SURABAYA, Exposenews.id — Ancaman kesehatan tak kasat mata kini mendadak mengintai seluruh warga Kota Pahlawan tanpa terkecuali! Corie Indria Prasasti, seorang pakar kesehatan bereputasi tinggi dari Universitas Airlangga (Unair), baru saja membunyikan alarm peringatan keras mengenai bahaya lonjakan risiko kesehatan yang sangat mengancam para penderita penyakit asma serta alergi akibat fenomena kemerosotan kualitas udara Surabaya secara drastis belakangan ini.
Secara mengejutkan, pihak Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Surabaya juga membenarkan secara resmi adanya penurunan kualitas udara yang memprihatinkan ini, khususnya pada rentang waktu kritis antara pukul 06.00 hingga 09.00 WIB. Sontak saja, fenomena pemburukan kualitas udara tersebut mendadak menjadi perhatian utama publik, terutama di tengah sengatan cuaca panas ekstrem yang masih terus menyelimuti kawasan perkotaan.
“Masyarakat yang menghabiskan sebagian besar waktunya untuk menjalankan aktivitas di luar ruangan tentu akan menanggung risiko dampak kesehatan paling tinggi dan berbahaya,” tegas Corie saat menyampaikan analisis pakarnya pada hari Jumat (16/10/2026).
Oleh karena itu, ancaman ganda berupa gabungan heat stress dan dehidrasi berat siap menyerang fisik warga kapan saja. Sementara itu, jebakan polutan berbahaya yang terperangkap kokoh di lapisan udara pagi terus-menerus memicu kemunculan berbagai gangguan penyakit pernapasan kronis secara masif di tengah masyarakat.
Dari Rumah Hingga Luar Ruangan: Penyakit Pernapasan Intai Kelompok Rentan!
Lebih lanjut lagi, Corie secara lugas memaparkan bahwa fenomena penurunan kualitas udara ini sanggup memantik timbulnya sederet penyakit pernapasan yang sangat fatal. Serangan ini berkisar mulai dari kambuhnya penyakit asma secara tiba-tiba, gangguan alergi rinitis yang sangat menyiksa, hingga kerusakan organ paru-paru secara permanen dan berkelanjutan.
“Bahkan, warga yang dari awal memang sudah mengantongi riwayat penyakit asma atau gangguan pernapasan lainnya secara otomatis langsung masuk ke dalam kelompok sangat rentan. Selain itu, kelompok masyarakat lansia dan anak-anak balita juga berada di posisi paling berbahaya dengan tingkat risiko pemaparan racun polusi yang paling tinggi,” terangnya dengan nada penuh keprihatinan.
Di samping itu, warga yang memilih untuk berdiam diri atau beraktivitas di dalam ruangan pun ternyata tidak bisa benar-benar luput dari kepungan dampak buruk penurunan kualitas udara ini. Pasalnya, hembusan udara luar yang berhasil menerobos masuk melalui ventilasi bangunan rumah tetap membawa segudang partikel polutan mikroskopis yang berpotensi besar memicu berbagai masalah kesehatan serius.
“Selanjutnya, tatkala racun-racun polutan ini sudah terlanjur masuk ke dalam ruangan rumah, kita sebenarnya hanya tinggal menunggu waktu saja sampai para penghuni di dalamnya ikut merasakan dampak buruknya. Oleh sebab itu, saat ini perbedaannya menjadi sangat tipis antara orang yang aktif beraktivitas di luar ruangan maupun yang berada di dalam rumah, sebab kepekatan polusi di udara luar sudah mencapai taraf yang sangat mengkhawatirkan,” paparnya secara gamblang.
Selain hal tersebut, pakar kesehatan dari Unair ini juga menambahkan peringatan penting bahwa fenomena penurunan kualitas udara di kawasan perkotaan biasanya selalu berbanding lurus dengan peningkatan tajam kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) beserta komplikasi pernapasan berat lainnya.
