PARIS, Exposenews.id — Suasana mencekam mendadak menyelimuti Kota Limoges di Perancis ketika menara jam balai kota yang telah berdiri anggun selama 143 tahun mendadak runtuh dan hancur berkeping-keping akibat kobaran api dalam demonstrasi brutal yang berujung kerusuhan hebat pada Sabtu (17/10/2026).

Selanjutnya, panggung media sosial langsung geger setelah bermunculan berbagai rekaman video yang memperlihatkan detik-detik para pengunjuk rasa bersorak riang gembira tepat saat menara jam Hotel de Ville Limoges tersebut roboh rata dengan tanah.
Lebih lanjut, gelombang amuk massa ini ternyata tidak cuma melanda Kota Limoges, melainkan juga membakar dan melumpuhkan berbagai kota besar lain seperti Paris, Lyon, Marseille, Lille, Saint-Etienne, hingga Nice.
Oleh karena itu, Perdana Menteri Perancis Sebastien Lecornu mengonfirmasi bahwa pihak kepolisian telah meringkus sekitar 1.200 perusuh dalam aksi Sabtu tersebut, sementara sedikitnya 150 personel aparat mengalami luka-luka akibat bentrokan sengit.
Malahan, Lecornu menegaskan kepada media The Telegraph bahwa situasi lapangan benar-benar mencekam, sehingga ia menganggap fakta tidak adanya korban jiwa tambahan sebagai sebuah keajaiban yang sangat luar biasa.
Di samping itu, beliau menuturkan pesan menohok bahwa seluruh warga Perancis sekarang harus segera menentukan posisi mereka, yakni mendukung masa depan Republik atau justru membela aksi para perusuh anarkis.
Lautan Manusia Menguasai dan Melumpuhkan Jalanan
Sementara itu, laporan eksklusif dari The Telegraph membeberkan fakta mengejutkan bahwa sebanyak 550.000 orang nekat turun ke jalanan, gabungan dari gerakan rompi kuning, serikat buruh, hingga aliansi mahasiswa, di mana 110.000 demonstran di antaranya memadati pusat kota Paris.
Kemudian, di sudut-sudut ibu kota Paris, para demonstran terus menggemakan teriakan lantang yang menyuarakan kebencian mendalam kepada aparat kepolisian serta mendesak Presiden Emmanuel Macron untuk segera mundur dari jabatannya.
Akibatnya, pemandangan maut menghiasi kota dengan mobil-mobil yang membara dan deretan toko dijarah warga, sampai akhirnya polisi terpaksa mengayunkan pentungan serta menembakkan gas air mata guna memecah lautan massa.
Tak hanya itu, amukan massa di Kota Lyon membakar habis kantor pusat pelayanan informasi pariwisata, sedangkan insiden mengerikan terjadi di Saint-Etienne sewaktu seorang pengunjuk rasa harus kehilangan lengannya akibat ledakan granat kejut polisi.
Di sisi lain, para perusuh di Marseille merusak markas polisi setempat, membobol berbagai pertokoan, bahkan sebagian demonstran nekat menerobos masuk hingga ke area lobi gedung balai kota.
Selain itu, kerusuhan mengerikan meluas ke Lille sewaktu massa mendobrak masuk gedung balai kota, sementara di Nice seorang pria menderita luka amat parah akibat mencoba membongkar kaca etalase toko.
Lebih dari itu, kawasan alun-alun utama Lyon berubah menjadi medan perang membara ketika sekelompok pemuda melemparkan berbagai benda tumpul dan kembang api mortir langsung ke arah barisan benteng polisi.
Oleh sebab itu, aparat kepolisian langsung membalas serangan bertubi-tubi tersebut menggunakan guyuran gas air mata, ledakan granat pembubar massa, hingga semprotan air bertekanan tinggi dari armada meriam air.
Berawal dari Amarah Pelajar Sekolah yang Meledak
Sebenarnya, badai kerusuhan nasional yang amat dahsyat ini berawal dari gerakan aksi unjuk rasa ratusan pelajar yang sudah berlangsung gigih selama tiga pekan berturut-turut.
Pada mulanya, para siswa mengobarkan protes keras atas krisis kekurangan tenaga pengajar serta memburuknya fasilitas sekolah menengah di pinggiran Paris, hingga aksi tersebut berujung pada pembakaran sejumlah bangunan sekolah.
