Arsenal Lalui 14 Laga Tanpa Kekalahan, Tapi Adu Penalti Hancurkan Mimpi Juara

Exposenews.id — Ya, teman-teman, sekali lagi Arsenal harus menggigit jari. Mimpi The Gunners untuk mengangkat trofi Liga Champions 2025-2026 pupus sudah! Mereka harus mengakui kehebatan PSG, tetapi dengan cara yang paling menyakitkan: adu penalti. Lebih tragisnya lagi, sepanjang perjalanan hingga partai puncak, Arsenal sama sekali tidak pernah merasakan kekalahan dalam waktu normal 90 menit. Ironis, bukan?

Perjalanan Arsenal Berakhir dengan Duka

Perjuangan Arsenal di Liga Champions musim 2025-2026 ini benar-benar berakhir dengan cerita pilu. Tim besutan Mikel Arteta itu gagal membawa pulang trofi si kuping besar ke markas mereka di London Utara. Padahal, para pendukung setia The Gunners sudah sangat berharap.

Para penggawa Arsenal harus mengakui keunggulan raksasa Prancis, Paris Saint-Germain, dalam laga yang menegangkan. Namun, perlu kalian ketahui, selama pertandingan berjalan 90 menit, skor akhir sebenarnya imbang kuat. Laga final yang digelar di Puskas Arena, Budapest, Hongaria, pada Sabtu (30/5/2026) itu memang berkesudahan 1-1.

Gol Cepat yang Membangun Asa

Arsenal sempat membuka asa juara mereka terlebih dahulu! Bayangkan, baru berjalan 6 menit, Kai Havertz langsung menciptakan gol kilat. Penyerang asal Jerman itu melepaskan tembakan keras menggunakan kaki kirinya dari sudut sempit yang nyaris tak mungkin. Jaring gawang PSG pun bergetar, dan seluruh pendukung Arsenal di stadion bersorak sorai.

Namun, perlu kalian sadari, keunggulan ini tidak bertahan selamanya. PSG butuh waktu lebih dari satu jam untuk akhirnya menemukan gol balasan. Tim berjuluk Les Rouge et Bleu itu baru bisa menyamakan kedudukan pada menit ke-65 melalui sepakan penalti Ousmane Dembele.

Wasit Daniel Siebert memberikan hadiah penalti tersebut setelah Khvicha Kvaratskhelia dilanggar oleh Cristhian Mosquera di dalam kotak 16 meter. Pelanggaran ini terjadi menyusul sebuah kombinasi operan apik dengan Dembele. Tanpa ragu, Dembele pun maju sebagai eksekutor dan sukses menjalankan tugasnya dengan sempurna.

Skor imbang 1-1 ini kemudian bertahan hingga wasit meniup peluit panjang babak kedua. Karena itulah, pertandingan harus dilanjutkan ke babak tambahan waktu atau extra time.

Catatan Menakjubkan: Tak Terkalahkan di 90 Menit!

Nah, ini dia fakta menarik yang membuat hati semakin perih. Jika kita hanya menghitung hasil selama 90 menit (termasuk babak grup hingga final), Arsenal musim ini benar-benar perkasa! Mereka sama sekali tidak terkalahkan. Sangat impresif, bukan?

Arsenal menutup fase grup dengan sempurna. Mereka memenangkan seluruh delapan pertandingan di League Phase. Hasil gemilang ini membuat pasukan Arteta lolos ke 16 besar sebagai pemuncak klasemen, dan itu prestasi yang luar biasa.

Memasuki fase gugur, performa Arsenal tetap konsisten. Berturut-turut, mereka menyingkirkan Bayer Leverkusen di 16 besar dengan agregat 3-1, lalu mengandaskan Sporting CP di perempat final dengan skor 1-0, dan yang terakhir, mereka mengalahkan Atletico Madrid di semifinal dengan skor 2-1. Luar biasa, kan?

