Berita  

Aceh Timur Hampir Kolaps, Bupati Menangis Minta Bantuan Langsung dari Presiden

Exposenews.id – Yang terjadi di Kabupaten Aceh Timur benar-benar di luar kendali! Pasalnya, daerah ini nyaris kolaps setelah dihantam banjir besar dan tanah longsor yang langsung melumpuhkan seluruh aspek kehidupan masyarakat. Akibatnya, semua pelayanan publik pun berhenti total! Kemudian, listrik padam tanpa ampun, jaringan komunikasi mati menggenaskan, dan akses transportasi terputus sama sekali sehingga distribusi logistik pun akhirnya gagal dilakukan.

Kondisi mengerikan ini pada akhirnya membuat Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Aceh Timur benar-benar tak berdaya untuk menjalankan fungsi koordinasi penanganan darurat. Namun yang lebih mencengangkan, situasi mengerikan tersebut baru bisa terkonfirmasi pada Sabtu (29/11/2025), setelah Pemkab dengan sigap menyewa perangkat Starlink demi memulihkan komunikasi.

Kepala Daerah Berlinang Air Mata di Hadapan Presiden

Dengan penuh keprihatinan, Bupati Aceh Timur, Iskandar Usman Al-Farlaky, menggambarkan keadaan wilayahnya sebagai “nyaris kolaps”. Bahkan, ia mengaku situasi ini tidak pernah separah ini sejak ia memimpin. Selanjutnya, dalam sebuah video rapat darurat bersama Forkopimkab, suasana mencekam benar-benar terlihat jelas. Kita bisa melihat, Al-Farlaky beberapa kali harus mengusap air mata saat ia memohon bantuan langsung kepada Presiden RI, Prabowo Subianto.

Dengan suara yang bergetar penuh keyakinan, ia mengajak semua pihak, “Kita harus terus bergerak meski dengan segala keterbatasan yang ada. Kita harus bergerak,” katanya. Kemudian, Al-Farlaky kembali menegaskan bahwa kondisi Aceh Timur kini benar-benar lumpuh total. Menurut penuturannya, seluruh 24 kecamatan di daerah tersebut terkena dampak banjir, dan sebagian besar bahkan mengalami kerusakan yang sangat ekstrem.

Tiga Desa Hilang dan Kenangan Pahit Tsunami 2004

Yang paling mengkhawatirkan, Bupati kemudian menjelaskan bahwa Kecamatan Simpang Jernih dan Serbajadi menjadi wilayah yang mengalami kerusakan paling parah. Di sana, banjir bandang dengan kekuatan dahsyat telah menghantam permukiman warga dan infrastruktur publik. Sebagai contoh, “Di Kecamatan Serbajadi kita mendapat kabar ada tiga desa yang hilang dihantam banjir bandang,” ungkapnya dengan wajah sedih.

Sayangnya, informasi mengerikan ini belum dapat mereka pastikan keakuratannya karena akses transportasi dan komunikasi masih terputus di mana-mana. Belum lagi, sejumlah ruas jalan utama juga ikut tertimbun material longsor. Al-Farlaky pun dengan gamblang menyebut kondisi ini langsung mengingatkannya pada bencana tsunami Aceh 2004, yang juga sempat ia alami sendiri sebagai seorang penyintas.

“Keadaannya persis seperti bencana tsunami dulu,” katanya dengan suara lirih. “Jalan-jalan di sini rusak parah, aspal terkelupas di mana-mana, dan arus air begitu kencang serta berputar-putar sehingga sangat membahayakan keselamatan siapapun,” tambahnya, menggambarkan kepanikan yang terjadi.

Logistik Menipis dan Ancaman Kelaparan

Sementara itu, akses jalan nasional penghubung Banda Aceh–Medan sama sekali tidak bisa ditembus dari kedua arah. Situasi ini secara otomatis membuat semua bantuan dari luar daerah akhirnya tidak dapat masuk hingga saat ini. Di sisi lain, stok logistik warga yang terjebak semakin menipis dari hari ke hari. Al-Farlaky pun terpaksa mengaku harus menggunakan uang pribadinya sendiri untuk sekadar membantu masyarakat yang masih terjebak di titik-titik banjir.

“Faktanya, bantuan belum ada satu pun yang sampai, baik dari pusat maupun provinsi, karena akses jalan tidak bisa ditembus,” jelasnya dengan nada frustasi. Oleh karena itu, Bupati saat ini hanya bisa berharap pada bantuan logistik yang rencananya akan diangkut menggunakan kapal perang dari Pelabuhan Belawan agar bisa segera tiba.

Dia pun memberikan peringatan serius, “Apabila sampai dua hari ke depan belum ada bantuan yang masuk ke Aceh Timur, kami yakin akan ada masyarakat yang meninggal dunia karena kelaparan,” ujarnya dengan tegas.

Rumah Sakit Lumpuh dan Permohonan Bantuan Terakhir

Tidak berhenti di situ, kondisi fasilitas kesehatan di daerahnya juga dilaporkan luluh lantak. Rumah sakit setempat sama sekali tidak bisa berfungsi, alat-alat medis penting banyak yang rusak, dan tenaga kesehatan pun kesulitan bergerak karena akses yang terputus total.

“Karena itu, saya tegaskan, jangan sekali-kali menganggap bencana di Aceh Timur ini sepele!” tegasnya lagi. Lalu, ketika ditanya soal jumlah korban jiwa, Al-Farlaky dengan berat hati memperkirakan angkanya bisa mencapai puluhan orang. Namun, informasi tragis ini belum bisa mereka pastikan secara resmi karena minimnya koneksi komunikasi dan laporan resmi dari lapangan.

“Sebenarnya, saya baru bisa berkomunikasi sejak Sabtu lalu setelah kita berhasil memasang Starlink. Kita terpaksa menyewa dengan biaya 10 juta rupiah hanya untuk 10 hari pemakaian,” tuturnya membuka kondisi darurat yang mereka hadapi. Untuk itu, sekali lagi ia memohon dengan sangat kepada Bapak Presiden agar segera mengirimkan bantuan logistik, alat berat, dan personel tambahan.

“Kami mohon dengan sangat, bantu kami. Saat ini, kami hanya bisa berjuang sendirian, hanya dibantu oleh kesatuan TNI dan Polri setempat,” kata Al-Farlaky dengan nada memelas, menutup permohonannya.

Dapatkan juga berita teknologi terbaru hanya di newtechclub.com