Exposenews.id – Baru-baru ini, dunia sepak bola benar-benar dihebohkan oleh badai protes besar-besaran yang meledak tepat di depan pintu kantor FIFA. Publik melontarkan kritik pedas terhadap keputusan federasi tertinggi sepak bola dunia itu setelah mereka dengan berani memberikan penghargaan bergengsi kepada Presiden Amerika Serikat, Donald Trump. Sorotan tajam pun langsung mengarah ke ruang kekuasaan FIFA!
Lantas, siapa aktor utama di balik gelombang kemarahan ini? Dialah Lise Klaveness, Presiden Asosiasi Sepak Bola Norwegia (NFF), yang secara frontal mendesak FIFA supaya secepatnya mencabut dan menghapuskan Hadiah Perdamaian FIFA. Menurut pandangannya yang sangat tegas, pemberian gelar istimewa kepada figur kontroversial seperti Donald Trump telah mencoreng dan merusak martabat organisasi olahraga tersebut. Ia meyakini bahwa keputusan ini menandai intervensi politik praktis yang merusak nilai-nilai luhur sepak bola.
Perlu kita ingat bersama, keputusan kontroversial ini pertama kali diambil oleh Gianni Infantino selaku Presiden FIFA. Ia dengan megah memberikan penghargaan perdana semacam itu pada bulan Desember lalu, tepat saat pengundian Piala Dunia 2026 berlangsung. Namun sayangnya, langkah megah ini malah memicu kontroversi global yang tak terduga. Banyak pihak kemudian menilai bahwa tindakan Infantino tidak lebih dari sekadar upaya memberikan “hadiah hiburan” semata. Ironisnya, hadiah ini diberikan kepada Donald Trump yang dalam berbagai kesempatan sering mengklaim dirinya sangat layak mendapatkan Hadiah Nobel Perdamaian!
Dengan lantang, Lise Klaveness kemudian menegaskan bahwa pembentukan penghargaan aneh ini sama sekali tidak memiliki landasan hukum yang kuat di dalam internal federasi. Ia bahkan mengungkap fakta mengejutkan yang sebelumnya tersembunyi. Federasi sepak bola Norwegia secara resmi mempertanyakan legitimasi penghargaan tersebut, dan mereka tidak tinggal diam. Mereka kini menuntut komite etik untuk bergerak cepat melakukan investigasi mendalam terhadap kebijakan Gianni Infantino yang dianggap nekat.
“Tentu saja dong! Kami mengkritik habis-habisan pembentukannya. Penghargaan itu sama sekali nggak punya dasar dalam Kongres FIFA,” ujar Klaveness dengan tegas saat dikutip dari Give Me Sport, Selasa (28/4/2026). Ia menjelaskan panjang lebar bahwa penghargaan tersebut jelas-jelas tidak memiliki legitimasi. “Penghargaan itu nggak punya legitimasi, dan dengan jelas berada di luar mandat FIFA. Sungguh sangat serius bahwa penghargaan politik macam ini diperkenalkan begitu saja tanpa dasar apa pun,” tambahnya lagi.
Lebih lanjut, Klaveness mengungkapkan bahwa dewan direksi NFF telah mengadakan rapat khusus. Mereka dengan bulat sepakat untuk membawa masalah panas ini ke ranah hukum internal organisasi. “Kami sudah membahas hal itu dalam rapat dewan. Kami terus menilainya sedemikian rupa sehingga kami pasti akan mendukung langkah ini. Selanjutnya, kami akan segera mengirimkan surat resmi kepada FIFA dan meminta komite etik untuk segera mempertimbangkan pengaduan ini,” lanjutnya dengan penuh semangat.
Tekanan Mengerikan Juga Datang dari Kelompok Hak Asasi Manusia!
Tidak hanya dari pihak Norwegia saja, kelompok kampanye hak asasi manusia bernama FairSquare ikut angkat bicara. Mereka dengan cepat melayangkan surat pengaduan resmi yang sangat keras. Mereka menuduh bahwa telah terjadi pelanggaran nyata terhadap aturan netralitas yang selama ini dijunjung tinggi oleh badan sepak bola tersebut. Dalam suratnya yang menohok, FairSquare menyatakan dengan gamblang: “Pemberian penghargaan macam ini kepada seorang pemimpin politik yang sedang menjabat, dengan sendirinya, merupakan pelanggaran nyata terhadap kewajiban netralitas FIFA.”
Mereka juga menambahkan bahwa Presiden FIFA tidak memiliki wewenang sedikit pun untuk secara sepihak mendikte misi, arah strategis, kebijakan, dan bahkan nilai-nilai organisasi. Sungguh sebuah pernyataan yang sangat menghantam jantung kekuasaan FIFA!
Sementara Itu, Gianni Infantino Bersikeras Membela Diri!
Meskipun tekanan datang silih berganti dari berbagai sudut yang berbeda, Gianni Infantino tetap berpegang teguh pada pendiriannya. Ia dengan percaya diri membela keputusan kontroversialnya untuk menghargai kontribusi presiden Amerika Serikat tersebut. Menurut penilaiannya yang subjektif, segala upaya sekecil apa pun untuk membantu perdamaian dunia layak mendapatkan apresiasi. Ia sama sekali tidak peduli dengan reaksi keras publik yang meledak di mana-mana.
“Apa pun yang dapat kita lakukan untuk membantu perdamaian di dunia, kita harus melakukannya. Karena alasan inilah, untuk beberapa waktu kami memikirkan apakah kami harus melakukan sesuatu untuk memberi penghargaan kepada orang-orang yang melakukan sesuatu,” terang Infantino dalam keterangannya beberapa waktu lalu. Sayangnya, pernyataan ini justru semakin memicu kemarahan banyak pihak.
Jadi, apakah FIFA akan bertahan dengan keputusan gilanya ini? Ataukah tekanan dari Norwegia dan kelompok HAM akan memaksa mereka mundur? Satu yang pasti, dunia sepak bola sedang tidak baik-baik saja!
Dapatkan juga berita teknologi terbaru hanya di newtechclub.com
