Berita  

Alasan Gattuso Pilih Markas Atalanta Dibanding San Siro demi Laga Krusial Playoff

Exposenews.id – Seluruh rakyat Italia kini tengah memusatkan perhatian ke kota Bergamo. Di sanalah nasib mereka menuju Piala Dunia 2026 akan ditentukan dalam laga hidup mati babak playoff. Pelatih timnas Italia, Gennaro Gattuso, dengan penuh keyakinan akhirnya buka suara terkait satu keputusan kontroversial: kenapa ia tegas menolak bermain di stadion ikonik San Siro.

Di sela persiapan final, Gattuso dengan nada penuh hormat menyampaikan apresiasi yang sebesar-besarnya kepada Presiden FIGC, Gabriele Gravina, serta Kepala Delegasi sekaligus legenda hidup, Gianluigi Buffon. Kedua tokoh krusial tersebut memberikan kepercayaan penuh kepada Gattuso untuk menentukan sendiri lokasi pertandingan playoff semifinal Piala Dunia melawan Irlandia Utara. Rasa terima kasih itu langsung mengalir deras dari mulut pria berkarakter keras itu, karena ia sadar betul bahwa kepercayaan semacam ini tidak mudah didapatkan.

Lalu, kemana Italia akan berlaga? Gattuso dengan mantap memutuskan untuk menjamu Irlandia Utara di kota Bergamo. Pertandingan super penting yang akan berlangsung pada Kamis (26/3/2026) atau Jumat dini hari waktu Indonesia itu dipastikan digelar di Stadion Atleti Azzurri d’Italia, atau yang kini akrab disebut sebagai New Balance Arena, kandang dari klub sekaligus kejutan Eropa, Atalanta.

Stadion dengan kapasitas sekitar 25.000 penonton ini ternyata menyimpan memori manis bagi Gattuso. Sebab, di sinilah awal mula petualangannya sebagai pelatih timnas Italia dimulai, tepatnya saat ia pertama kali memimpin Gli Azzurri menghadapi Estonia pada bulan September lalu. Memori itu membuatnya semakin yakin dengan pilihannya.

Alasan Kuat Gattuso Tolak Kemegahan San Siro

Mengapa pelatih sekaliber Gattuso sampai menolak stadion megah berkapasitas 80.000 penonton seperti San Siro? Jawabannya cukup mengejutkan. Dalam konferensi pers jelang laga melawan Irlandia Utara, Gattuso dengan santai namun penuh tekanan mengungkapkan bahwa dialah yang punya hak veto penuh atas pemilihan stadion ini.

“Saya yang memilih stadion ini. Saya ingin mengucapkan terima kasih kepada Presiden dan Buffon karena mempercayakan keputusan penting ini kepada saya,” ujar Gattuso dengan nada mantap. Ia kemudian memberikan alasan logis yang langsung membuat publik berpikir ulang tentang romantisme San Siro.

Menurut Gattuso, meski San Siro mampu menampung hingga 60.000 hingga 80.000 penonton, justru hal itulah yang menjadi bumerang. Ia khawatir jika timnya melakukan sedikit saja kesalahan umpan, gemuruh ejekan dari penggemar Inter dan Milan yang memenuhi tribun akan langsung menghancurkan mental para pemain. Tekanan ekstra dari suporter klub yang terpecah itu justru bisa menjadi bumerang bagi timnas.

“Saya berpendapat bahwa bermain di stadion besar seperti San Siro yang mampu menampung 60.000 penonton bisa jadi kurang ideal karena penggemar Inter dan Milan bisa saja mulai mengejek setelah beberapa kesalahan umpan,” tegasnya dengan lugas.

Sebaliknya, Gattuso percaya bahwa stadion yang lebih kecil seperti markas Atalanta akan menciptakan suasana yang lebih kondusif dan mendukung. Atmosfer yang lebih padat dan intim akan membuat suara dukungan lebih terdengar menggema tanpa celah bagi tekanan negatif dari oknum suporter klub rival. Ia pun langsung meyakinkan semua pihak bahwa keputusan ini sudah melalui pertimbangan matang.

Gattuso Andalkan Tuah Markas Atalanta untuk ke Piala Dunia

Gattuso tentu paham betul atmosfer panas San Siro. Ia pernah membela panji AC Milan dalam kurun waktu yang panjang, dari 1999 hingga 2012. Pengalaman masa lalunya itu justru membuatnya semakin yakin untuk menjauh dari stadion kebanggaan kota mode tersebut demi kesuksesan timnas.

Ia kini memilih untuk percaya pada tuah markas Atalanta. Baginya, atmosfer yang tercipta di New Balance Arena akan menjadi senjata rahasia untuk membantu Italia menembus Piala Dunia 2026. Bukan tanpa alasan, sebab ia sudah merasakan sendiri bagaimana dukungan penuh dari suporter di sana saat laga debutnya.

“Suasana seperti itu sudah tercipta saat pertandingan pertama saya sebagai pelatih Italia, meskipun babak pertama berakhir dengan skor 0-0,” kenang Gattuso sambil tersenyum, mengingat bagaimana fans tetap setia memberikan dukungan penuh meski skor masih imbang.

Ia pun berharap atmosfer yang sama, bahkan lebih membara, bisa terulang lagi. “Kami berharap dapat menciptakan atmosfer yang benar-benar membara dan kami yakin tidak melakukan kesalahan dalam memilih tempat ini,” tambahnya dengan penuh keyakinan, seolah ingin menghilangkan semua keraguan yang sempat muncul di benak publik.

Saat ini, Gattuso tak ingin lagi membicarakan masa lalu atau kontroversi pemilihan stadion. Fokusnya hanya tertuju pada satu pertandingan yang akan menentukan nasib Italia. “Pertandingan pada hari Kamis adalah satu-satunya fokus kami sekarang. Semua hal lain adalah masa lalu, dan saya yakin kami memiliki peluang besar,” ucap pria yang akrab disapa Rino itu dengan nada optimisme tinggi.

Dengan segala perhitungan matang yang telah dilakukan, Gattuso berharap keputusannya ini tidak berbuah sia-sia. Kini, seluruh ekspektasi dan harapan 60 juta penduduk Italia tertumpu pada stadion berkapasitas 25.000 penonton di Bergamo, menunggu apakah tuah Atalanta benar-benar akan membawa mereka terbang menuju pesta sepak bola terbesar dunia di tahun 2026.

Dapatkan juga berita teknologi terbaru hanya di newtechclub.com