Exposenews.id – Siapa sangka, sepiring roti atau semangkuk mie instan yang kita santap setiap hari ternyata menyimpan ancaman besar di baliknya? Gandum, komoditas pangan yang menjadi tulang punggung makanan miliaran manusia di seluruh penjuru bumi, kini sedang berada dalam situasi yang mengkhawatirkan. Perubahan iklim yang kian tak terkendali mengancam akan membuat harga gandum meroket hingga tiga kali lipat dari harga normalnya.
Bayangkan, ketika bencana kekeringan melanda wilayah-wilayah penghasil gandum terbesar di dunia secara bersamaan, maka guncangannya tidak hanya akan terasa di ladang-ladang pertanian, melainkan juga akan bergetar hingga ke rak-rak supermarket dan toko roti di kota-kota besar. Inilah kesimpulan mengejutkan dari hasil penelitian internasional terbaru yang telah dipublikasikan dalam jurnal ilmiah Earth’s Future, seperti yang dilansir dari Phys pada Kamis (21/8/2026).
Ketika Bumi Makin Panas, Harga Pangan Ikut Terbakar
Tim peneliti dari berbagai negara pun kemudian menggabungkan data iklim, luas area produksi tanaman, serta fluktuasi harga komoditas global untuk mengupas tuntas bagaimana fenomena kekeringan mampu mempengaruhi pasar gandum dunia. Hasil temuannya sungguh di luar dugaan dan membuat banyak pihak terperangah. Ternyata, tingkat kelangkaan air yang parah saja sudah mampu menjelaskan sekitar 74 persen dari naik-turunnya harga gandum dunia setiap tahunnya antara periode 2000 hingga 2021.
Profesor Jørgen E. Olesen, yang menjabat sebagai kepala Departemen Agroekologi di Aarhus University, dengan tegas menyampaikan bahwa selama ini kita semua memang sudah mengetahui bahwa perubahan iklim berdampak buruk pada hasil pertanian. Namun, yang benar-benar baru dan menjadi terobosan dalam penelitian ini adalah bukti nyata yang menghubungkan kekeringan luas di berbagai belahan dunia dengan harga yang harus dibayar oleh konsumen dan pasar pangan secara global.
Tolok Ukur Baru Mengungkap Fakta Mengerikan
Untuk mendapatkan gambaran yang lebih akurat, para peneliti pun menciptakan tolok ukur inovatif yang mereka sebut sebagai Severe Water Scarcity (SWS) atau Kelangkaan Air Tingkat Parah. Indikator canggih ini tidak hanya mengukur seberapa luas area lahan pertanian dunia yang mengalami kekeringan, tetapi juga difokuskan pada bulan-bulan kritis saat tanaman gandum paling membutuhkan pasokan air.
Berbeda dengan pendekatan lama yang hanya melihat kekeringan di satu wilayah tertentu, metode baru ini mengamati secara komprehensif apa yang terjadi ketika beberapa daerah penghasil pangan utama dilanda kekeringan secara bersamaan atau beruntun. Yang lebih mengkhawatirkan, para ilmuwan memperkirakan bahwa kejadian kekeringan yang saling menyambung ini akan semakin sering terjadi seiring dengan meningkatnya suhu global.
Gandum Lebih Rentan Dibanding Tanaman Lain
Salah satu temuan paling mencengangkan dari studi ini mengungkapkan bahwa gandum memiliki dampak yang jauh berbeda dibandingkan tanaman pangan lainnya. Hubungan antara kelangkaan air dan lonjakan harga terbukti jauh lebih kuat pada komoditas gandum jika dibandingkan dengan jenis tanaman lain.
Data historis yang berhasil dihimpun menunjukkan bahwa rata-rata sekitar 5 persen dari total lahan gandum dunia mengalami kekeringan parah setiap tahunnya. Namun, angka ini terus melonjak secara signifikan akibat perubahan iklim yang tak terbendung. Pada tahun-tahun yang sangat kering seperti 2000, 2010, 2012, dan 2020, luas lahan yang dilanda kekeringan parah bahkan menembus angka lebih dari 15 persen. Ini adalah lonjakan yang sangat drastis dan patut menjadi peringatan serius bagi kita semua.
