BANDAR LAMPUNG, Exposenews.id – Siapa sangka, mengisi bahan bakar yang biasanya cuma butuh hitungan menit, kini bisa menghabiskan waktu berjam-jam. Itulah yang terjadi di SPBU 24.351.30, Kelurahan Labuhan Ratu Raya, Kecamatan Labuhan Ratu, Kota Bandar Lampung, pada Sabtu (12/9/2026). Belasan bahkan puluhan truk terlihat berbaris rapi di dua sisi Jalan Lintas Tengah Sumatera alias Jalinsum sejak pagi. Antrean ini pun langsung menjadi sorotan, terutama bagi para sopir yang mengeluh karena distribusi barang jadi terganggu.
Antrean Panjang di Jalur Utama Sumatera
Pantauan di lokasi sekitar pukul 09.00 WIB hingga 10.00 WIB menunjukkan antrean truk membentang dari sekitar SPBU hingga Jalan Sultan Haji, Kelurahan Tanjung Senang. Kantong parkir SPBU juga dipenuhi kendaraan, sementara tiga jalur pengisian tampak dipadati truk yang menunggu giliran mendapatkan solar. Sejumlah sopir mengaku harus menghabiskan waktu berjam-jam untuk mengisi bahan bakar sebelum melanjutkan perjalanan. Tak pelak, suasana di sekitar SPBU pun terasa panas, bukan hanya karena cuaca, tetapi juga karena kekesalan para pengemudi.
Mengantre sejak pukul 07.00 WIB
Adi (33), sopir truk pengangkut gaplek singkong asal Lambu Kibang, Kabupaten Tulangbawang, mengatakan sudah mengantre sejak sekitar pukul 07.00 WIB. “Sudah dari jam 7 mengantre,” ujar Adi, Sabtu. Saat itu, Adi sedang dalam perjalanan dari Tanjung Bintang, Kabupaten Lampung Selatan, menuju Tulangbawang dengan kondisi truk tanpa muatan. Ia mengatakan, antrean panjang solar tidak hanya terjadi di SPBU Labuhan Ratu. Kondisi serupa juga kerap ditemukannya di sejumlah SPBU lain yang dilalui, termasuk kawasan Tanjung Bintang.
Menurut Adi, antrean panjang tersebut sudah berlangsung cukup lama dan menjadi kendala bagi sopir angkutan barang. Dalam sekali pengisian, Adi biasanya membutuhkan sekitar 80 liter solar hingga tangki kendaraannya penuh. Setelah mendapatkan bahan bakar, ia masih harus melanjutkan perjalanan menuju Tulangbawang dan diperkirakan baru tiba pada malam hari. Bayangkan saja, waktu yang seharusnya bisa dipakai untuk istirahat atau menambah penghasilan, malah habis di antrean.
Bukan Sekadar Menunggu, tapi Kehilangan Waktu
Keluhan serupa disampaikan Santoso (30), sopir truk asal Lampung Tengah yang mengangkut sayuran dari Liwa, Lampung Barat, menuju Pasar Gintung, Bandar Lampung. Santoso mengatakan harus mengantre solar sejak pagi ketika melintas di SPBU. Dalam satu kali perjalanan dari Liwa menuju Bandar Lampung, ia bahkan mengaku bisa mengantre solar sampai dua kali. Menurut Santoso, antrean kendaraan berbahan bakar solar hampir setiap hari ditemuinya saat menjalankan aktivitas pengangkutan barang.
Pernah mengantre sampai empat jam
Waktu tunggu terlama yang pernah dialaminya mencapai sekitar empat jam. “Kalau paling parah pernah sampai empat jam mengantre di SPBU,” ungkap Santoso. Tentu saja, pengalaman itu membuatnya frustrasi. Ia pun berharap ada solusi cepat dari pihak terkait agar antrean tidak terus terjadi.
Antrean panjang tersebut dinilai mengganggu perjalanan sopir angkutan barang. Waktu yang seharusnya digunakan untuk menempuh perjalanan harus terpakai untuk menunggu giliran pengisian bahan bakar. Jalan Lintas Tengah Sumatera merupakan jalur utama yang menghubungkan Lampung dengan sejumlah provinsi lain di Pulau Sumatera. Karena itu, antrean kendaraan di kawasan tersebut juga berpotensi menghambat mobilitas kendaraan angkutan yang melintas. Para sopir berharap ketersediaan solar di SPBU kembali normal agar perjalanan dan distribusi barang tidak terganggu akibat waktu tunggu yang panjang.
Sopir sebut aktivitas angkutan terganggu
Sementara itu, para sopir menilai aktivitas angkutan mereka benar-benar terganggu. Mereka tidak bisa bekerja dengan efisien karena harus mengantre berjam-jam. Alhasil, jadwal pengiriman barang pun mundur. Padahal, barang-barang yang mereka angkut dibutuhkan banyak orang, mulai dari sayuran segar hingga bahan pangan lainnya. Jika kondisi ini terus berlanjut, bukan tidak mungkin harga barang di pasaran ikut naik.
Kejadian ini bukan sekadar cerita tentang antrean panjang. Ini adalah potret nyata bagaimana distribusi barang di jalur utama Sumatera bisa terhambat hanya karena masalah ketersediaan solar. Para sopir truk adalah ujung tombak yang memastikan barang sampai ke tujuan, mulai dari sayuran hingga gaplek singkong. Jika mereka harus menghabiskan waktu berjam-jam di SPBU, maka rantai distribusi pun ikut melambat. Harga barang bisa naik, pasokan bisa tersendat, dan pada akhirnya masyarakat yang merasakan dampaknya.
Pemerintah dan pihak SPBU tentu perlu segera mencari solusi. Apakah ada masalah pasokan? Apakah ada keterlambatan pengiriman solar ke SPBU? Ataukah ada faktor lain yang menyebabkan antrean ini terus terjadi? Para sopir hanya ingin bisa mengisi bahan bakar dengan cepat dan melanjutkan perjalanan. Mereka tidak minta lebih. Mereka hanya ingin bekerja dengan lancar.
Harapan para sopir
Para sopir berharap ketersediaan solar di SPBU kembali normal. Mereka ingin perjalanan dan distribusi barang tidak terganggu akibat waktu tunggu yang panjang. Jika antrean ini terus berlanjut, bukan tidak mungkin para sopir akan semakin frustrasi dan memilih untuk tidak melintas di jalur tersebut. Tentu saja, ini akan berdampak besar pada perekonomian daerah.
Antrean solar hingga 4 jam di Bandar Lampung adalah masalah serius yang perlu perhatian semua pihak. Para sopir truk sudah menyuarakan keluhan mereka. Sekarang, saatnya pihak terkait bertindak. Jangan sampai antrean ini menjadi pemandangan sehari-hari yang dianggap biasa. Karena pada kenyataannya, di balik antrean itu, ada pekerja keras yang mengandalkan solar untuk menghidupi keluarga dan menjaga roda perekonomian tetap berputar.
Dapatkan juga berita teknologi terbaru hanya di newtechclub.com





