Exposenews.id, Sulut – Banggar Minta Pemprov Sulut Plot Anggaran Dukung Distanak Berantas Virus BabiPeternak Babi di Sulawesi Utara beberapa waktu terakhir mengalami kerugian akibat virus Flu Babi Afrika (African Swine Fever).
Kerugian makin meradang akibat penurunan angka beli dari konsumen di Sulut, akhirnya harga jual pun dibanting anjlok.
Dinas pertanian dan peternakan (Distanak) Sulut telah melakukan upaya pembasmian dan pencegahan penyebarannya.
Namun sayangnya upaya Distanak punya keterbatasan karena minimnya anggaran.
Dua Srikandi Golkar DPRD Sulut Cindy Wurangian dan Inggried Sondakh minta agar Pemerintah Provinsi (Pemprov) mengalokasikan anggaran untuk Distanak di tahun anggaran 2024.
Ini disampaikan Cindy Wurangian dan Inggried Sondakh dalam agenda Badan anggaran (Banggar) DPRD Sulut saat melakukan pembahasan Kebijakan Umum Anggaran (KUA) dan Prioritas Platform Anggaran Sementara (PPAS) untuk Rancangan Anggaran Pendapatan Belanja (RAPBD) Sulut untuk tahun anggaran 2024 belum lama ini.
Anggota Banggar Cindy Wurangian mengapresiasi langkah sigap yang dilakukan oleh Kepala Distanak Sulut untuk pencegahan dan pembasmian virus tersebut, tapi tidak akan efektif jika tidak ditopang dengan anggaran.
“Untuk tahun anggaran 2024, biar Distanak dapat optimal dan fokus pembasmian virus ini, diplot anggaran ke dinas tersebut,”lugas Politisi dari Daerah Pemilihan Minut – Bitung ini.
Tegasnya, untuk basmi virus ASF ini perlu kerjasama dari semua komponen masyarakat.
Penegasan lain juga disampaikan anggota Banggar Inggried Sondakh.
“Kami di Komisi II telah mengadakan Rapat Dengar Pendapat (RDP,Red) yang dihadiri Sekpro,Kadistanak Sulut,Bupati Bolmut,Wakil Bupati Bolsel, Balai Karantina, Direskrimsus Polda Sulut, Kapolres Bolsel, Kapolres Bolmut, dan perwakilan asosiasi peternak babi,”jelas Inggried Sondakh yang juga Wakil Ketua Komisi II.
Hasil RDP saat itu kata Inggried adalah Perlindungan bagi peternak babi di Sulut oleh Pemerintah, kemudian, Penutupan jalur lallintas Babi dari luar daerah ke sulut baik darat maupun udara dan laut.
“Diharapkan aparat kepolisian bisa berkoordinasi dengan Pemprov Sulut. Disarankan kepada Dinas untuk pengobatan bagi ternak di Sulut, monitoring secara berkala untuk seluruh babi yang ada di Sulut. Kalau ada kasus, antidipasi potensi penularan kemudian Sosisalisais dan edukasi tentang penyakit ASF bagi masyarakay terutama peternak babi”ujarnya.
Lugas Inggried, sepakat perlu diplot anggaran ke Distanak basmi Virus ASF ini agar peternak tidak makin merugi.
Dibeberapa waktu sebelumnya, anggota DPRD Sulut Jems Tuuk pernah meminta agar Pemprov Sulut sediakan anggaran untuk Polda guna pencegahan masuknya Virus ASF ke Sulut.
“Minimalisir penyebaran virus tersebut adalah dengan melakukan pencegahan di pintu masuk lewat darat yaitu kabupaten Bolmut dan Bolsel, untuk efektif perlu dukungan personil kepolisian,”ucap Politisi PDIP ini.
Menurut Tuuk anggaran pengamanan pun wajib disediakan.
“Karena personil kepolisian akan menjaga dua pintu masuk itu 1 X 24 jam selama sedikitnya tiga bulan,”ucap Tuuk.
Sementara itu, Gubernur Sulawesi Utara Olly Dondokambey menyebutkan virus Flu Babi telah masuk ke wilayah itu.
“Pemerintah daerah sudah sejak awal melakukan penetrasi, dan penanganan sudah dilakukan, itu pun sudah sejak awal isunya masuk ke Sulut,” kata Gubernur Olly usai pelantikan pejabat eselon di Manado, Rabu. (26/07/2023) lalu.
Dampak sosial yang dirasakan setelah virus ini masuk sudah cukup tinggi, peternak yang rata-rata adalah masyarakat sangat terpukul, dan bukan pengusaha besar.
“Saya juga peternak, namun karena rajin menjaga kebersihan kandang, dampaknya sampai saat ini belum kena,” ujarnya.
Plt Kepala Distanak Sulut Nova Pangemanan mengungkapkan, upaya yang sedang lakukan saat ini adalah dengan melakukan sosialisasi kepada masyarakat.
“ASF bukan zoonosis, penyakit yang bisa berjangkit dari hewan ke manusia. Bahkan, daging babi yang positif ASF pun tetap bisa dikonsumsi,”jelas Nova.
Kata Nova, saat ini mereka juga sedang mensosialisasi ajakan makan babi bagi kepada konsumen.
“Ahakan marijo makan daging babi karena penyakit virus pada ternak ini tidak zoonosis atau menjangkit ke manusia,”tukasnya.
Selain itu, jika ada peternak yang melaporkan ternak telah terjangkit akan segera disikapi.
“Petugas akan melakukan penyemprotan disinfektan ini dilakukan sebagai bentuk upaya dalam pengendalian dan pencegahan penyebaran virusnya,”tandas Nova Pangemanan.(Obe)