Simulasi Iklim Meramalkan Masa Depan Suram
Tim peneliti kemudian tidak berhenti sampai di situ. Mereka menggunakan simulasi iklim mutakhir untuk melihat bagaimana tren mengerikan ini akan berkembang di masa depan. Hasilnya sungguh menakutkan dan membuat bulu kuduk merinding. Studi tersebut menunjukkan bahwa kekeringan parah akan terus menyebar ke area pertanian gandum yang jauh lebih luas seiring dengan terus naiknya suhu bumi.
Mari kita simak proyeksi harga yang benar-benar mencengangkan ini. Pada tingkat pemanasan global sekitar 2 derajat Celsius, simulasi memperkirakan bahwa harga gandum rata-rata akan mencapai sekitar 273 dolar AS per ton. Namun, jika pemanasan global berlanjut hingga mencapai 3 derajat Celsius, maka angkanya akan melonjak drastis menjadi sekitar 364 dolar AS per ton.
Coba bayangkan, angka ini kira-kira tiga kali lipat dari harga gandum dunia pada tahun 2010! Ini bukan lagi sekadar kenaikan harga biasa, melainkan sebuah lonjakan eksplosif yang berpotensi memicu krisis pangan global yang dahsyat.
Krisis Global, Bukan Sekadar Masalah Lokal
Profesor Olesen kembali menegaskan bahwa gandum adalah salah satu tanaman pangan paling penting di dunia yang menjadi makanan pokok bagi miliaran orang. Artinya, setiap gangguan produksi akibat iklim bisa membawa dampak global secara cepat dan masif. Oleh karena itu, penelitian ini memberikan pesan kuat bahwa kita harus mulai melihat bencana kekeringan sebagai tantangan internasional, bukan sekadar masalah lokal yang berdiri sendiri.
Peneliti-peneliti tersebut mengakui bahwa kekeringan bukanlah satu-satunya pemicu naik-turunnya harga gandum. Biaya energi dan pupuk, jumlah cadangan gandum, kebijakan perdagangan antarnegara, hingga konflik politik dunia juga memegang peranan penting dalam menentukan harga. Namun, yang membuat studi ini begitu berharga adalah kemampuannya menemukan satu faktor iklim yang selama ini sulit dihitung, tetapi kini terbukti sudah memengaruhi pasar dunia secara nyata.
Dampak Akan Terasa Hingga ke Rumah Tangga
Ketika bencana kekeringan melanda beberapa wilayah penghasil utama secara bersamaan, maka dampaknya akan menjalar dengan cepat ke pasar internasional dan pada akhirnya memengaruhi negara-negara serta rumah tangga yang letaknya sangat jauh dari area kekeringan tersebut. Ini adalah efek domino yang tidak bisa kita anggap remeh.
Inilah sebabnya mengapa studi ini memberikan rekomendasi penting agar penilaian ketahanan pangan di masa depan tidak hanya berfokus pada penurunan hasil panen secara bertahap. Penilaian juga harus memperhitungkan bencana kekeringan besar dan berulang yang menerjang beberapa wilayah produksi utama secara bersamaan atau dalam jangka waktu yang berdekatan.
Kita semua tentu berharap agar para pengambil kebijakan di seluruh dunia segera menyadari urgensi masalah ini. Tidak ada waktu untuk menunda-nunda lagi. Harga roti, mie, dan berbagai produk berbahan dasar gandum lainnya bisa melonjak kapan saja jika perubahan iklim terus dibiarkan. Mari kita jaga bumi agar masa depan pangan kita tetap aman dan terjangkau bagi semua orang.
Dapatkan juga berita teknologi terbaru hanya di newtechclub.com