Sepanjang perjalanan menuju final, Arsenal belum tersentuh kekalahan sedikit pun. Dari total 14 pertandingan, The Gunners meraih 11 kemenangan dan 3 hasil imbang. Catatan tanpa kekalahan dalam 90 menit ini berhasil mereka pertahankan hingga laga pamungkas melawan PSG. Namun, sayangnya, itu belum cukup untuk membawa pulang piala.

Kepedihan Mikel Arteta

Mikel Arteta, sang pelatih asal Spanyol, pasti merasakan kepedihan yang luar biasa. Skor imbang 1-1 tetap bertahan hingga dua babak extra time usai. Karena tidak ada pilihan lain, nasib juara Liga Champions musim ini harus ditentukan melalui babak adu penalti yang mencekam.

“Sangat berat ketika kalian tampil begitu konsisten sepanjang kompetisi hingga mencapai final, tetapi pada akhirnya kehilangan trofi hanya karena tendangan penalti. Sungguh situasi yang sulit,” ujar Arteta dengan nada kecewa dalam wawancaranya dengan TNT Sports.

Betapa menyedihkan! Arteta menyaksikan langsung dua eksekutornya gagal menjalankan tugas. Eberechi Eze dan Gabriel Magalhaes tidak mampu menaklukkan kiper PSG. Dari kubu PSG, hanya Nuno Mendes yang gagal mencetak gol dari titik putih.

PSG pun berhasil memenangi adu penalti dengan skor 4-3. Mereka berhak keluar sebagai juara Liga Champions 2025-2026, sementara Arsenal hanya bisa terdiam.

“Ini sangat menyakitkan. Ketika kalian sudah sedekat ini dengan sebuah trofi, dan hanya beberapa tendangan penalti di kompetisi antarklub terbesar di dunia yang memisahkan, maka rasa sakit inilah yang seharusnya kami rasakan,” ungkap Arteta dengan penuh emosi.

Namun, pria asal Spanyol itu tidak ingin larut dalam kesedihan. “Kami harus mengubah rasa sakit ini menjadi bahan bakar untuk masa depan,” tegasnya.

Dengan demikian, Arsenal masih harus memendam rasa penasaran mereka terhadap gelar juara Liga Champions. Mimpi itu belum menjadi kenyataan.

Paris dan Pupusnya Asa Arsenal

Sepanjang sejarah panjang klub, Arsenal belum pernah sekalipun mengangkat trofi Liga Champions. Dua kali mereka sudah sangat dekat dengan gelar juara, yaitu pada edisi 2006 dan kini 2026. Tetapi, kedua partisipasi di partai puncak itu sama-sama berakhir dengan kekalahan yang menyayat hati.

Jika pada tahun 2006 Arsenal dikalahkan Barcelona dengan skor 1-2 dalam final yang digelar di Paris, kini giliran klub jagoan Kota Mode yang menjadi batu sandungan mereka. Sejarah kelam pun terulang kembali.

“Saya sangat bangga dengan mereka sebenarnya. Para pemain telah memberi kami begitu banyak kegembiraan musim ini. Merupakan suatu kehormatan tersendiri bagi saya untuk mengelola kelompok pemain seperti ini, tim ini,” puji Arteta, mencoba menghibur diri.

“Ini baru kedua kalinya dalam sejarah kami mencapai final Liga Champions. Jadi kami perlu mengakui musim berat yang telah kami lalui bersama. Tetapi, untuk saat ini, tidak akan ada satu hal pun yang mampu menghilangkan rasa sakit yang kami rasakan,” tutup pelatih asal Spanyol itu, menjelaskan betapa dalamnya kekecewaan timnya.

Kesimpulannya, Arsenal musim ini layak mendapatkan aplaus untuk konsistensi mereka. Namun, sepak bola tetaplah keras. Piala tidak selalu pergi ke tim yang paling perkasa, tetapi kepada mereka yang mampu menahan gugup di momen krusial. Better luck next time, Gunners!

Dapatkan juga berita teknologi terbaru hanya di newtechclub.com