PALEMBANG, Exposenews.id – Suasana aksi demonstrasi penanganan karhutla di depan gerbang Markas Polda Sumatera Selatan mendadak berubah menjadi ajang kerusuhan brutal antara massa mahasiswa dan kelompok organisasi kemasyarakatan. Di tengah kekacauan massa yang semakin memanas dan meluas di lapangan tersebut, tim penyidik dari Polda Sumsel bergerak sangat cepat untuk menyergap serta menangkap seorang pria yang mendadak muncul sebagai terduga provokator utama bentrokan fisik tersebut.

Sosok terduga provokator kerusuhan tersebut belakangan ini teridentifikasi berinisial RK, yakni seorang pria nekat yang kedapatan menyusup di dalam kerumunan massa sambil menyembunyikan senjata tajam dangerous saat eskalasi emosi para peserta aksi sedang memuncak tinggi.
Kendati demikian, hingga detik ini pihak kepolisian masih belum mau merincikan secara jelas mengenai identitas organisasi maupun asal-usul kelompok sosial tempat sosok pria misterius ini bernaung dan bergabung.
Polisi Palembang Usut Tuntas Provokator dan Buru Pelaku Penganiayaan
Menanggapi insiden berdarah yang memilukan ini, Kapolda Sumatera Selatan Irjen Rony Samtana menegaskan bahwa tim penyidik Ditreskrimum saat ini sedang menginterogasi sosok pelaku RK secara ketat guna membongkar motif tersembunyi di balik perbuatannya.
Pasalnya, saat petugas memiting dan mengamankan pelaku di tengah kerumunan, polisi menemukan barang bukti yang sangat membahayakan berupa sebilah pisau tajam beserta senjata tajam berukuran panjang yang dipasangi gagang dari pipa besi. Selanjutnya, Rony membeberkan kronologi mencekam ini secara terbuka sewaktu menggelar konferensi pers darurat di Rumah Sakit Bhayangkara M Hasan Palembang, tepat setelah ia usai menjenguk langsung para korban bentrokan pada Selasa malam.
Selain itu, Rony berjanji bahwa jajarannya bakal menggelar evaluasi total demi membongkar seluruh fakta di balik peristiwa mengerikan ini secara terang benderang, sekaligus mengerahkan tim penyidik untuk memburu para pelaku penganiayaan brutal yang tega menyebabkan dua jurnalis menderita luka-luka fisik.
Lantas, insiden aksi kekerasan brutal ini memicu rasa keprihatinan yang sangat mendalam bagi Rony, sehingga pimpinan kepolisian tertinggi di wilayah Sumsel tersebut langsung menjadikan kasus penyerangan ini sebagai atensi khusus demi menangkap seluruh pelaku penyerangan.
Bahkan, Rony menyampaikan rasa duka dan keprihatinannya secara terbuka kepada seluruh korban, lalu menegaskan bahwa jajaran Polda Sumsel akan terus menggelar investigasi menyeluruh serta melancarkan penyelidikan intensif guna menyeret seluruh dalang kerusuhan agar mereka mempertanggungjawabkan perbuatan brutal tersebut di hadapan hukum.
Provokasi Memicu Bentrokan Dua Kelompok Massa
Apabila mengulas kronologinya dari awal, alur kejadian bermula ketika rombongan pria berpakaian serba hitam bersama kelompok pengemudi ojek online berkumpul membagikan ribuan masker secara gratis tepat di area Pintu 1 Polda Sumsel, menyusul kondisi kualitas udara Kota Palembang yang kian memburuk dan sangat tidak sehat akibat kepungan asap pekat Karhutla.
Namun, tatkala kegiatan aksi sosial pembagian masker tersebut sedang berlangsung lancar, sekelompok mahasiswa yang tergabung dalam aliansi Cipayung Plus mendadak mendatangi lokasi aksi untuk menyuarakan tuntutan tegas terkait penegakan hukum kasus karhutla yang sedang ditangani oleh Polda Sumsel.
Di sisi lain, rombongan massa mahasiswa ini langsung memilih memusatkan barisan unjuk rasa mereka dan berdiri memadati area persis di depan Pintu 3 Mapolda Sumsel.
