BANGKOK, Exposenews.id — Hiruk-pikuk malam Pattaya mendadak pecah oleh ulah dua pelaut Amerika Serikat yang tengah mabuk berat. Kedua awak kapal induk raksasa USS Abraham Lincoln itu akhirnya digelandang polisi dan dikembalikan ke kapal setelah terlibat perkelahian sengit di kawasan wisata terkenal tersebut. Insiden memalukan ini terjadi tepat ketika kapal perang kebanggaan AS sedang berlabuh untuk beristirahat setelah berlayar selama 286 hari yang melelahkan.
Polisi Pattaya Bergerak Cepat Usai Laporan Warga Resah
Kepolisian Pattaya langsung bergerak cepat setelah menerima laporan warga yang resah. Kepala Kepolisian Pattaya, Kolonel Anek Srathongyoo, mengungkapkan bahwa pihaknya mendapat panggilan darurat mengenai perkelahian yang melibatkan dua awak kapal tersebut pada Kamis (3/9/2026) dini hari. Lokasi kejadian berada di dekat Walking Street, jantung kehidupan malam Pattaya yang terkenal di seluruh dunia. Dua pelaut tersebut tampak kehilangan kendali diri akibat pengaruh alkohol yang berlebihan.
“Kedua pelaut itu mabuk dan mereka berkelahi, membuat keributan,” ujar Anek kepada AFP pada Jumat (4/9/2026) dengan nada sedikit kesal. Menurutnya, aksi kedua awak kapal itu sempat menarik perhatian banyak pengunjung yang melintas di kawasan hiburan tersebut. Beberapa saksi mata mengaku melihat kedua pria bertubuh kekar itu saling dorong dan melempar kata-kata kasar sebelum akhirnya terjadi adu fisik yang cukup memalukan.
Anek dengan tegas menyebut insiden tersebut sebagai kejadian sepele yang tidak perlu dibesar-besarkan. Namun, warga sekitar yang khawatir situasi akan memburuk segera menghubungi polisi. Mereka mengambil langkah cepat semata-mata untuk mencegah perkelahian tersebut berkembang menjadi insiden yang lebih serius yang dapat membahayakan pengunjung lain. Tindakan sigap warga Pattaya patut diacungi jempol karena berhasil meredakan situasi sebelum berubah menjadi huru-hara yang lebih besar.
Meskipun membuat keributan di tempat umum, kedua awak kapal yang identitasnya tidak diungkapkan itu lolos dari jeratan hukum. Anek menjelaskan bahwa mereka tidak melanggar hukum Thailand secara signifikan. Polisi hanya membawa mereka ke kantor untuk dimintai keterangan dan memberikan peringatan keras. Setelah proses administratif selesai, Angkatan Laut AS segera mengirim kedua pelaut nakal itu kembali ke USS Abraham Lincoln untuk menjalani sanksi internal dari komandan kapal.
286 Hari di Laut, Mental Awak Kapal Induk AS Dipertanyakan
Kedatangan USS Abraham Lincoln ke Thailand sebenarnya telah menarik perhatian besar dari berbagai pihak. Kapal raksasa ini menjadi sorotan utama setelah munculnya laporan mengkhawatirkan mengenai kondisi kesehatan mental para awak yang memburuk akibat penugasan di laut yang sangat panjang. Bayangkan, 286 hari terombang-ambing di lautan tanpa jeda yang cukup jelas membuat banyak awak mengalami tekanan psikologis yang berat.
Kondisi di dalam kapal pun semakin memperburuk situasi. Fasilitas yang semakin memprihatinkan, seperti kekurangan pasokan makanan bergizi hingga kerusakan saluran air bersih, ikut mempengaruhi kesejahteraan mental sejumlah awak kapal. Beberapa sumber bahkan menyebut bahwa para pelaut terpaksa mengonsumsi makanan kaleng berulang kali karena keterbatasan logistik. Kondisi ini jelas bukan lingkungan yang ideal bagi para prajurit yang menjalankan tugas berat di tengah laut.
Yang lebih mencengangkan lagi, laporan CNN mengungkapkan dugaan adanya awak yang bunuh diri dengan melompat ke laut. Kabar ini tentu saja membuat banyak pihak terkejut dan prihatin. Sejumlah anggota parlemen dari Partai Demokrat pada bulan lalu mendesak penyelidikan menyeluruh terhadap kondisi di dalam kapal tersebut. Mereka menuntut transparansi mengenai apa yang sebenarnya terjadi di dalam USS Abraham Lincoln selama ini.
Namun, Presiden AS Donald Trump dengan cepat menepis kekhawatiran tersebut. Trump bersikukuh bahwa tidak ada masalah serius yang perlu dikhawatirkan. Untuk mengurangi tekanan, AS kemudian mengutus kapal induk USS George Washington untuk menggantikan USS Abraham Lincoln di Timur Tengah. Keputusan ini diharapkan dapat meringankan beban para awak yang telah lama bertugas.
