JAKARTA, Exposenews.id – Adegan mengejutkan terjadi di gedung parlemen! Koordinator Aliansi Masyarakat Pati Bersatu (AMPB), Teguh Istianto, melontarkan kekecewaan mendalam lantaran Ketua DPR RI, Puan Maharani, tak terlihat batang hidungnya saat agenda krusial pembacaan laporan Rancangan Undang-Undang (RUU) Perampasan Aset berlangsung di Rapat Paripurna ke-3 Masa Sidang I Tahun Sidang 2026-2027. Betapa tidak, di momen yang seharusnya sakral dan penuh tanggung jawab negara itu, kursi pimpinan justru terlihat kosong.
“Seharusnya sih yang kami minta menemui Ibu Ketua, tapi tadi di Sidang Paripurna tidak hadir. Dan saya menyatakan kecewa, sidang paripurna itu sidang yang paling penting kok tidak hadir. Ini namanya menyepelekan negara,” ujar Teguh dengan nada geram saat audiensi bersama Pimpinan DPR RI pada Kamis (27/8/2026). Bagi AMPB, ketidakhadiran ini bukan sekadar protokol, melainkan tamparan halus bagi seluruh elemen masyarakat yang menaruh harapan besar pada pembahasan aturan perampasan aset yang dinantikan banyak pihak.
Tak hanya melontarkan kritik tajam, Teguh pun dengan tegas mengingatkan seluruh jajaran dewan agar segera membuka mata lebar-lebar dan serius mengurus hajat hidup orang banyak. Ia meminta dengan lantang agar setiap anggota dan pimpinan DPR menunjukkan etos kerja tinggi dengan hadir dalam setiap persidangan. “Untuk selanjutnya saya minta untuk semua sidang, semua anggota itu hadir. Ini memikirkan negara kok enggak hadir, ya,” tegasnya bagaikan petir di siang bolong, menyiratkan bahwa mengurus negara bukanlah mainan yang bisa diabaikan sesuka hati.
AMPB Bantah Keras: Kami Bukan Aktivis, Kami Darah Daging Rakyat!
Dalam kesempatan audiensi yang cukup tegang tersebut, Teguh dengan lantang meluruskan kesalahpahaman yang kerap menimpa mereka. Ia menegaskan bahwa AMPB sama sekali bukan gerakan aktivis atau LSM abal-abal yang kerap berkoar tanpa arah. Karena itulah, ia meminta pimpinan DPR untuk segera turun tangan dan menemui masyarakat yang sejak pagi setia berdesakan di depan gerbang parlemen, menunggu waktu yang tepat demi menyampaikan aspirasi mereka.
“Di depan sana itu bukan aktivis, Pak. Rakyat murni, Pak, yang pengin bersuara. Tolong entah nanti melalui perwakilan, tolong temui ya, Pak, ya. Mereka datang dari Pati, tempat yang jauh, Pak, dari sini. Kemudian ada yang dari Surabaya, ada yang dari Bali,” ungkapnya dengan suara bergetar penuh harap. Baginya, pengorbanan waktu, tenaga, dan biaya yang dikeluarkan massa dari berbagai pelosok tanah air harus dihargai dengan tatap muka yang hangat, bukan sekadar tembok tinggi dan birokrasi yang berbelit-belit.
Lebih jauh lagi, Teguh juga menyisipkan pesan kemanusiaan yang mendalam agar DPR tidak alergi terhadap kritik dan aksi damai. Ia berharap dewan yang terhormat itu dapat mengayomi masyarakat yang datang dengan kepala dingin untuk mencurahkan segala kegelisahan kepada wakil rakyatnya. “Mereka itu pengin menemui dari wakilnya yaitu DPR, saya mohon tolong ayomi mereka, lindungi mereka, dan layani mereka. Jangan sampai mereka disakiti dan jangan sampai mereka dikriminalisasi dan diintimidasi. Ini yang mereka takutkan adalah itu,” ucapnya memohon, bagaikan seorang abang yang melindungi adik-adiknya yang sedang ketakutan.
Puan Berkilah: Tugas Temui Massa Sudah Didelegasikan, Saya Sibuk Paripurna!
Di sisi lain, Puan Maharani bukannya tinggal diam. Ia pun memberikan klarifikasi bahwa dirinya tidak bergabung dalam audiensi karena terhalang oleh tugas lain yang tak kalah penting. Menurutnya, tugas mulia menemui demonstran sudah dilimpahkan dengan penuh kepercayaan kepada unsur pimpinan DPR lainnya yang dianggap kompeten. “Memang kami membagi tugasnya karena kan saya dan Bu Sari memimpin Paripurna, sebelumnya Pak Dasco memimpin Paripurna. Saya tadi juga ada pertemuan dulu,” kata Puan di Gedung DPR, Kamis (27/8/2026), dengan nada diplomatis yang khas.
Menariknya, saat audiensi antara DPR dan massa aksi itu berlangsung sengit, rapat paripurna DPR justru masih berjalan tanpa henti. Puan menambahkan bahwa pembagian tugas seperti ini adalah hal lumrah dalam organisasi sebesar DPR. “Pimpinan ada satu ketua dan empat wakil ketua, memang bertugas untuk bisa menemui masyarakat, aspirasi dan mempunyai tugas masing-masing untuk pembagian tugasnya,” imbuh Puan berusaha menenangkan gelombang kekecewaan yang menghantam publik.
Puan Terlambat Masuk Paripurna, Dasco dan Saan Malah Turun ke Jalan
Fakta mengejutkan lainnya terungkap ketika Rapat Paripurna yang sakral itu sempat dipimpin oleh Wakil Ketua DPR, Sufmi Dasco Ahmad. Namun, begitu kabar tentang gerakan massa mulai memanas, Dasco dengan sigap meninggalkan arena rapat paripurna untuk turun langsung dan menemui demonstran dalam forum audiensi yang lebih cair. Ia tak sendiri, melainkan ditemani oleh Wakil Ketua DPR lainnya, yakni Saan Mustopa dan Cucun Ahmad Syamsurijal. Mereka bertiga dengan berani keluar dari ruang ber-AC untuk berhadapan langsung dengan terik matahari dan teriakan rakyat.
Tak lama setelah kepergian Dasco, suasana berubah drastis. Ketua DPR Puan Maharani akhirnya muncul juga, namun sayangnya dengan status terlambat. Ia terlihat tergesa-gesa memasuki arena rapat paripurna yang ketika itu sudah dipimpin oleh Wakil Ketua DPR Sari Yuliati, karena Dasco dan kawan-kawannya sudah lebih dulu hijrah ke lokasi demo. Adegan ini sontak memicu pertanyaan besar: mana yang lebih prioritas, memimpin rapat internal atau menghadapi dinamika rakyat yang bergejolak di luar sana? Rakyat pun menunggu jawaban yang tak sekadar basa-basi.
Dapatkan juga berita teknologi terbaru hanya di newtechclub.com





