Exposenews.id – Di saat semua mata tertuju pada momen perpisahan, Mohamed Salah justru mencuri perhatian dengan sebuah pencapaian luar biasa! Pemain asal Mesir itu resmi mencatatkan namanya dengan tinta emas dalam sejarah kariernya bersama Liverpool di Liga Inggris. Bayangkan, ia berhasil melampaui rekor yang selama satu dekade lebih dipegang oleh sang legenda terbesar klub, Steven Gerrard, sebagai penyumbang assist terbanyak bagi klub di kompetisi domestik. Sungguh sebuah perpindahan tongkat estafet yang monumental!
DRAMA 90 MENIT YANG MENGHARUKAN
Nah, momen bersejarah bagi Mohamed Salah ini tercipta dalam sebuah laga yang penuh emosi. Pertandingan pekan pamungkas kompetisi Liga Inggris 2025-2026 mempertemukan Liverpool kontra Brentford di Stadion Anfield. Para penggemar yang memenuhi tribun tentu tidak menyangka akan menyaksikan sebuah rekor pecah di depan mata mereka sendiri. Dari posisinya yang khas di sisi kanan serangan, Salah dengan cerdik mengirimkan umpan matang yang kemudian dengan tenang dikonversi menjadi gol oleh Curtis Jones. Stadion pun bergemuruh! Namun, drama belum berakhir karena tim tamu kemudian bangkit dan berhasil menyamakan kedudukan menjadi 1-1. Meski hasil akhir imbang, satu torehan assist tersebut menjadi segalanya bagi pemain berusia 33 tahun itu.
MENEMBUS BATAS SEJARAH DAN MENYAMAI DENNIS BERGKAMP
Dengan tambahan satu assist tersebut, total koleksi Mohamed Salah di pentas Premier League kini mencapai 93 assist! Luar biasa, bukan? Capaian ini langsung menyejajarkan namanya dengan mantan dirigen Arsenal, Dennis Bergkamp, di urutan keenam daftar pencetak assist terbanyak sepanjang masa liga. Coba bayangkan perjalanannya: dari pemain yang sempat dianggap gagal di Chelsea, kini ia berdiri sejajar dengan salah satu pemain paling kreatif dalam sejarah Premier League. Sungguh sebuah narasi yang sulit dituliskan oleh skenario terbaik sekalipun!
KADO PERPISAHAN YANG TAK TERLUPAKAN
Satu assist berharga ini menjadi kado perpisahan yang begitu manis bagi sang pemain. Seperti yang sudah diketahui publik, pria berusia 33 tahun tersebut sebelumnya telah mengonfirmasi bahwa ia akan angkat kaki dari Merseyside Merah pada penghujung musim ini. Jadi, laga kontra Brentford menjadi penampilan terakhirnya di hadapan publik Anfield. Dan apa yang ia lakukan? Ia memberikan sebuah rekor! Ini bukan sekadar perpisahan biasa, melainkan sebuah pesta perpisahan yang dirayakan dengan ukiran sejarah. Sepanjang masa baktinya di Liverpool, ia mengemas total 257 gol di lintas kompetisi. Dengan jumlah segitu, posisinya kokoh bertengger di urutan ketiga top skor sepanjang masa klub, hanya di bawah dua nama legendaris: Ian Rush dan Roger Hunt. Sungguh warisan yang akan dikenang selama-lamanya oleh The Kop.
KEGALAUAN DI BALIK REKOR MANIS
Akan tetapi, jangan bayangkan suasana ruang ganti Liverpool sedang berpesta pora. Meski diwarnai pemecahan rekor individu dan juga momen perpisahan untuk Andrew Robertson, kubu tuan rumah sama sekali tidak bisa menutupi kekecewaan mereka. Apa penyebabnya? Penurunan performa tim secara keseluruhan menjadi biang utama rasa frustrasi ini. Hasil imbang di laga penutup tersebut membuat tim asuhan Jurgen Klopp harus finis dengan koleksi 60 poin. Tahukah Anda seberapa rendah angka itu? Ini merupakan catatan poin terendah bagi sebuah tim yang berhasil mengamankan tiket kelolosan menuju Liga Champions! Ironis memang. Mereka lolos ke kompetisi elite Eropa, tapi dengan performa yang jauh dari kata meyakinkan.
VAN DIJK BUKA-BUKUAN: “TAHUN TERBERAT DALAM KARIER SAYA!”
Kapten tim, Virgil van Dijk, sama sekali tidak menyembunyikan rasa frustrasinya atas jalannya kampanye musim ini. Dalam wawancara pascapertandingan yang penuh emosi, bek tengah asal Belanda itu berbicara terus terang. Menurutnya, keberhasilan mengamankan posisi empat besar merupakan satu-satunya hal yang patut disyukuri dari periode sulit yang harus mereka lalui. “Itulah satu-satunya hal positif. Minimal yang harus kita coba dapatkan dari musim yang buruk ini,” ujar Van Dijk dengan nada datar namun penuh makna saat dikutip dari ESPN. Ia kemudian menambahkan, “Sekarang kita akan mengucapkan selamat tinggal kepada para legenda klub dan fokus kita saat ini adalah pada hal itu. Terus maju dan berkembang.”
BEBAN MENTAL YANG LUAR BIASA BERAT
Lebih lanjut, Van Dijk mengakui bahwa dinamika kompetisi tahun ini memberikan tekanan mental yang sangat berat. Bukan hanya bagi dirinya sendiri, tetapi bagi keutuhan skuad baik di dalam maupun di luar lapangan hijau. Pengakuan dari seorang pemain sekaliber Van Dijk ini tentu tidak bisa dianggap remeh. “Ini adalah tahun paling menantang dalam karier saya. Sulit untuk menerimanya, sulit untuk melewatinya sebagai sebuah tim,” ungkapnya dengan jujur. Namun, sebagai seorang pemimpin, ia tidak lantas menyerah pada keadaan. Dengan penuh keyakinan ia menegaskan, “Tapi kami adalah Liverpool. Kami selalu keluar dari situasi ini dengan lebih kuat.” Kalimat penutup yang memperlihatkan tulang punggung mental sebuah klub raksasa.
Jadi, itulah gambaran utuh malam yang penuh dengan kontradiksi di Anfield: ada kegembiraan karena rekor individu Salah yang fenomenal, tetapi juga ada kesedihan karena performa tim yang di bawah standar. Satu hal yang pasti, musim 2025-2026 akan selalu diingat sebagai musim di mana seekor Firaun berjalan melewati bayang-bayang seorang pangeran merah, namun kastilnya sendiri sedang tidak dalam kondisi terbaiknya.
Dapatkan juga berita teknologi terbaru hanya di newtechclub.com
