu, dampak dari mengeringnya waduk ini tidak hanya mengancam wilayah Malang dan Blitar di area sekitar bendungan saja, melainkan juga berpotensi melumpuhkan kawasan hilir yang sangat bergantung pada aliran air ini, seperti Kabupaten Blitar hingga Kabupaten Tulungagung.
Jika kita merunut sejarahnya sejak berdiri dan diresmikan pada tahun 1972 silam, Bendungan Sutami sebenarnya dirancang dengan kehebatan daya tampung raksasa yang sanggup mengunci hingga 343 juta meter kubik air di masa kejayaannya.
Namun ironisnya, seiring berjalannya waktu selama puluhan tahun, kapasitas tampung yang dahsyat itu terus mengalami kemerosotan mengkhawatirkan akibat pendangkalan hebat dan erosi lumpur sedimen, yang diperparah oleh rusaknya kawasan resapan air di wilayah hulu serta sepanjang aliran anak-anak Sungai Brantas.
Walhasil, jika kita mengukur daya tampung maksimal saat air berada di titik tertinggi hari ini, Bendungan Sutami tercatat hanya mampu menggembol air sebanyak 180 juta meter kubik saja, yang berarti kapasitasnya sudah menyusut drastis dan hanya menyisakan sekitar 52 persen dari keperkasaan awal sejak bendungan ini pertama kali berdiri.
Dapatkan juga berita teknologi terbaru hanya di newtechclub.com