“Akan tetapi, jika kita membedah secara umum mengenai dampak penurunan kualitas udara yang dipenuhi oleh tingginya angka pencemaran racun, muaranya pasti akan selalu berkutat di antara wabah ISPA, kambuhnya serangan asma hebat, penderitaan alergi rinitis, hingga infeksi paru-paru kronis yang mematikan seperti Penyakit Paru Obstruktif Kronis (PPOK),” tegasnya mendetailkan risiko tersebut.
Upaya Pemkot Belum Cukup: Butuh Sinergi Lintas Sektor Tekan Emisi!
Meskipun demikian, ia tetap mengapresiasi berbagai upaya penanganan nyata yang sebenarnya sudah giat dilancarkan oleh Pemerintah Kota Surabaya demi mengatasi kemerosotan kualitas udara ini. Berbagai program unggulan telah bergulir secara berkala, mulai dari gelaran Car Free Day (CFD) setiap seminggu sekali, perluasan area Ruang Terbuka Hijau (RTH), hingga gerakan penanaman ribuan pohon penyerap racun polutan di berbagai sudut kota.
Namun demikian, ia menegaskan kembali bahwa segala terobosan dari pemerintah kota tersebut tentu saja masih belum cukup untuk menyelesaikan masalah hingga ke akarnya. Oleh sebab itu, seluruh pihak sangat membutuhkan kehadiran kerja sama lintas sektor secara masif demi mengendalikan sumber utama pembuat polutan, terutama lewat aksi pengetatan emisi kendaraan bermotor dan kontrol ketat terhadap aktivitas industrialisasi.
“Terlebih lagi, tatkala pagi hari menyapa Kota Surabaya, kita pasti akan selalu menyaksikan penumpukan titik-titik kemacetan parah akibat tingginya volume kendaraan dari jutaan pekerja luar kota yang membanjiri Surabaya. Oleh karena itu, masalah-masalah pelik seperti ini jelas memerlukan sentuhan kerja sama yang solid dari berbagai sektor pemerintah dan swasta,” bebernya sembari menyoroti akar masalah kemacetan.
Di sisi lain, sang ahli memprediksi bahwa fenomena mencekam mengenai pencemaran udara ini nantinya bakal mereda dan menghilang dengan sendirinya tatkala kedatangan musim penghujan secara bertahap mulai membasahi wilayah Surabaya.
“Sebab, ketika hujan deras turun membasahi bumi, kita dapat merasakan langsung bagaimana kondisi udara akan berubah menjadi jauh lebih segar. Hal ini terjadi bukan sekadar karena siraman air semata, melainkan karena butiran air hujan berhasil menyapu dan menurunkan racun-racun polutan yang beterbangan di udara ke permukaan tanah, sehingga udara yang akhirnya kita hirup menjadi jauh lebih bersih,” ucapnya menyebarkan harapan positif.
Jurus Ampuh Lindungi Diri: Bentengi Imunitas dari Udara Beracun!
Oleh sebab itu, ia menekankan bahwa penerapan langkah-langkah preventif atau tindakan pencegahan dini dalam menangkal dampak buruk kesehatan ini wajib disadari dan dijalankan oleh setiap individu secara mandiri dan disiplin.
Selanjutnya, ia secara tegas mengimbau kepada seluruh lapisan masyarakat agar sebisa mungkin menghindari aktivitas berlebihan di luar ruangan jika tidak ada keperluan yang sangat mendesak. Selain itu, masyarakat juga wajib terus menjaga benteng imunitas tubuh, selalu disiplin menggunakan masker pelindung saat bepergian, serta memastikan kecukupan konsumsi air minum harian agar tubuh tetap terhidrasi dengan sempurna.
“Kemudian, jangan sampai Anda lupa untuk sering-sering mengonsumsi buah-buahan segar atau bahan makanan yang kaya akan kandungan vitamin C demi membantu mendongkrak daya tahan tubuh dari gempuran polusi,” pungkas sang pakar mengakhiri penjelasannya.
Dapatkan juga berita teknologi terbaru hanya di newtechclub.com





