WONOSOBO, Exposenews.id — Nasib nahas menimpa Afif Marzuki (29), warga Dusun Krajan, Desa Tieng, Kecamatan Kejajar, Kabupaten Wonosobo, Jawa Tengah. Bagaimana tidak? Pria muda ini harus rela mengalami luka bakar serius saat berusaha mati-matian memadamkan kobaran api yang melanda permukiman warga, Sabtu (12/9/2026) pagi. Kejadian mengerikan ini pun langsung membuat heboh warga sekitar.
Saat ini, Afif tengah menjalani perawatan intensif di RSUD Setjonegoro Wonosobo. Ia menderita luka bakar setelah nekat berupaya keluar dari rumah sekaligus mencoba memadamkan api yang telah membesar dan menghanguskan belasan rumah. Sungguh perjuangan yang menguras tenaga dan nyawa!
Afif Nekat Padamkan Api, Malah Terjebak dan Alami Luka Bakar 54 Persen
Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Wonosobo Sumekto menjelaskan, kebakaran terjadi sekitar pukul 08.30 WIB. Api awalnya berasal dari satu rumah sebelum kemudian merambat dengan cepat ke bangunan lain. Kondisi ini tentu membuat warga panik dan berusaha menyelamatkan diri masing-masing.
“Beliau waktu masih tidur, kemudian beliau tidak keluar. Dia mencoba untuk mematikan api yang di dalam rumah. Sehingga beliau kena luka bakar sekitar 54 persen,” kata Sumekto di lokasi kejadian. Informasi ini pun semakin membuat kita semua prihatin dengan kondisi Afif.
Menurut Sumekto, kondisi permukiman yang padat membuat api dengan cepat menjalar dari satu bangunan ke bangunan lainnya. Petugas pemadam kebakaran kemudian dikerahkan setelah menerima laporan mengenai kejadian tersebut. Namun, siapa sangka jika proses pemadaman akan menghadapi berbagai rintangan?
BPBD Wonosobo mengerahkan tiga unit mobil pemadam kebakaran serta kendaraan tangki untuk memasok air. Relawan juga turut membantu proses penanganan kebakaran. Kerja sama semua pihak pun terlihat nyata dalam situasi darurat ini.
Pemadaman Terhambat: Kepadatan Wisatawan Dieng dan Akses Sulit Jadi Kendala
Sumekto mengatakan, proses pemadaman berlangsung di tengah sejumlah kendala. Salah satunya adalah kepadatan lalu lintas kendaraan wisatawan yang menuju kawasan Dieng. Hal ini tentu membuat petugas kewalahan mengatur strategi pemadaman.
“Ini hari Sabtu. Hari Sabtu banyak kendaraan, bus wisata yang menuju ke Dieng. Otomatis memperlambat proses kita untuk membantu pemadaman,” ujarnya. Sungguh situasi yang serba sulit, bukan?
Selain kepadatan lalu lintas, akses menuju permukiman yang terbakar juga menjadi kendala bagi petugas. Lokasi bangunan yang cukup jauh dari jalan membuat petugas harus menarik dan menyambung selang dalam jarak yang panjang untuk menjangkau titik api. Bayangkan saja, betapa melelahkannya pekerjaan itu!
Kendati demikian, Sumekto memastikan ketersediaan air tidak menjadi persoalan dalam proses pemadaman. Petugas mendapat dukungan kendaraan tangki untuk memasok kebutuhan air selama penanganan berlangsung. Syukurlah, setidaknya satu masalah bisa teratasi dengan baik.
17 Bangunan Terdampak Kebakaran
Berdasarkan data BPBD Wonosobo, sedikitnya 17 bangunan terdampak kebakaran. Sebelas di antaranya rata dengan tanah, tiga rumah rusak berat, dua gudang rusak berat, dan satu mushala rusak ringan. Data ini pun menjadi bukti nyata betapa dahsyatnya amukan si jago merah.
Kebakaran tersebut juga menyebabkan sejumlah rumah warga rusak dan Afif mengalami luka bakar. Kerugian material maupun non-material pun tidak bisa dihindari.
Sementara itu, penyebab kebakaran di Dusun Krajan masih dalam penyelidikan. BPBD Wonosobo belum dapat memastikan sumber api sebelum pemeriksaan lebih lanjut dilakukan. Masyarakat pun diminta bersabar menunggu hasil investigasi.
“Kami masih selidiki. Nanti ada tim yang menyelidiki. Yang jelas, ini berasal dari satu rumah merambat ke yang lain,” ujar Sumekto. Pernyataan ini menegaskan bahwa proses penyelidikan akan dilakukan secara profesional.
BPBD juga akan melakukan pembersihan lokasi, pendataan kebutuhan warga, serta berkoordinasi dengan instansi terkait untuk penanganan dan bantuan logistik. Langkah-langkah ini tentu sangat penting untuk memulihkan kondisi pasca-kebakaran.
Sumekto mengimbau masyarakat meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi kebakaran, terutama di tengah musim kemarau panjang. Himbauan ini wajib kita dengarkan demi keselamatan bersama.
Ia meminta warga memastikan sumber api benar-benar padam sebelum meninggalkan rumah. Masyarakat juga diminta memeriksa instalasi listrik dan kondisi kabel untuk mencegah kebakaran akibat korsleting. Jangan sampai kelalaian kecil berujung petaka besar!
“Ini musim kering, musim kemarau panjang. Harapan kami, penyebab-penyebab kebakaran itu tolong diwaspadai dan selalu hati-hati. Jangan tinggalkan api manakala pergi. Pastikan api sudah mati,” kata Sumekto. Pesan ini sungguh relevan untuk kita semua.
Salah satu warga terdampak, Sidiq, mengatakan api pertama kali diketahui berasal dari rumah di sebelah tempat tinggalnya. Saat kejadian, Sidiq sedang berada di ladang. Ia kemudian pulang setelah mengetahui adanya kebakaran. Namun, ketika tiba di rumah, api sudah membesar dan merambat akibat tiupan angin yang cukup kencang.
“Saya sempat dari ladang. Saya sampai di tempat sudah tidak bisa menyelamatkan barang-barang. Api sudah membara,” kata Sidiq. Kisah ini pun menjadi pengingat betapa cepatnya api menyebar saat kondisi mendukung.
Rumah Sidiq kini tidak dapat ditempati. Untuk sementara, ia bersama keluarganya tinggal di rumah saudaranya. “Ya paling nanti di tempat saudara,” katanya. Semoga saja kondisi ini segera membaik dan para korban mendapatkan bantuan yang layak.
Kejadian ini pun menjadi pelajaran berharga bagi kita semua. Kewaspadaan dan kesiapsiagaan dalam menghadapi potensi kebakaran harus selalu ditingkatkan. Jangan pernah menganggap remeh bahaya api, karena nyawa dan harta benda bisa menjadi taruhannya. Tetap waspada dan jaga keselamatan selalu!
Dapatkan juga berita teknologi terbaru hanya di newtechclub.com





