JAKARTA, Exposenews.id – Bayangkan, Anda bisa mengintip langsung isi dapur program Makan Bergizi Gratis (MBG) dan tahu persis berapa uang yang dihabiskan untuk sepiring makanan anak-anak. Inilah gebrakan terbaru dari Wakil Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Sony Sonjaya. Dengan tegas, ia mewajibkan setiap Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) atau dapur MBG untuk buka suara di media sosial. Bukan sekadar pamer menu, mereka harus blak-blakan soal harga bahan baku.

Kemudian, dalam Bimbingan Teknis Penjamah Makanan Program MBG di Tangerang, Sabtu (7/3/2026), Sony Sonjaya memaparkan konsep transparansi radikal ini. Acara yang diikuti 400 peserta dari perwakilan SPPG, relawan, dan mitra yayasan itu pun sontak menjadi perbincangan. Sony menjelaskan, media sosial bukan lagi sekadar papan pengumuman, melainkan jendela bagi publik untuk mengawasi langsung kinerja mereka.
Rincian Harga Sampai ke Biji Pisang
Lebih lanjut, Sony menegaskan, setiap SPPG wajib mengumumkan hari ini menunya apa, kandungan gizinya, dan yang terpenting, harganya berapa. Ia memberi contoh konkret, misalkan hari ini menunya nasi, ayam teriyaki, sayur steam wortel dan buncis, plus pisang sebagai buah. Nah, rincian harga setiap komponen itu harus dipajang, termasuk harga satu buah pisang.
Karena itu, Sony dengan lantang mempersilakan masyarakat untuk menjadi supervisor dadakan. Ia meminta publik untuk jeli mencocokkan wujud makanan di piring dengan harga yang diumbar di media sosial. Jangan sampai ada perbedaan. Kalau harga pisangnya disebut Rp1.500 per biji, ya kualitas pisangnya harus sesuai dengan harga segitu, ujarnya dengan nada serius.
Selain itu, Sony memberikan ruang bagi masyarakat untuk bertindak. Jika menemukan ketidaksesuaian atau keanehan, warga tidak perlu ragu. Silakan langsung protes dan tanyakan melalui kolom komentar di media sosial SPPG tersebut, imbuhnya, memberikan senjata baru bagi publik untuk memastikan program berjalan jujur dan benar.
Standar Higiene Tak Bisa Ditawar
Di sisi lain, persoalan kualitas makanan tidak berhenti di daftar belanja. Deputi Bidang Penyaluran dan Penyediaan BGN, Suardi Samiran, menambahkan lapisan pengawasan yang lebih dalam. Ia menjelaskan bahwa makanan bergizi tidak hanya soal bahan mentah yang mahal, melainkan bagaimana bahan itu diperlakukan dari dapur hingga ke tangan siswa.
Bukan hanya itu, Suardi memaparkan bahwa standar keamanan pangan harus menjadi napas dalam setiap tahapan operasional dapur SPPG. Mulai dari cara pengolahan yang benar, suhu penyimpanan yang tepat, hingga penyajian yang higienis, semuanya berada di bawah sorotan. Pemerintah, menurutnya, berkomitmen untuk memastikan setiap petugas di dapur MBG memiliki pengetahuan dan keterampilan mumpuni.
Oleh sebab itu, percepatan penerbitan Sertifikat Laik Higiene Sanitasi (SLHS) menjadi prioritas utama yang tidak bisa ditawar. Suardi menekankan, SLHS adalah bentuk komitmen dan tanggung jawab SPPG dalam menyediakan makanan bergizi yang aman, higienis, dan memenuhi standar sanitasi. Sertifikat ini menjadi bukti otentik bahwa sebuah dapur layak memproduksi makanan bagi ribuan anak.
Masyarakat Jadi Pengawas Paling Galak
Dengan adanya kebijakan ini, BGN seolah membangun pagar beton dari partisipasi publik. Transparansi harga dan proses ini diharapkan mampu meminimalisir potensi penyelewengan. Media sosial, yang selama ini sering menjadi tempat keluhan, kini disulap menjadi alat kontrol sosial yang konstruktif.
Sementara itu, para pengamat kebijakan publik menyambut positif langkah ini. Mereka menilai, keterbukaan informasi adalah kunci utama dalam program pemerintah yang menyentuh hajat hidup orang banyak. Dengan mengetahui harga bahan baku, masyarakat bisa ikut menghitung kewajaran porsi dan kualitas makanan yang diterima anak-anak.
Sebagai contoh, jika sebuah SPPG mengumumkan harga daging ayam yang lebih tinggi dari harga pasar, masyarakat bisa mempertanyakan dan menelusuri alasannya. Hal ini menciptakan mekanisme check and balance alami yang lebih efektif daripada pengawasan internal semata.
Langkah BGN ini adalah lompatan besar dalam tata kelola program publik. Mereka tidak hanya berbicara tentang gizi, tetapi juga tentang kepercayaan. Dengan memaksa SPPG untuk membuka buku keuangannya di media sosial, BGN mengajak seluruh rakyat Indonesia untuk bersama-sama menjaga kualitas MBG. Apakah Anda siap menjadi pengawas MBG di daerah Anda?
Dapatkan juga berita teknologi terbaru hanya di newtechclub.com