Harapan Bisnis di Pattaya: Ramai di Medsos, Sepi di Dompet
Di sisi lain, kunjungan kapal induk tersebut juga membuat Pattaya mendapat perhatian lebih besar dari dunia internasional. Kota resor yang populer di kalangan wisatawan asing itu memang dikenal dengan kehidupan malamnya yang liar, termasuk industri prostitusi yang sudah berlangsung puluhan tahun. Kehadiran ribuan pelaut AS tentu saja memicu beragam spekulasi dan ekspektasi dari berbagai kalangan.
Menjelang kedatangan USS Abraham Lincoln, aparat Thailand melakukan penertiban terhadap pekerja seks di Pattaya. Operasi ini bertujuan untuk membersihkan kawasan wisata dari praktik ilegal yang dapat merusak citra kota. Namun, pihak berwenang dengan keras membantah bahwa operasi tersebut berkaitan dengan kedatangan para awak kapal AS. Mereka bersikeras bahwa ini adalah rutinitas penegakan hukum biasa yang sudah dijadwalkan sebelumnya.
Anek menegaskan bahwa tidak ada insiden penting lain yang terjadi sejak USS Abraham Lincoln bersandar di Pattaya. Secara umum, kunjungan kali ini berlangsung relatif lancar tanpa gejolak besar. Seorang pekerja pijat di Pattaya bahkan mengungkapkan bahwa situasi selama kunjungan kali ini terasa lebih tenang dibandingkan kunjungan kapal militer sebelumnya. Para pelaut tampaknya lebih terkendali dan tidak membuat ulah yang berarti.
Nattakamol Chartmontri, seorang terapis pijat yang telah bekerja di Pattaya selama beberapa tahun, mengaku bahwa sebagian besar awak kapal yang ditemuinya terlihat masih muda, berperilaku baik, dan patuh terhadap aturan. Mereka hanya datang untuk bersantai dan menikmati liburan singkat tanpa menimbulkan masalah. Sikap sopan para pelaut ini cukup mengejutkan mengingat stigma negatif yang sering melekat pada kunjungan kapal perang.
“Orang-orang di media sosial begitu heboh soal para pelaut itu, tetapi sebenarnya mereka belum memberikan perbedaan yang signifikan bagi bisnis Pattaya,” ujar Nattakamol yang berusia 48 tahun kepada AFP. Menurutnya, kegaduhan di dunia maya tidak sebanding dengan kenyataan di lapangan. Para pelaku usaha di Pattaya sebelumnya berharap kunjungan USS Abraham Lincoln dapat meningkatkan pendapatan mereka secara drastis. Kedatangan kapal pada musim sepi wisatawan semestinya menjadi berkah bagi pengusaha lokal.
Namun hingga kini, dampaknya terhadap aktivitas bisnis setempat disebut belum terlalu terasa. Beberapa pemilik toko mengaku tidak merasakan lonjakan pengunjung yang signifikan. Para pelaut lebih banyak menghabiskan waktu di dalam kapal atau hanya keluar sebentar untuk membeli oleh-oleh. Fenomena ini tentu mengecewakan banyak pedagang yang sudah menyiapkan stok barang lebih banyak.
Insiden perkelahian kedua pelaut mabuk ini menjadi pelajaran berharga bagi Angkatan Laut AS dan juga pihak berwenang Thailand. Ke depan, diperlukan pengawasan yang lebih ketat terhadap perilaku awak kapal saat sedang cuti di darat. Kedisiplinan dan kesadaran akan aturan setempat harus terus ditanamkan agar citra baik militer AS tetap terjaga.
Kisah mabuknya dua pelaut AS di Pattaya ini menjadi pengingat bahwa bahkan para prajurit paling disiplin sekalipun bisa kehilangan kendali. Alkohol dan tekanan pekerjaan kerap menjadi kombinasi berbahaya yang memicu perilaku impulsif. Namun berkat respons cepat aparat setempat dan kerja sama dengan Angkatan Laut AS, insiden ini dapat diselesaikan tanpa menimbulkan kerusakan yang lebih parah.
Kini USS Abraham Lincoln telah kembali melanjutkan tugasnya setelah meninggalkan perairan Thailand. Meskipun heboh di media sosial, kunjungan kapal induk AS ini nyatanya tidak banyak meninggalkan jejak berarti bagi Pattaya. Kegaduhan pun perlahan mereda, dan kehidupan malam di Walking Street kembali berjalan seperti biasa. Tinggal kenangan tentang dua pelaut mabuk yang sempat membuat onar singkat namun cukup mengganggu ketenangan malam Pattaya.
Dapatkan juga berita teknologi terbaru hanya di newtechclub.com