Kemudian, seruan berantai di media sosial dengan cepat membakar semangat publik di pelbagai penjuru daerah untuk mengobarkan kembali gerakan “rompi kuning” yang sempat mengguncang negara pada 2018 demi menentang lonjakan biaya hidup.
Alhasil, pergerakan ini terus membesar bak bola salju sewaktu berbagai serikat pekerja—mulai dari perawat, guru, petani, sopir taksi, hingga aktivis lingkungan—ikut melebur dan turun menguasai jalanan.
Maka dari itu, Ryad Rani selaku perwakilan gerakan pelajar menegaskan bahwa gelombang massa yang sangat masif ini berhasil menempatkan jajaran pemerintah dalam posisi ketakutan yang luar biasa.
Bahkan, Rani secara terbuka menyampaikan kepada media di Paris bahwa jajaran pejabat pemerintah memang pantas gemetar ketakutan karena rakyat Perancis tidak akan pernah berhenti berjuang jika amarah mereka sudah membakar dada.
Mengingat situasi kian tidak terkendali, Presiden Emmanuel Macron melontarkan kecaman keras atas tindakan anarkis ini dan berjanji akan menyeret para pelaku pengerusakan fasilitas umum serta penjarah bisnis ke ranah hukum.
Melalui unggahan resminya di media sosial X, Macron menegaskan bahwa siapapun yang nekat melakukan vandalisme, merusak gedung pemerintahan, menjarah bisnis warga, maupun menyerang balai kota pasti akan menghadapi tuntutan hukum yang sangat berat.
Di waktu yang sama, Perdana Menteri Lecornu menyerukan ketegangan serupa dengan menyatakan bahwa negara Perancis tidak akan pernah bisa ditundukkan oleh ancaman atau intimidasi dari pihak mana pun.
Lebih lanjut, Lecornu menuliskan peringatan menohok di platform X bahwa pemerintah tidak akan membiarkan kelompok mana pun menjadikan kerusuhan ini sebagai ajang latihan politik menjelang pemilu presiden.
Saling Hantam Mencekam Antara Polisi dan Massa
Sementara itu di pusat Kota Paris, jajaran kepolisian mengerahkan ribuan personel pasukan antihuru-hara untuk mengurung dan mengamankan kawasan Place de la Republique serta lorong-lorong jalan di sekitarnya.
Oleh karena itu, aparat terpaksa menghujani gas air mata dan semprotan meriam air untuk memukul mundur rombongan perusuh bertopeng yang terus menembakkan kembang api serta melempar benda berbahaya ke arah petugas.
Lagipula, potret-potret mencekam dari lokasi kejadian memperlihatkan kobaran api membakar mobil warga, sementara grafiti-grafiti perlawanan tampak mengotori monumen bersejarah patung Marianne di tengah alun-alun.
Akan tetapi, tindakan tegas kepolisian selama beberapa pekan terakhir ini memicu gelombang kritik pedas dari berbagai lembaga hak asasi manusia yang menganggap aparat memakai kekerasan yang sangat berlebihan.
Padahal, Kapolda Nunez baru saja mencabut larangan penggunaan granat kejut pada hari Jumat, padahal senjata eksplosif tersebut sempat dilarang akibat membuat remaja 15 tahun kehilangan tangannya.
Tak ayal lagi, tragedi tragis yang menimpa remaja tersebut langsung memantik kemarahan luar biasa dari masyarakat luas yang mengecam keras tindakan brutal aparat terhadap anak di bawah umur.
Ditambah lagi, dalam kejadian terpisah yang tak kalah mengerikan, seorang remaja berusia 14 tahun harus kehilangan beberapa giginya akibat terkena tembakan granat gas air mata polisi tepat di bagian wajah dari jarak dekat.
Meskipun demikian, Nunez tetap bersikeras mengizinkan kembali penggunaan senjata berbahaya itu menjelang aksi Sabtu, sebab ia menilai polisi wajib memegang kendali penuh atas semua alat perantara saat menghadapi bentrokan berat.
Mesti diingat bahwa Perancis sampai saat ini mencatatkan diri sebagai satu-satunya negara anggota Uni Eropa yang melegalkan penggunaan amunisi berdaya ledak tinggi dalam penanganan aksi massa oleh aparat penegak hukum.
Dapatkan juga berita teknologi terbaru hanya di newtechclub.com




