Berita  

Taksi Green SM Diduga Picu Tabrakan, DPR Minta Audit dan Benahi Perlintasan

JAKARTA, Exposenews.id – Anggota Komisi V DPR dari Fraksi Golkar, Hamka B Kady, secara tegas meminta pemerintah untuk segera mengaudit operasional sekaligus kelayakan armada Taksi Green SM. Pasalnya, taksi listrik ini diduga kuat menjadi salah satu pemicu kecelakaan mengerikan antara KRL dan KA Argo Bromo Anggrek di Bekasi Timur beberapa waktu lalu.

Menurut politisi yang kerap menyoroti masalah transportasi ini, audit menyeluruh sangat krusial demi menjamin keselamatan para pengguna transportasi umum. Ia menambahkan bahwa tanpa audit yang ketat, risiko kejadian serupa bisa terulang kembali.

“Semuanya itu harus diaudit dulu, ya. Diaudit, jadi termasuk taksi-taksi yang listrik itu diaudit dulu kemampuan teknisnya, manajemennya taksi dan sebagainya ini, ya kita serahkan lah kepada Kementerian Perhubungan,” ujar Hamka dengan nada tegas kepada awak media pada Rabu (29/4/2026).

Akar Masalah Sebenarnya: Ribuan Perlintasan Sebidang Tak Terjaga!

Selain menyoroti taksi, Hamka juga mengingatkan publik bahwa pemicu utama kecelakaan kereta api fatal di Indonesia sebenarnya berasal dari keberadaan perlintasan sebidang yang tidak terjaga dengan baik. Ribuan titik rawan ini, lanjutnya, tersebar di seluruh penjuru negeri dan masih belum tertata secara memadai.

“Kita mulai dulu akar permasalahannya daripada kecelakaan itu. Yang paling banyak menelan korban dan peristiwa kecelakaan kereta api itu adalah perlintasan sebidang yang ribuan di Indonesia itu tidak ada yang menjaga dengan baik,” tuturnya sambil menggelengkan kepala.

Tak hanya itu, Hamka mengklaim bahwa DPR sebenarnya sudah sejak lama menyuarakan persoalan klasik ini. Pihaknya terus mendesak pemerintah agar bergegas melakukan pengamanan optimal di setiap perlintasan sebidang.

Mengapa ini sangat mendesak? Karena jika perlintasan sebidang dijaga dengan prosedur benar, masyarakat tidak akan bisa dengan mudah menyeberang begitu saja. Apalagi tanpa adanya tanda peringatan atau alarm otomatis yang berfungsi maksimal.

“Alhamdulillah ya saya dapat baca dan info, Pak Prabowo sudah apa namanya menyinggung soal itu akan diselesaikan. Itu yang utama dan pertama sebenarnya kecelakaan-kecelakaan kereta api itu penyebabnya dari perlintasan sebidang,” ujar Hamka dengan lega.

Kronologi Mengerikan: Dari Taksi Nekat hingga Tabrakan Beruntun

Beralih ke fakta di lapangan, kecelakaan kereta di Stasiun Bekasi Timur, Kota Bekasi, benar-benar meninggalkan duka mendalam bagi seluruh masyarakat Indonesia. Peristiwa nahas ini melibatkan KA Argo Bromo Anggrek relasi Gambir-Surabaya Pasar Turi dengan kereta rel listrik (KRL) PLB 5568A jurusan Jakarta-Cikarang pada Senin (27/4/2026) malam.

Akibat kejadian tragis ini, 15 penumpang yang berada di dalam KRL harus meregang nyawa, sementara 84 lainnya mengalami luka-luka cukup serius. Bayangkan, suasana malam yang tenang tiba-tiba berubah menjadi hiruk-pikuk tangis dan teriakan minta tolong.

Direktur Utama PT Kereta Api Indonesia (KAI), Bobby Rasyidin, memberikan penjelasan mengejutkan. Menurutnya, tabrakan antara KA Argo Bromo Anggrek dan KRL diduga bermula dari insiden kecil di pelintasan sebidang. Lokasinya hanya berjarak sekitar 200 meter dari Stasiun Bekasi Timur!

“Kejadian ini dimulai dengan adanya temperan taksi hijau di JPL 85. Sehingga ini yang kami curigai itu membuat sistem perkeretaapian di daerah stasiun emplasemen Bekasi Timur ini agak terganggu,” ungkap Bobby saat ditemui di lokasi kejadian pada Selasa (28/4/2026) dini hari.

Benarkah hanya karena sebuah taksi? Mari kita simak kesaksian saksi mata.

Saksi Mata Ungkap Fakta: Taksi Nekat Terobos Palang Lalu Mogok!

Cerita awal yang mencekam ini juga dibenarkan oleh Askhin Burhan, warga Bekasi yang juga berperan sebagai relawan di perlintasan tersebut. Ia menyebutkan dengan gamblang bahwa sebuah mobil taksi listrik Green SM sempat dengan nekat menerobos palang pintu yang sudah tertutup rapat.

“Iya kondisi palang sudah ditutup, tapi taksi maksa jalan, nerobos palang pintu, nah pas di tengah itu mogok,” ujar Askhin dengan nada kesal di lokasi kejadian, Selasa.

Lebih parahnya lagi, taksi tersebut sama sekali tidak sempat dipindahkan dari tengah rel. Akhirnya, KRL yang melaju dari arah berlawanan tak dapat menghindar dan langsung menabrak mobil malang itu. Insiden pertama ini kemudian memicu gangguan besar pada sistem persinyalan dan perjalanan kereta lainnya.

Akibatnya, KRL PLB 5568A jurusan Jakarta-Cikarang terpaksa berhenti mendadak di Stasiun Bekasi Timur. Nahasnya, dari arah belakang, KA Argo Bromo Anggrek melaju dengan kecepatan tinggi dan tidak sempat mengerem. Tabrakan keras pun tak terhindarkan.

Pelajaran Penting: Audit dan Perbaikan Perlintasan Harus Segera Dilakukan!

Dengan adanya fakta-fakta mencengangkan ini, publik kini mempertanyakan kesiapan manajemen Taksi Green SM. Pemerintah pun didesak untuk tidak hanya menyalahkan sopir, tetapi juga mengaudit sistem teknis armada taksi listrik tersebut. Apakah kendaraan benar-benar laik jalan? Apakah rem dan sistem kelistrikannya berfungsi optimal?

Tanpa audit menyeluruh, kasus serupa bisa terulang lagi di masa depan. Oleh karena itu, semua pihak berharap Kementerian Perhubungan segera bergerak cepat. Perlintasan sebidang juga wajib dipasangi alarm otomatis dan palang pintu yang tidak bisa ditembus dengan mudah.

Keselamatan jiwa tidak bisa ditawar lagi. Pemerintah harus belajar dari tragedi Bekasi Timur ini. Jangan sampai nyawa penumpang KRL dan kereta jarak jauh terus menjadi korban akibat kelalaian segelintir orang dan infrastruktur yang tidak memadai.

Dapatkan juga berita teknologi terbaru hanya di newtechclub.com