Oleh karena itu, suasana yang mulanya relatif tenang mendadak berubah menjadi gelombang amarah sewaktu oknum tak bertanggung jawab melemparkan provokasi panas, alhasil dua kelompok massa yang tadinya sudah ditempatkan terpisah di Pintu 1 dan Pintu 3 mendadak tersulut emosi hingga akhirnya berlanjut pada bentrok fisik yang sangat brutal di jalanan.
Daftar Enam Korban Luka: Jurnalis, Mahasiswa, Hingga Polisi
Akibat dari amuk massa yang tidak terhindarkan tersebut, sebanyak enam orang peserta aksi beserta warga di lokasi kejadian dilaporkan menderita luka-luka yang cukup serius pada beberapa bagian tubuh mereka.
Tak main-main, dua di antara korban pengeroyokan tersebut merupakan jurnalis pemberani yang tengah menjalankan tugas jurnalistik meliput situasi di lapangan, yakni Rachmad Kurniawan yang bekerja untuk media Tribun Sumsel serta Mulyadi yang bertugas sebagai jurnalis Palembang TV.
Mengenai kondisi fisiknya, Rachmad menderita luka robek yang mengucurkan darah pada bagian bibir, serta mengalami luka-luka lecet pada kening, kedua tangan, hingga kaki kanannya akibat hantaman benda tumpul saat bentrokan terjadi.
Sementara itu, jurnalis Mulyadi juga bernasib tragis lantaran menderita luka robek yang cukup parah pada area lipatan bibir bagian atas serta bawahnya setelah terkena pukulan keras dari kelompok pengeroyok.
Di samping itu, kebrutalan amuk massa ini juga memakan korban dari kalangan aktivis kampus, di mana tiga orang mahasiswa ambruk dan bersimbah darah di tengah kecamuk bentrokan tersebut.
Ketiga mahasiswa yang menjadi korban pengeroyokan tersebut adalah Haris Julkartiansyah yang mengalami luka lecet di hidung, Abdul Basid Rido yang menderita memar kebiruan di kedua tangannya, serta RM Taufik yang mengalami luka lecet mendalam pada area dagunya.
Tidak berhenti di situ, keganasan bentrokan jalanan ini juga memakan korban dari pihak kepolisian, di mana seorang perwira lapangan bernama Aipda Bayu Saputra yang menjabat sebagai anggota Banit 3 Subdit Intelkam Polda Sumsel turut terhempas dalam kerusuhan tersebut.
Akibat hantaman keras massa di tengah kekacauan, Bayu menderita cedera serius pada area wajah, termasuk memar parah di mata kanan, dahi, hingga pendarahan dan luka di pangkal hidungnya.
Kendati demikian, Kapolda memastikan bahwa keenam korban saat ini sudah mendapatkan penanganan medis secara intensif dari tim dokter, menyusul instruksi langsung dari Kapolri yang memerintahkan jajarannya agar memberikan perawatan kesehatan serta tindakan medis terbaik bagi seluruh korban luka.
Padahal jika merunut kembali momen awal kejadian, aliansi gabungan mahasiswa tersebut sebenarnya mendatangi lokasi aksi secara damai sambil mengendarai sebuah mobil komando utama yang menderu tepat di depan Markas Polda Sumatera Selatan.
Namun pada waktu yang bersamaan, kelompok pria misterius berpakaian serba hitam juga sudah menguasai area sekitar lokasi sambil membagikan masker kepada para pengguna jalan yang melintas.
Alih-alih menyambut aksi dengan tertib dan damai, situasi justru berubah menjadi sangat mencekam sewaktu mobil komando mahasiswa bergerak merangsek mendekati pintu masuk Polda Sumsel, sebab kelompok pria berbaju hitam tersebut mendadak mengadang dan memaksa para mahasiswa turun secara paksa dari atas mobil komando.
Bahkan, kebrutalan kelompok misterius tersebut makin memuncak ketika mereka melampiaskan emosi secara berlebihan hingga nyaris memukuli sopir mobil komando yang sedang mengemudikan kendaraan tersebut di tengah kerumunan massa yang emosional.
Dapatkan juga berita teknologi terbaru hanya di newtechclub.com





