JEMBER, Exposenews.id – Para pengguna jalan di wilayah Jawa Timur mendadak geger setelah para penglaju menemukan belahan retakan misterius sepanjang kurang lebih 30 meter yang merusak hamparan aspal di Jalur Gumitir, yakni jalan nasional utama penghubung vital antara Kabupaten Jember dan Kabupaten Banyuwangi.
Padahal pihak tim teknis mengategorikan kerusakan di KM SBY 230+950 Desa Sidomulyo, Kecamatan Silo, Kabupaten Jember ini terhitung lumayan ringan, namun kondisi kawasan tebing curam di dekatnya benar-benar bikin pusing karena tanah lereng mulai tergerus erosi dan sangat berisiko tinggi memicu bencana saat puncak musim hujan tiba.

Melihat potensi ancaman bahaya keselamatan bagi para pengemudi, pihak Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jember langsung bergerak cepat menggaet tim Balai Besar Pelaksanaan Jalan Nasional (BBPJN) Jawa Timur-Bali beserta jajaran instansi terkait buat mengeksekusi sejumlah langkah penanganan darurat di lokasi kejadian.
Selanjutnya, Kepala BPBD Jember Edy Budi Susilo membeberkan kronologi awal bahwasanya para petugas kebencanaan baru mendeteksi celah keretakan berbahaya ini selepas menyerap laporan kilat dari masyarakat sekitar dan rekan relawan pada 5 Oktober 2026 lalu.
“Berdasarkan hasil asesmen mendalam dari para relawan dan tim ahli di lokasi, kami mendapati keretakan ringan yang menganga di permukaan aspal jalan sepanjang kurang lebih 30 meter,” beber Edy sewaktu memaparkan kabar terkini kepada media pada Senin (12/10/2026).
Bahkan, posisi keretakan jalan tersebut pas memotong lajur kanan kendaraan dari arah Jember menuju Banyuwangi, di mana lokasi kerusakannya bertengger tepat pada area tikungan tajam yang memiliki kemiringan melintang jalan atau teknisi biasa sebut sebagai superelevasi.
Di samping itu, letak keretakan aspal yang berisiko membahayakan keselamatan pengemudi ini berada sangat dekat dari tepi tebing, yakni berjarak cuma sekitar 2 hingga 2,5 meter saja dari batas bahu jalan utama.
Tak cuma itu, para petugas di lapangan menaruh perhatian khusus pada keberadaan pohon beringin di sekitar lereng karena cengkeraman akar dan beban pohon dikhawatirkan dapat memperbesar risiko kerusakan badan jalan, terutama sewaktu memasuki musim penghujan yang ekstrem.
“Maka dari itu, kami bergerak cepat mengantisipasi risiko terburuk agar keretakan pada aspal nggak terus berkembang menjadi makin parah pas hujan deras mendera,” jelas Edy menegaskan komitmen kesiapsiagaan timnya.
Gebrakan Perbaikan Aspal Hingga Pengamanan Lereng Tebing Curam
Lebih lanjut, Edy menyampaikan bahwasanya jajaran BBPJN sudah mengeksekusi penanganan teknis tahap awal secara sigap sejak Sabtu (10/10/2026) kemarin guna meminimalisir potensi bahaya kecelakaan.
Malahan, tim pekerja teknis langsung menambal dan menyegel retakan aspal menggunakan metode sealing, lantas melapisi kembali seluruh permukaan badan jalan mengenakan hamparan aspal baru berteknologi overlay supaya konstruksi kembali mulus dan kedap air.
Tak berhenti di situ, pada lereng yang mengalami gerusan tanah akibat erosi, kata Edy, tim BBPJN juga memasang ratusan karung pasir sandbag sekaligus menutup bagian atas serta bawah lereng memanfaatkan terpal tebal sebagai penanganan sementara penahan erosi.
Bahkan, para petugas lapangan turut menancapkan banner peringatan berukuran besar beberapa meter sebelum titik keretakan guna meningkatkan kewaspadaan para pengguna jalan agar nggak kaget saat melintas.
Selain itu, personel BPBD bersama sejumlah pihak terkait langsung mengeksekusi aksi perempesan dan pemangkasan ranting-ranting pohon beringin di sekitar tebing demi mengurangi beban cengkeraman tanah lereng di bibir jurang.
Meskipun penanganan awal terhadap retakan jalan sudah selesai dilaksanakan oleh petugas, kewaspadaan para pengguna jalan dan pemantauan kondisi lokasi tetap sangat diperlukan untuk mengantisipasi kemungkinan perkembangan kerusakan susulan.
“Oleh sebab itu, kami tak henti-hentinya mengimbau seluruh pengguna jalan agar tetap berhati-hati, mematuhi rambu peringatan di lokasi, dan mau mengurangi kecepatan kendaraan pas melintas di area berisiko ini,” pesan Edy mengakhiri keterangannya.
Lagipula, retakan terbaru ini kian menambah perhatian serius terhadap kondisi keselamatan Jalur Gumitir, yang merupakan akses vital penghubung Jember dan Banyuwangi sekaligus sarana mobilitas harian masyarakat serta roda distribusi barang logistik.
Ngeri! Jalur Maut Gumitir Ternyata Pernah Ditutup Total Selama 2 Bulan
Jika menengok rekam jejak masa lalu pada tahun 2025, jalur perbukitan yang terkenal ekstrem ini ternyata sempat ditutup total oleh pemerintah demi mendukung pekerjaan perbaikan jalan nasional dan penanganan titik longsoran berbahaya.
Bahkan, pemblokiran total arus lalu lintas kendaraan tersebut berlangsung dalam kurun waktu yang terbilang lumayan lama, yaitu terhitung mulai tanggal 24 Juli hingga resmi beroperasi kembali pada 4 September 2025.
Terlebih lagi, salah satu titik pengerjaan paling berat kala itu dipusatkan di KM 233+500 yang terkenal sebagai Tikungan Mbah Singo, dengan pengerjaan perkuatan lereng bawah memanfaatkan konstruksi bored pile sepanjang 115 meter plus perbaikan geometri badan jalan.
Alhasil, penutupan total ketika itu terpaksa dilakukan oleh pihak berwenang guna mendukung kelancaran pekerjaan konstruksi sekaligus menjaga keselamatan nyawa para pengguna jalan selama proses perbaikan berlangsung.
Lantas, retakan terbaru yang ditemukan warga pada Oktober 2026 ini berada di KM SBY 230+950, sehingga posisinya jelas berbeda dari titik penanganan longsoran pada proyek tahun sebelumnya.
Kendati bukan kerusakan di lokasi yang sama, kondisi teranyar tersebut menjadi perhatian serius bahwasanya pemantauan rutin terhadap jalan dan lereng di kawasan gunung purba Gumitir merupakan hal krusial, terutama menjelang kedatangan musim hujan.
Dapatkan juga berita teknologi terbaru hanya di newtechclub.com





