Berita  

Memahami OPEC dan OPEC+, Lalu Kenapa UEA Mengundurkan Diri?

Exposenews.id – Dunia energi internasional sontak berguncang! Uni Emirat Arab (UEA) secara mengejutkan mengumumkan keputusan mundurnya dari Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC) sekaligus aliansi memperluasnya, OPEC+. Langkah dramatis ini benar-benar mengguncang salah satu blok paling dominan dalam industri energi global hingga ke akar-akarnya.

Keputusan kontroversial itu pun disampaikan di saat ketegangan Amerika Serikat melawan Iran mencapai puncaknya. Seperti kita tahu, konflik tersebut telah memicu guncangan dahsyat di pasar energi dunia. Akibatnya, distribusi minyak pun terganggu, sementara harga global melonjak tak terkendali.

Pemerintah UEA dengan tegas menyatakan bahwa langkah mundur ini diambil untuk memprioritaskan “kepentingan nasional” mereka. Selain itu, mereka juga ingin menyesuaikan strategi energi jangka panjang negara tersebut. Perlu diingat, negara Teluk ini dikenal sebagai salah satu raksasa produsen minyak dengan kapasitas mencapai sekitar 4,8 juta barel per hari. Sungguh angka yang fantastis!

Apa Sih OPEC Itu? Simak Penjelasan Singkatnya!

Sebelum kita mendalami lebih jauh, yuk pahami dulu apa itu OPEC. Jadi, Organization of the Petroleum Exporting Countries (OPEC) didirikan pada tahun 1960 di Baghdad. Kelima pendirinya adalah Iran, Irak, Kuwait, Arab Saudi, dan Venezuela. Mereka bersatu untuk melawan dominasi perusahaan-perusahaan minyak besar Barat.

Organisasi yang berkantor pusat di Wina, Austria, ini dibentuk dengan tujuan mulia. Mereka ingin menyatukan kebijakan minyak antarnegara anggota. Lebih dari itu, OPEC juga bertugas menjaga stabilitas harga minyak dunia agar tidak fluktuatif.

Pada masa awal berdirinya, pasar minyak global sepenuhnya dikuasai perusahaan-perusahaan Barat raksasa yang populer dengan sebutan “Seven Sisters”. Karena itu, kehadiran OPEC menjadi angin segar. Organisasi ini pun memberi kendali lebih besar kepada negara-negara produsen atas sumber daya alam mereka sendiri. Akhirnya, mereka tidak lagi sekadar menjadi objek eksploitasi.

Saat ini, OPEC tercatat memiliki 12 anggota. Daftarnya meliputi Arab Saudi, Iran, Irak, Kuwait, Libya, Nigeria, dan sebelumnya UEA sebelum resmi keluar. Secara kolektif, OPEC mampu mengatur sekitar 30 persen pasokan minyak dunia. Caranya? Melalui kesepakatan kuota produksi yang diikat secara ketat antaranggota.

Lalu, Apa Bedanya dengan OPEC+? Jangan Tertukar!

Nah, sekarang kita bahas OPEC+. Aliansi ini sebenarnya merupakan perluasan kerja sama dari OPEC biasa. OPEC+ baru dibentuk pada tahun 2016 dengan melibatkan negara-negara produsen minyak di luar OPEC. Siapa saja mereka? Ada Rusia, Kazakhstan, Meksiko, dan beberapa negara lainnya.

Apa tujuan utama dibentuknya OPEC+? Jelas, mereka ingin mengoordinasikan produksi minyak secara lebih luas. Tujuannya tetap sama, yaitu menjaga stabilitas harga global agar tidak merugikan produsen maupun konsumen. Saat ini, kelompok besar ini menguasai lebih dari 40 persen produksi minyak dunia. Bayangkan, hampir setengah pasokan global ada di tangan mereka!

Mengapa UEA Tiba-tiba Keluar? Ini Faktor X-nya!

Pertanyaan paling panas sekarang: mengapa UEA mengambil keputusan nekat ini? Pemerintah UEA menegaskan bahwa langkah keluar dari OPEC dan OPEC+ merupakan hasil evaluasi menyeluruh. Mereka mengkaji ulang strategi energi nasional serta kapasitas produksi masa depan. Tidak ada yang dilakukan tanpa perhitungan matang.

Pemerintah UEA pun dengan lantang menegaskan bahwa langkah ini mencerminkan arah kebijakan energi jangka panjang yang lebih fleksibel. Kebijakan baru itu juga dinilai lebih sesuai dengan kebutuhan ekonomi domestik mereka yang terus berkembang pesat. UEA tidak ingin lagi terkurung dalam aturan yang mengikat.

Menurut sejumlah analis energi terkemuka, UEA selama ini memiliki kapasitas produksi yang sangat besar. Namun, sayangnya mereka terikat oleh kuota ketat OPEC. Akibatnya, ruang ekspansi mereka pun menjadi terbatas. Rasa frustrasi karena tidak bisa memaksimalkan potensi pun akhirnya memuncak.

Selain itu, perbedaan pandangan dengan Arab Saudi dan beberapa anggota lain juga disebut-sebut sebagai sumber ketegangan internal. Seringkali, kebijakan produksi yang ditetapkan justru tidak berpihak pada kepentingan UEA. Ketidaksepakatan yang terus berulang inilah yang akhirnya menjadi pemicu utama kepergian mereka.

Di sisi lain, UEA diketahui sedang gencar memperluas pengaruh ekonomi dan diplomatiknya. Mereka ingin tampil lebih independen di kawasan Timur Tengah, hingga merambah ke Afrika. Bahkan, mereka pun gencar menjalin hubungan strategis dengan Amerika Serikat dan Israel. Keluar dari OPEC adalah bagian dari strategi besar itu.

Dampak Besar: OPEC++? Arab Saudi Kini Pusing Tujuh Keliling!

Keluarnya UEA ini dinilai bakal mengurangi kekompakan OPEC secara signifikan. Akibatnya, kemampuan organisasi dalam mengendalikan pasokan minyak global pun diprediksi akan melemah. OPEC tidak lagi sekuat dulu. Arab Saudi, sebagai pemimpin de facto OPEC, diperkirakan akan memikul beban yang jauh lebih besar. Mereka harus berjuang ekstra menjaga stabilitas harga minyak dunia sendirian.

Perlu kita cermati, langkah mengejutkan ini juga terjadi di tengah situasi krisis energi global yang sudah parah. Perang AS versus Iran telah mengganggu jalur pelayaran penting seperti Selat Hormuz. Padahal, selat tersebut merupakan jalur distribusi utama minyak dunia. Gangguan di sana otomatis membuat harga minyak berpotensi melambung tinggi.

Terakhir, penting untuk diingat bahwa UEA bukanlah negara pertama yang hengkang dari OPEC. Sebelumnya, Qatar, Angola, Ekuador, dan bahkan Indonesia juga pernah mengambil langkah serupa. Umumnya, penyebabnya sama, yaitu perbedaan kuota produksi atau kepentingan ekonomi nasional yang sudah tidak sejalan. Jadi, sejarah pun kembali terulang.

Dapatkan juga berita teknologi terbaru hanya di newtechclub.com